Sosok Usamah bin Zaid, Panglima Muda yang Diutus Nabi Menemui Pemimpin Rum
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Kisah Rasulullah SAW mengutus Usamah bin Zaid untuk memimpin pasukan menuju wilayah kekuasaan Romawi Timur (Byzantium) terjadi pada tahun ke-11 Hijriah atau beberapa hari sebelum wafatnya Nabi. Peristiwa itu berlangsung pada bulan Safar, ketika Usamah masih berusia belasan tahun.
Dikutip dari NU Online pada Kamis, (14/8/2025), Usamah merupakan sahabat yang memiliki hubungan personal dekat dengan Nabi Muhammad. Ayahnya, Zaid bin Harits, adalah mantan pelayan yang kemudian diangkat Nabi sebagai anak angkat. Ibunya, Ummu Aiman, pernah menjadi budak peninggalan ayah Nabi, Abdullah bin Abdul Muthalib. Nabi menghormati Ummu Aiman seperti ibu kandungnya sendiri.
Usamah tumbuh di Makkah dalam lingkungan rumah tangga Nabi. Sejak kecil, ia telah mengenal Islam. Nabi kerap memangkunya bersama cucu-cucu beliau, Hasan dan Husain, bahkan mendoakan mereka agar selalu mendapat kasih sayang dan cinta Allah.
Kasih sayang Nabi juga terlihat ketika Usamah terluka di kening. Rasulullah membersihkan darah dari lukanya hingga Usamah merasa lega. Pada peristiwa haji wada, Nabi menunda tawaf ifadah demi menunggu Usamah datang dan memintanya naik ke unta beliau. Hal ini jelas membuat sebagian orang Yaman yang menyaksikan terheran-heran.
Sebagai manusia biasa, Nabi juga pernah menegur keras Usamah. Dalam sebuah pertempuran, Usamah membunuh seorang lelaki musyrik yang telah mengucapkan syahadat. Rasulullah berulang kali menegaskan bahwa siapa pun yang telah mengucapkan syahadat tidak boleh dibunuh, hingga membuat Usamah diliputi rasa bersalah.
















