Demonstrasi besar-besaran di Israel pada Sabtu malam waktu setempat, yang dipimpin para keluarga sandera yang ditahan oleh Hamas. Foto: AP
JAKARTA, (ERAKINI) - Perdana Menteri IsraelBenjamin Netanyahu menghadapi tekanan yang semakin besar setelah Presiden AS Joe Biden mengumumkan usulan perjanjian untuk mengakhiri perang di Gaza dan . Banyak warga yang mendesak Netanyahu untuk menyetujui perjanjian tersebut.
Demonstrasi besar-besaran terjadi di Israel pada Sabtu malam waktu setempat, yang dipimpin para keluarga sandera yang ditahan oleh Hamas. Mereka mendesak pemerintah segera bertindak.
“Ini mungkin kesempatan terakhir untuk menyelamatkan nyawa,” ujar Gili Roman, keluarga sandera, kepada The Associated Press (AP), dikutip Minggu (2/6/2024).
Gili menyebut kakak perempuannya, Yarden Roman-Gat, telah dibebaskan saat selama gencatan senjata selama seminggu pada bulan November lalu. Namun saudara iparnya Carmel masih ditahan.
Para keluarga sandera menggambarkan pertemuan agresif pada hari Kamis dengan Penasihat Keamanan Nasional Israel, Tzachi Hanegbi, yang mengatakan kepada mereka bahwa pemerintah belum siap menandatangani kesepakatan untuk memulangkan semua sandera dan tidak ada rencana B.
Banyak keluarga sandera yang menuduh pemerintah Israekl kurang mempunyai kemauan. “Kami tahu bahwa pemerintah Israel telah melakukan banyak hal untuk menunda tercapainya kesepakatan, dan hal ini telah mengorbankan nyawa banyak orang yang bertahan hidup di penangkaran selama berminggu-minggu, berbulan-bulan,” kata Sharone Lifschitz, yang ibunya, Yocheved, sudah dibebaskan pada bulan November namun ayahnya, Oded, masih ditahan.
Netanyahu sebelumnya menegaskan bahwa gencatan senjata permanen di Gaza tidak akan bisa dimulai sebelum Hamas memenuhi sejumlah persyaratan.
"Kondisi Israel untuk mengakhiri perang tidak berubah: penghancuran kemampuan militer dan pemerintahan Hamas, pembebasan semua sandera dan memastikan bahwa Gaza tidak lagi menjadi ancaman bagi Israel. Berdasarkan proposal tersebut, Israel akan terus bersikeras bahwa persyaratan ini harus dipenuhi sebelum gencatan senjata permanen diberlakukan,” kata Netanyahu.
Mediator AS, Mesir, dan Qatar sudah menekan Israel dan Hamas dengan meminta kesepakatan yang diusulkan yakni gencatan senjata permanen dan mengakhiri krisis, serta memberikan bantuan segera kepada para sandera dan penduduk Gaza.
Namun Menteri Keuangan sayap kanan Bezalel Smotrich dan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir mengatakan mereka akan membubarkan pemerintah jika Netanyahu menerima kesepakatan tersebut.
Hal ini dapat membuat Netanyahu dihadapkan pada pemilu baru, pengawasan ketat atas kegagalan keamanan yang menyebabkan perang. Jika ia kehilangan jabatan perdana Menteri, tuntutan atas tuduhan korupsi yang sudah berlangsung lama bakal muncul kembali.
Presiden Biden pada hari Jumat menegaskan bahwa militan Hamas tidak lagi mampu melakukan serangan besar-besaran terhadap Israel seperti yang terjadi pada 7 Oktober 2023. Untuk itu, dia mendesak Israel dan Hamas mencapai kesepakatan membebaskan sekitar 100 sandera yang tersisa.
Biden menawarkan tiga fase gencatan senjata permanen. Fase pertama akan berlangsung selama enam minggu dan mencakup gencatan senjata penuh dan menyeluruh, penarikan pasukan Israel dari seluruh wilayah padat penduduk di Gaza dan pembebasan sejumlah sandera, termasuk perempuan, lanjut usia dan yang terluka, dengan imbalan pembebasan ratusan tahanan Palestina.
Tahap kedua akan mencakup pembebasan semua sandera yang masih hidup, termasuk tentara laki-laki, dan penarikan pasukan Israel dari Gaza. Fase ketiga menyerukan dimulainya rekonstruksi besar-besaran di Gaza, yang harus dibangun kembali selama beberapa dekade setelah kehancuran akibat perang.
Biden mengakui bahwa menjaga agar proposal tetap pada jalurnya akan sulit, karena rincian yang dinegosiasikan harus berpindah dari tahap pertama ke tahap kedua. Biden mengatakan jika Hamas gagal memenuhi komitmennya berdasarkan perjanjian tersebut, Israel dapat melanjutkan operasi militer.
Israel pada hari Jumat mengkonfirmasi pasukannya beroperasi di bagian tengah Rafah. Sekitar 1 juta warga Palestina atau hampir setengah dari populasi Gaza, telah meninggalkan Rafah. Program Pangan Dunia (WFP) PBB menyebut kondisi kehidupan Rafah semakin mengerikan dan apokaliptik seiring dengan meningkatnya kelaparan.
Hamas mengatakan mereka memandang proposal tersebut secara positif dan meminta Israel untuk menyatakan komitmen eksplisit terhadap perjanjian yang mencakup gencatan senjata permanen, penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza, pertukaran tahanan dan persyaratan lainnya.
“Usulan ini datang terlambat, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,” kata Akram Abu Al-Hasan, perwakilan Hamas.
Menurut para analis, perbedaan utama dari proposal sebelumnya adalah kesiapan untuk menghentikan perang untuk jangka waktu yang tidak ditentukan.
“Pidato itu sangat bagus. Sepertinya Biden mencoba memaksakannya pada Pemerintah Israel. Dia jelas-jelas berbicara langsung kepada rakyat Israel,” kata Gershon Baskin, Direktur Timur Tengah di Organisasi Komunitas Internasional.