Search

6 Wajib Haji yang Boleh Diganti Dam dalam Kondisi Tertentu, Apa Saja?

JAKARTA, (ERAKINI) - Selain syarat dan rukun haji, Islam mengatur pelaksanaan ibadah haji melalui 6 wajib haji. Berbeda dengan rukun haji, wajib haji boleh diganti dengan membayar dam apabila jemaah dihadapkan dengan situasi dan kondisi tertentu. Dengan demikian, meninggalkan wajib haji tidak membatalkan haji. 

Wajib haji terdiri atas tujuh perkara. Pertama, ihram dari miqat. Ihram wajib dilakukan dari miqat, yakni tempat yang telah ditentukan untuk memulai ihram. Miqat terbagi menjadi dua, yaitu miqat zamani dan miqat makani. Miqat zamani merupakan batasan waktu pelaksanaan haji dan umrah, sedangkan miqat makani adalah tempat yang ditetapkan untuk pertama kali memulai ihram.

Kedua, mabit di Muzdalifah. Jamaah haji wajib bermalam atau setidaknya singgah di Muzdalifah pada malam 10 Dzulhijjah setelah melaksanakan wukuf di Arafah.

Ketiga, melontar Jumrah Aqabah. Amalan ini dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah atau hari Nahr dengan melontar tujuh batu kerikil ke arah Jumrah Aqabah. Prosesi ini dimaknai sebagai simbol perlawanan terhadap godaan setan.

Keempat, melontar tiga jumrah pada hari-hari tasyrik, yakni tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Jamaah melontar Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah sesuai urutan yang telah ditetapkan.

Kelima, mabit di Mina. Jamaah diwajibkan menginap di Mina pada malam-malam hari tasyrik sebagai bagian dari rangkaian ibadah haji.

Keenam, melaksanakan thawaf wada. Thawaf wada merupakan thawaf perpisahan yang dilakukan sebelum jamaah meninggalkan Kota Makkah setelah seluruh rangkaian ibadah haji selesai dilaksanakan.

Demikian uraian tentang wajib haji yang dapat dipedomani oleh jemaah haji Indonesia. Meski dapat diganti dengan membayar dam, umat Islam dianjurkan tetap mengupayakan agar wajib haji tersebut dapat ditunaikan dengan penuh. Wallahua’lam.