Di atas, sejumlah kapal melintasi Teluk Oman, dekat Selat Hormuz, di lepas pantai Muscat pada 25 Juli 2026. (Foto: AFP).
TEHERAN, (ERAKINI) – Pemerintah Iran menegaskan bahwa Amerika Serikat (AS) tidak memiliki keterlibatan dalam pembahasan terbaru antara Teheran dan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia. Pernyataan itu disampaikan di tengah masih tingginya tensi antara dan terkait kendali atas perairan tersebut.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa komunikasi yang berlangsung dengan Oman sepenuhnya merupakan urusan bilateral dan tidak melibatkan Washington. "Pembicaraan ini tidak ada kaitannya dengan Amerika Serikat. Ini adalah masalah bilateral antara Iran dan Oman, dan pembicaraan tersebut masih terus berlangsung," ujar Baqaei dalam konferensi pers mingguannya.
Ia juga menegaskan bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz hingga kini "tetap ditutup." Menurut Baqaei, pertemuan antara wakil menteri luar negeri Iran dan Oman yang berlangsung pada Jumat dan Sabtu difokuskan pada penyusunan prinsip-prinsip bersama serta mekanisme operasional untuk menjamin keamanan pelayaran di kawasan tersebut.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif dalam dinamika geopolitik Timur Tengah. Sejak pecahnya perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat pada 28 Februari, Teheran memperketat pengawasan terhadap seluruh aktivitas pelayaran yang melintasi jalur strategis tersebut.
Dalam beberapa hari terakhir, Garda Revolusi Iran dilaporkan meningkatkan pengawasan terhadap kapal-kapal yang melintas. Bahkan pada Senin pagi, sedikitnya enam kapal disebut diputarbalikkan karena berlayar di luar jalur yang telah ditentukan oleh otoritas Iran.
Langkah itu semakin mempertegas sikap Teheran yang ingin mempertahankan kendali penuh atas pengelolaan Selat Hormuz, termasuk pengaturan lalu lintas kapal dan pungutan layanan, dengan tetap melibatkan Oman sebagai negara yang berbatasan langsung dengan jalur perairan tersebut.
Ketegangan mengenai Selat Hormuz kembali meningkat setelah pertempuran antara Iran dan Amerika Serikat meletus lagi pada awal bulan ini, meski kedua pihak akhirnya menyepakati penghentian sementara operasi militer sejak Sabtu dini hari.
Konflik tersebut dipicu oleh runtuhnya nota kesepahaman yang sebelumnya ditandatangani kedua negara pada Juni. Gagalnya kesepakatan itu memicu baku tembak selama 13 hari dan kembali menjadikan Selat Hormuz sebagai salah satu pusat persaingan strategis antara Teheran dan Washington. Meski situasi militer mulai mereda, perbedaan sikap mengenai pengelolaan jalur pelayaran internasional itu masih menjadi salah satu isu paling sensitif dalam hubungan kedua negara.
Dalam kesempatan yang sama, Baqaei melontarkan kritik keras terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ia menilai Washington selama beberapa tahun terakhir menunjukkan perilaku yang tidak menghormati aturan maupun norma internasional. "Perilaku Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir mirip dengan perilaku geng mafia yang tidak mematuhi aturan atau hukum apa pun," tegas Baqaei.
Ia menambahkan bahwa selama pendekatan seperti itu masih dipertahankan, peluang terciptanya dialog yang konstruktif akan sangat sulit terwujud. "Selama perilaku seperti itu dari Amerika Serikat terus berlanjut, kita tidak bisa berharap akan munculnya proses yang masuk akal," katanya.