Ilustrasi Kisah Nabi Hud (Foto: Pesantren Tebu Ireng, Jombang)
JAKARTA, (ERAKINI) - Nabi Hud AS merupakan nabi keempat dari 25 nabi dan rasul yang diutus Allah SWT untuk menyampaikan wahyu kepada umat manusia. Beliau berasal dari bangsa Arab, tepatnya dari kaum 'Ad, yang hidup di wilayah Al-Ahqaf, kawasan yang berada di antara Oman dan Yaman, atau di sebelah utara Hadramaut.
Dilansir dari artikel keislaman yang tayang di situs resmi Perguruan Islam Al Amjad, Rabu (5/8/2026), sejak kecil, Nabi Hud AS dikenal memiliki akhlak yang mulia. Beliau dikenal jujur, amanah, rajin bekerja, serta memiliki sikap ramah dan bijaksana dalam bergaul. Kisah perjalanan hidup dan dakwah Nabi Hud AS banyak diceritakan dalam Al-Qur'an.
Bahkan, namanya diabadikan sebagai nama surat ke-11, yakni Surah Hud. Allah SWT berfirman dalam Surah Hud ayat 50: "Dan kepada kaum 'Aad (Kami utus) saudara mereka, Hud. Dia berkata, 'Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. (Selama ini) kamu hanyalah mengada-ada"
Kaum 'Ad yang Makmur tetapi Ingkar
Kaum 'Ad dikenal sebagai kaum yang hidup dalam kemakmuran. Allah SWT menganugerahkan tubuh yang kuat, tanah yang subur, serta hasil pertanian yang melimpah sehingga mereka hidup sejahtera.
Namun, limpahan nikmat tersebut justru membuat mereka terlena. Kaum 'Ad meninggalkan ajaran tauhid yang diwariskan para nabi sebelumnya, seperti Nabi Nuh AS dan Nabi Idris AS. Mereka kemudian menyembah berhala yang mereka beri nama Shamud dan Al-Hattar.
Mereka meyakini berhala-berhala tersebut mampu memberikan perlindungan, kemakmuran, serta memenuhi berbagai kebutuhan hidup mereka.
Untuk mengembalikan kaum 'Ad ke jalan yang benar, Allah SWT mengutus Nabi Hud AS dari kalangan mereka sendiri. Dalam dakwahnya, Nabi Hud AS mengingatkan bahwa hanya Allah SWT yang menciptakan manusia, memberikan rezeki, menghidupkan dan mematikan setiap makhluk. Karena itu, hanya Allah yang berhak disembah, bukan patung-patung yang dibuat manusia.
Nabi Hud AS mengajak kaumnya meninggalkan penyembahan berhala dan kembali kepada tauhid. Beliau juga mengingatkan agar mereka menaati perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya.
Selain itu, Nabi Hud AS menceritakan kehancuran umat-umat terdahulu yang membangkang kepada Allah sebagai pelajaran bagi kaumnya. Meski demikian, seruan Nabi Hud AS tidak mendapat sambutan baik.
Kaum 'Ad justru menuduhnya sebagai orang gila dan menganggap ajarannya hanyalah cerita bohong. Mereka tetap mempertahankan penyembahan terhadap berhala.
Azab bagi Kaum 'Ad
Karena terus membangkang, Allah SWT menurunkan azab kepada kaum 'Ad secara bertahap. Tahap pertama berupa musim kemarau yang panjang. Kekeringan melanda wilayah mereka hingga menyebabkan gagal panen dan kelaparan. Hasil pertanian yang sebelumnya melimpah tidak lagi dapat dinikmati.
Di tengah bencana tersebut, Nabi Hud AS kembali mengajak kaumnya bertobat dan memohon ampun kepada Allah SWT. Ajakan itu tercermin dalam doa sebagai berikut:
Artinya: “Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku Tuhanmu. Tidak satupun makhluk bergerak yang bernyawa melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasainya). Sungguh, Tuhanku di jalan yang lurus.” (QS Hud, 56).
Meski telah diajak untuk bertaubat, umatnya justru semakin tenggelam dalam kesyirikan dengan memohon hujan kepada berhala-berhala yang mereka sembah.
Setelah mereka tetap menolak beriman, Allah SWT menurunkan azab berikutnya. Langit berubah menjadi gelap dengan gumpalan awan hitam. Kaum 'Ad mengira awan itu akan membawa hujan yang mereka nantikan untuk mengakhiri kemarau.
Namun, anggapan itu keliru. Awan tersebut merupakan awal dari azab Allah SWT sebagai balasan atas kekafiran dan pembangkangan mereka terhadap dakwah Nabi Hud AS.
Dalam berbagai tafsir Al-Qur'an dijelaskan, azab itu kemudian berupa angin yang sangat kencang dan dingin yang menghancurkan kaum 'Ad. Sementara Nabi Hud AS bersama orang-orang yang beriman diselamatkan oleh Allah SWT.
Kisah tersebut menjadi pelajaran tentang pentingnya menjaga keimanan, mensyukuri nikmat Allah, serta tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.