Makam Datuk Ri Bandang, ulama besar penyebar agama Islam di Sulawesi Selatan asal Tanah Minang. (Foto: Istimewa)
JAKARTA, (ERAKINI) - Islam di Sulawesi Selatan sudah menyebar sejak berabad-abad lalu. Satu sosok yang memberi kontribusi besar dalam penyebaran agama Islam di wilayah Sulawesi Selatan adalah nama "Datuk Ri Bandang". Ia adalah salah seorang dari tiga datuk yang berhasil mengislamkan sejumlah Kerajaan Islam di Bumi Sulawesi.
Bersama dua orang rekannya, yakni Datuk Ri Tiro dan Datuk Sulaiman, Datuk ri Bandang berperan dalam melakukan islamisasi di banyak kerajaan di Sulsel. Kerajaan itu antara lain Kerajaan Gowa, Kerajaan Tallo, Kerajaan Luwu hingga Kerajaan Gantarang di Bulukumba. Tak hanya itu, Datuk Ri Bandang juga turut serta dalam upaya menyebar Islam di Kerajaan Kutai di Kalimantan hingga Kerajaan Bima di Nusa Tenggara.
Mengutip dari Jurnal UIN Alauddin Makassar yang berjudul "Peranan Datuk Ri Bandang dalam Penyebaran Islam di Kerajaan Gowa Tahun 1605-1611 M", Datuk Ri Bandang adalah seorang ulama besar penyebar Islam di Sulawesi Selatan. Ia adalah ulama yang berasal dari Koto Tangah, Minangkabau.
Nama aslinya adalah Abdul Makmur dan memiliki gelar sebagai Khatib Tunggal. Datuk Ri Bandang sendiri merupakan murid dari Sunan Giri, seorang wali dari Jawa Timur.
Datuk Ri Bandang dan dua rekannya, Datuk Ri Tiro dan Datuk Sulaiman diutus oleh Sunan Giri untuk melakukan strategi dakwah sebagai bentuk penyebaran agama Islam di Sulawesi Selatan.
Datuk Ri Bandang, yang merupakan seorang ahli fikih berdakwah di wilayah tengah yaitu di Kerajaan Gowa dan Tallo (Gowa, Takalar, Jeneponto dan Bantaeng). Berkat jasa-jasanya, agama Islam berkembang sangat cepat di kalangan masyarakat Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan.
Sebelum menjadi tokoh sentral dalam pengislaman beberapa daerah di Indonesia Timur, Datuk ri Bandang adalah santri Sunan Giri. Bersama dua ulama lainnya, yakni Datuk Sulaiman dan Datuk ri Tiro, Datuk ri Bandang meninggalkan Minangkabau menuju Riau, kemudian menyeberang ke Johor.
Di Riau, mereka belajar mengenai budaya masyarakat Sulawesi Selatan dari para pelaut Bugis-Makassar. Selanjutnya, Datuk ri Bandang singgah dan berguru kepada Wali Songo, khususnya Sunan Giri, di Tanah Jawa. Hal ini tercatat dalam Panambo Lombok, yang juga didukung oleh keterangan dalam Lontara Wajo, bahwa Datuk ri Bandang adalah jejaring Sunan Giri yang menyebarkan Islam di tanah Makassar.
Bahkan di dalam Babad Lombok disebutkan bahwa Datuk ri Bandang mempunyai hubungan kerabat dengan Sunan Giri. Graaf dan Pigeaud juga menuliskan bahwa Datuk ri Bandang mempunyai hubungan kerabat dengan Dinasti Giri, mungkin karena perkawinan.
Dibanding daerah-daerah lain di Indonesia, kedatangan Islam di Sulawesi Selatan dinilai agak terlambat, yakni pada akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17. Hal ini karena Kerajaan Gowa baru dikenal sebagai kerajaan berpengaruh dan menjadi kerajaan dagang pada masa itu.
Dalam kurun waktu tersebut, para pedagang muslim dari berbagai daerah dan pedagang asing dari Eropa mulai berdatangan ke wilayah ini. Terlepas dari kegiatan perniagaan, para pedagang mempunyai misi keagamaan dan terbagi menjadi dua kelompok.
Pedagang dari Belanda, Spanyol dan Portugis menyebarkan ajaran agama Kristen. Sedangkan pedagang-pedagang yang datang dari Gujarat, Persi, Arab dan Melayu menyebarkan ajaran Islam.
Meskipun para pedagang Islam telah lama berada di wilayah kerajaan Gowa, tetapi ajarannya belum terlalu dikenal oleh masyarakat. Sementara itu, ajaran Kristen berkembang lebih cepat.
Melihat perkembangan ajaran Kristen, membuat orang-orang Islam lainnya khawatir dan sepakat untuk mendatangkan Panrita Pakihi (muballigh). Inilah yang menjadi awal pengembaraan Datuk Ri Bandang, Datuk Sulaiman, dan Datuk Ri Tiro mulai menyebarkan Islam di Sulawesi Selatan.
Mengutip Agussalim dalam bukunya “Prasejarah-Kemerdekaan di Sulawesi Selatan”, terdapat perbedaan pendapat terkait datangnya Datuk ri Bandang di Sulawesi.
Sebagian berargumen bahwa kedatangannya adalah atas permintaan komunitas Melayu di Somba Opu kepada Ratu Aceh. Sementara sebagian lainnya berpendapat bahwa Datuk ri Bandang datang ke Sulawesi karena diutus oleh Sunan Giri. Terlepas dari perbedaan tersebut, Datuk ri Bandang diyakini pertama kali tiba di Kota Makassar bersama dua ulama lain pada pengujung abad ke-16 atau awal abad ke-17.
Kala itu, penganut Islam memang telah ada di Sulawesi Selatan akibat kedatangan para pedagang Muslim. Tetapi, mereka juga tengah bersaing dengan umat Kristen untuk memperoleh pengaruh di lingkungan istana Kerajaan Gowa, Suppa, dan Siang.
Datuk ri Bandang, yang kompeten di bidang ilmu fikih, kemudian pergi ke daerah-daerah Makassar dan Bugis, khususnya Kerajaan Gowa-Tallo. Hal ini karena warga di wilayah tersebut masih gemar berjudi, sabung ayam, mabuk-mabukan, berzina, dan gemar membungakan uang (rentenir).
Hasilnya, dakwah Datuk Ri Bandang berhasil mengajak Raja Gowa-Tallo memeluk Islam pada 1605 Masehi. Kala itu, Raja I Malingkang Daeng Manyonri Karaeng Karangka mengucap dua kalimat syahadat sebagai bukti komitmennya terhadap Islam. Pasca memeluk Islam, raja mengganti namanya menjadi Sultan Alauddin I dan Islam secara resmi menjadi agama kerajaan pada 1607.
Untuk kepentingan dakwah, Datuk ri Bandang memohon kepada sultan agar dibangunkan masjid di Kaluku Bodoa. Setelah Kerajaan Gowa-Tallo resmi memeluk Islam, sultannya kemudian mengirim seruan kepada raja-raja di Sulawesi Selatan agar menerima Islam.
Datuk Ri Bandang wafat dan dimakamkan di wilayah Tallo. Makamnya terletak di Utara Kota Makassar, tepatnya di Jalan Sinassara, Kelurahan Kaluku Bodoa, Kecamatan Tallo, Kota Makassar.
Ia dimakamkan di kompleks pemakaman tersebut bersama 61 makam pengikutnya. Makam Datuk ri Bandang ini pun ramai dikunjungi peziarah saat sepekan jelang Ramadan dan lebaran.
Untuk mengenang jasa besar ulamaDatuk ri bandang, berdiri sebuah Yayasan Pesantren Islam Datuk Ri Bandang yang terletak berdekatan dengan kompleks makam Datuk ri Bandang. Di Kecamatan Tallo, namanya digunakan sebagai nama jalan. Yakni Jalan Datuk Ribandang, Jalan Datuk Ribandang I, Jalan Datuk Ribandang II, Jalan Datuk Ribandang III, hingga Jalan Datuk Ribandang IV.