NEY WORK, (ERAKINI) – Badai salju lebat dan es tebal mulai membekukan Amerika Serikat (AS) dan melumpuhkan transportasi udara. Lebih dari 8.000 penerbangan dibatalkan, sementara sekitar 140 juta penduduk berada di bawah peringatan cuaca ekstrem.
Menurut situs pelacakan penerbangan FlightAware, sedikitnya 3.400 penerbangan mengalami penundaan atau pembatalan pada Sabtu (24/1/2026), dan lebih dari 5.000 penerbangan dibatalkan untuk Minggu besok.
Sekitar 140 juta orang dari New Mexico hingga New England berada di bawah peringatan badai musim dingin. Para peramal cuaca menyebut kerusakan—terutama di wilayah yang dihantam es—berpotensi menyamai dampak badai topan.
Salju turun di sejumlah wilayah Texas, Oklahoma, dan Kansas pada Jumat, mendahului badai musim dingin yang diperkirakan akan berpadu dengan udara Arktik yang sangat dingin dan menyelimuti sebagian besar AS sepanjang akhir pekan.
“Ini badai yang ganas,” kata Jacob Asherman, ahli meteorologi di Pusat Prediksi Cuaca AS di Maryland, kepada kantor berita Reuters. Ia menyebut badai ini sebagai yang terbesar sejauh musim ini dari sisi intensitas dan cakupan.
Suhu dingin dengan faktor angin yang mengancam jiwa merosot hingga di bawah minus 45 derajat Celsius (minus 50 derajat Fahrenheit) di wilayah Dakota dan Minnesota. Sang meteorolog memperingatkan bahwa paparan dingin ekstrem tanpa perlindungan pakaian yang memadai dapat menyebabkan hipotermia dengan sangat, sangat cepat.
Kondisi terburuk diperkirakan terjadi di sejumlah wilayah Louisiana, Mississippi, dan Tennessee, di mana lapisan es setebal hingga satu inci kemungkinan akan menyelimuti dahan pohon, jaringan listrik, dan jalan raya, kata Asherman.
Gubernur di lebih dari selusin negara bagian membunyikan alarm dengan menetapkan status darurat atau mengimbau warga untuk tetap di rumah. Gubernur Texas Greg Abbott mengatakan melalui X bahwa Departemen Transportasi negara bagian telah melakukan pra-perawatan jalan dan mengimbau warga untuk tetap di rumah jika memungkinkan.
Perusahaan utilitas bersiaga menghadapi potensi pemadaman listrik karena pohon dan kabel listrik yang terlapisi es dapat terus roboh bahkan setelah badai berlalu.
Presiden Donald Trump mengatakan melalui media sosial bahwa pemerintahannya berkoordinasi dengan pejabat negara bagian dan lokal, serta Badan Manajemen Darurat Federal (FEMA) sepenuhnya siap untuk merespons.
Badai ini juga menjadi ujian besar pertama bagi Wali Kota New York City Zohran Mamdani, yang baru menjabat beberapa pekan lalu.
Ia mengatakan kepada stasiun berita lokal NY1 bahwa tenaga kebersihan kota akan bertransformasi menjadi operasi penanggulangan salju terbesar di negara ini, menjelang hujan salju lebat yang diperkirakan turun pada Minggu.
"Kota kita akan segera diguyur salju dalam jumlah besar, dan saya ingin warga New York bersiap menghadapi badai yang akan datang. Prakiraan cuaca yang baru saja kita dengar memprediksi setidaknya enam inci salju. Perkiraan lain bahkan mendekati satu kaki, dan itu akan menjadi hujan salju terbesar yang kita alami dalam beberapa waktu terakhir," katanya.
"Namun saya ingin meyakinkan seluruh warga New York bahwa kota ini siap, dan ribuan pekerja kota sudah mulai bekerja sejak pukul 06.00 pagi untuk melakukan segala hal yang telah mereka latih demi menjaga keselamatan kota," tambahnya.