JAKARTA, (ERAKINI) - Masjid Al-Azhar di Kairo, Mesir, adalah salah satu simbol penting peradaban Islam yang tak lepas dari peristiwa sejarah di bulan Ramadan. Masjid Al-Azhar mulai dibangun pada 14 Ramadan 359 H (4 April 970) dan selesai dua tahun.
Masjid kemudian berkembang menjadi pusat pendidikan Islam yang melahirkan Universitas Al-Azhar, salah satu perguruan tinggi Islam tertua di dunia.
Pada 7 Ramadan 361 Hijriah (972 M), untuk pertama kalinya shalat Jumat dilaksanakan di Masjid Al-Azhar. Peristiwa ini menandai awal peran masjid tersebut sebagai pusat ibadah sekaligus pusat keilmuan Islam.
Didirikan pada masa Dinasti Fatimiyah, Masjid Al-Azhar berkembang menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam paling berpengaruh di dunia. Dari tempat ini lahir ribuan ulama dan cendekiawan Muslim yang menyebarkan ilmu serta nilai-nilai moderasi Islam ke berbagai negara.
Selama lebih dari seribu tahun, Al-Azhar telah menjadi benteng ilmu pengetahuan agama sekaligus mercusuar moderasi Islam. Puluhan ribu mahasiswa dari berbagai negara datang untuk menimba ilmu dari para ulama Al-Azhar sebelum kembali ke tanah air masing-masing sebagai penyebar dakwah Islam yang damai dan toleran.
Masjid Al-Azhar tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pengajaran berbagai disiplin ilmu keislaman.
Sejumlah ulama besar dunia Islam pernah dikaitkan dengan tradisi intelektual Al-Azhar, di antaranya Ibnu Khaldun, Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Sakhawi, Ibnu Taghri Bardi, dan al-Qalqashandi.
Hingga saat ini, sudah ada 48 ulama yang menduduki jabatan tertinggi sebagai Grand Syekh Al-Azhar. Imam al-Kharasyi tercatat sebagai Grand Syekh pertama, dan saat ini diemban oleh Syekh Ahmad at-Tayeb.
Syekh Ahmad at-Tayeb, pernah menyatakan bahwa tanggal 7 Ramadan memiliki makna khusus bagi keluarga besar Al-Azhar.
“Tanggal 7 Ramadan setiap tahun akan menjadi kenangan indah di hati saya dan hati setiap Azhari dan muslim. Pada hari itulah shalat Jumat pertama dilaksanakan di Masjid Al-Azhar pada tahun 361 H,” ujarnya.
Awal Pembangunan Masjid Al-Azhar
Masjid Al-Azhar dibangun pada masa Dinasti Fatimiyah atas perintah Khalifah al-Muiz lidinillah. Pelaksanaan pembangunan dipercayakan kepada panglima militernya yang terkenal, Jauhar ash-Shaqili, yang juga dikenal sebagai pendiri Kota Kairo.
Peletakan batu pertama masjid dilakukan pada 14 Ramadan 359 H atau 4 April 970 M. Proses pembangunan memakan waktu sekitar dua tahun hingga akhirnya selesai pada 7 Ramadan 361 H atau 972 M.
Pada awal berdirinya, masjid ini bernama Jami’ al-Qahirah, mengikuti nama ibu kota baru Dinasti Fathimiyah. Arsitekturnya berbentuk bangunan dengan halaman terbuka di tengah, terinspirasi dari desain Masjidil Haram di Makkah.
Di dalamnya terdapat beberapa ruang yang disebut ruwaq, yaitu ruangan yang digunakan untuk kegiatan belajar sekaligus tempat tinggal para pelajar. Ruwaq terbesar dikenal dengan nama Ruwaq al-Qiblah.
Nama Al-Azhar kemudian menjadi sebutan populer bagi masjid tersebut. Sebagian sejarawan menyebut nama ini diambil dari Sayidah Fatimah az-Zahra, putri Nabi Muhammad SAW yang menjadi leluhur Dinasti Fathimiyah. Kata “Azhar” sendiri berarti bercahaya atau bersinar.
Berkembang Menjadi Kampus
Pada tahun 378 H atau 988 M, Khalifah al-Aziz Billah menjadikan Masjid Al-Azhar sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan berbagai ilmu keislaman. Pada masa awal, pengajaran di Al-Azhar juga digunakan untuk menyebarkan paham Syiah Ismailiyah yang dianut oleh Dinasti Fathimiyah.
Kegiatan pengajaran Islam di masjid ini dipimpin oleh Qadhi al-Qudhat Abul Hasan Ali bin Nu’man al-Qairawani yang mengajarkan fikih Syiah melalui kitab Mukhtashar.
Seiring waktu, Al-Azhar berkembang menjadi pusat keilmuan Islam yang menarik pelajar dari berbagai wilayah Afrika, Asia, hingga dunia Islam lainnya.
Masjid Al-Azhar kini memiliki luas sekitar 12 ribu meter persegi dan ditopang oleh lebih dari 380 tiang marmer. Menariknya, sebagian mahkota tiang tersebut berasal dari bangunan kuno Mesir.
Sempat Ditutup pada Masa Dinasti Ayyubiyah
Perjalanan Al-Azhar sempat mengalami masa sulit ketika Dinasti Fathimiyah runtuh pada 1171 M setelah dikalahkan oleh Shalahuddin al-Ayubi.
Sebagai penguasa baru dari Dinasti Ayyubiyah, Shalahuddin menolak keras ajaran Syiah Ismailiyah yang sebelumnya diajarkan di Al-Azhar. Akibatnya, aktivitas keagamaan di masjid tersebut dihentikan.
Shalahuddin melarang pelaksanaan shalat berjamaah dan khutbah di Masjid Al-Azhar karena tempat itu saat itu dianggap sebagai simbol kekuasaan dan ajaran Syiah Ismailiyah.
Larangan tersebut berlangsung hampir satu abad. Baru pada 17 Desember 1267 M, shalat Jumat kembali dilaksanakan di Masjid Al-Azhar pada masa pemerintahan Sultan az-Zahir Baibars dari Dinasti Mamluk.
Dukungan Dana Wakaf
Keberlangsungan Al-Azhar juga tidak terlepas dari dukungan dana wakaf. Para khalifah Dinasti Fathimiyah sejak awal menyadari pentingnya sumber dana abadi untuk menjaga kelangsungan lembaga pendidikan tersebut.
Pelopor wakaf bagi Al-Azhar adalah Khalifah al-Hakim bi Amrillah. Tradisi wakaf ini kemudian dilanjutkan oleh para khalifah berikutnya serta para dermawan dari berbagai wilayah dunia Islam.
Melalui dana wakaf tersebut, Al-Azhar mampu menyediakan beasiswa bagi mahasiswa, membangun asrama, serta mengirim para ulama ke berbagai penjuru dunia untuk berdakwah.
Berkat dukungan tersebut, Al-Azhar mampu bertahan lebih dari seribu tahun dan tetap menjadi salah satu pusat keilmuan Islam paling berpengaruh di dunia hingga saat ini.