Asyura dan Tradisi Tolak Bala dalam Islam
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram (suci) yang dimuliakan oleh Allah SWT. Dalam bulan ini, terjadi sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Islam, salah satunya adalah wafatnya Sayyidina Husein, cucu Rasulullah SAW, dalam tragedi di Padang Karbala.
Selain nilai historisnya, Muharram juga diyakini sebagai bulan penuh keberkahan. Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah karena pahala akan dilipatgandakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, di sisi lain, perbuatan maksiat juga akan diganjar dosa yang berlipat.
Sebagai respons atas keutamaan bulan Muharram, masyarakat Muslim di berbagai daerah di Indonesia menyelenggarakan beragam tradisi yang sarat makna spiritual dan kultural. Tradisi tersebut sekaligus menjadi bentuk permohonan perlindungan dari bencana, atau yang dikenal dengan istilah "tolak bala".
Dalam Jurnal Landasan Teologi dalam Tradisi Asyura Masyarakat Syiah di Desa Pasirhalang yang dikutip Senin (6/7/2025), peneliti Defani Mauludi Dwi Putra menjelaskan bahwa ekspresi masyarakat terhadap 10 Muharram (Hari Asyura) dapat dibagi ke dalam dua kelompok.
Kelompok pertama memaknai Asyura sebagai hari keberuntungan dan berkah. Mereka menyambutnya dengan belanja kebutuhan pokok dan menyelenggarakan acara kebudayaan. Salah satu tradisi yang berkembang adalah pesta bubur jepe suro (bubur Muharram) di Takalar, Sulawesi Selatan. Tradisi ini dipercaya dapat menarik rezeki yang berlimpah. (Hersapandi, 2005).
Sementara itu, kalangan Syiah memaknai Muharram sebagai bulan berkabung atas syahidnya Imam Husein. Ekspresi kesedihan itu diwujudkan dalam bentuk ritual doa dan permohonan perlindungan kepada Allah SWT dari segala bencana.


















