Rusia telah mencabut peringatan tsunami usai gempa dahsyat berkekuatan M8,8 di Semenanjung Kamchatka, Rabu (30/7/2025). Moskow juga memastikan tidak ada korban jiwa. Foto: Telegram via rt.com
Sejumlah negara lain juga sudah menurunkan tingkat kewaspadaan terhadap tsunami, termasuk Jepang yang sebelumnya telah mengevakuasi hampir dua juta orang. Jepang menjadi satu-satunya negara yang melaporkan korban jiwa, yakni seorang wanita berusia 58 tahun yang meninggal setelah kendaraannya jatuh dari tebing saat berusaha memindahkan mobilnya menyusul peringatan tsunami.
Peringatan serupa juga diturunkan di China dan Hawaii. Di wilayah AS itu, peringatan diturunkan ke level menengah dan perintah evakuasi di wilayah Oahu telah dicabut. Sementara di California dan Alaska, tsunami sudah mencapai garis pantai dengan ketinggian gelombang sekitar satu meter.
Di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya kenaikan muka air laut di sejumlah wilayah bagian timur sebagai imbas dari aktivitas tektonik tersebut.
“Kenaikan muka air laut terdeteksi di beberapa titik pantai Indonesia, dengan ketinggian antara 0,05 hingga 0,2 meter. Kondisi ini menunjukkan bahwa energi tsunami dari gempaRusia menjalar ke wilayah perairan Indonesia, meskipun tidak signifikan,” ujar Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu (30/7/2025) malam.
Daryono menegaskan, meskipun ketinggiannya relatif kecil, status Waspada tetap diberlakukan untuk beberapa wilayah pesisir. Artinya, kawasan tersebut berpotensi terdampak gelombang tsunami setinggi di bawah 0,5 meter.
“Masyarakat kami imbau untuk menjauhi area pantai dan tetap siaga. Terutama di wilayah pantai dengan bentuk ceruk atau teluk sempit, karena bisa memperkuat dampak gelombang,” jelasnya.
Daryono menegaskan bahwa peringatan dini tsunami hingga malam ini masih berlaku aktif. BMKG belum dapat mencabut peringatan tsunami karena osilasi gelombang bisa mengalami amplifikasi secara tiba-tiba pada fase akhir. Lima provinsi yang berstatus waspada potensi tsunami adalah Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.
Kamchatka Sigap
Kantor berita Rusia, TASS, melaporkan tidak ada kerusakan struktural besar di Kamchatka setelah gempa besar tersebut. "Tim inspeksi mensurvei berbagai kategori bangunan sepanjang hari. Tidak ada kerusakan signifikan yang tercatat, dan struktur bangunan mampu menahan gempa kuat," bunyi pernyataan pers Kementerian Darurat Rusia.
Satu-satunya bangunan yang terkena dampak adalah taman kanak-kanak yang sedang direnovasi.Pihak berwenang juga mengonfirmasi tidak ada gelombang air yang signifikan di wilayah permukiman setelah peringatan tsunami. Ancaman tsunami untuk Kamchatka telah dicabut, meskipun personel darurat tetap siaga tinggi.
Gempa ini sebenarnya tercatat menjadi gempa terkuat sejak 1952. "Ini adalah gempa bumi terkuat sepanjang sejarah pengamatan instrumental, dengan magnitudo 8,8. Gempa susulan diperkirakan akan terjadi dalam jangka waktu yang lama dan berkala," tegas Gubernur Kamchatka Vladimir Solodov di di kanal Telegramnya.
Para seismolog mencatat gempa susulan dengan magnitudo antara 5,1 hingga 5,8. Namun, kerusakan dan korban jiwa dapat diminimalisir berkat kesiapan pemerintah Kamchatka. "Langkah-langkah yang diambil sebelumnya terbukti efektif," ujar Juru Bicara Kepresidenan Rusia Dmitry Peskov.
"Semua sistem peringatan dini diaktifkan dengan segera, dan evakuasi warga dari daerah yang membutuhkan pun dilakukan untuk mengantisipasi tsunami," tambahnya.
Secara umum, kata Dmitry , ketahanan gempa bangunan terbukti efektif. Kesiapan teknologi telah terbukti dan berkinerja pada tingkat tinggi. Hal ini membuat tidak ada korban jiwa dan minim kerusakan bangunan.