Amarah di Israel Memuncak! Rakyat Desak Trump Hentikan Perang Gaza Sekarang Juga
Akhmad Baihaqi Arsyad
TEL AVIV, (ERAKINI) - Seruan mendesak untuk mengakhiri konflik di Gaza dan membebaskan para sandera menggema di pusat Tel Aviv pada Sabtu (6/9/2025) malam, saat puluhan ribu warga Israel turun ke jalan dalam aksi protes massal.
Massa berkumpul di sekitar markas besar militer, mengibarkan bendera nasional dan membawa poster bergambar para sandera yang masih ditahan di Gaza. Spanduk-spanduk berisi pesan langsung kepada Presiden AS Donald Trump juga terlihat, seperti "Selamatkan Para Sandera Sekarang!" dan "Warisan Trump Hancur Bersama Perang Gaza".
Seorang demonstran bernama Boaz (40) dari Tel Aviv menyampaikan harapannya, "Kami percaya hanya Trump yang punya pengaruh cukup besar terhadap Bibi (Netanyahu) untuk mendorong langkah konkret menuju penyelesaian."
Ketidakpuasan terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu semakin meluas, terutama karena kebijakan militernya yang terus menggempur kawasan padat penduduk—termasuk pusat Kota Gaza, lokasi yang diyakini menjadi tempat penahanan para sandera. Pihak keluarga korban khawatir operasi ini justru mengancam keselamatan orang-orang tercinta mereka.
Desakan kepada AS
Orna Neutra, ibu dari seorang tentara Israel berkewarganegaraan ganda (Israel-AS) yang gugur pada 7 Oktober 2023, menilai pemerintah telah gagal melindungi warganya sendiri. Jenazah putranya, Omer, hingga kini masih ditahan di Gaza oleh militan. Ia berharap pemerintah AS mengambil peran lebih aktif untuk mendorong kesepakatan damai yang menyeluruh.
"Sudah saatnya Amerika memimpin upaya mencapai solusi nyata agar para sandera bisa dipulangkan," ujarnya di tengah kerumunan demonstran.
Setiap akhir pekan, Tel Aviv dan Yerusalem menjadi pusat demonstrasi yang terus membesar. Gelombang protes terbaru ini, menurut penyelenggara, dihadiri puluhan ribu orang. Mereka menuntut pemerintah segera mencapai gencatan senjata dengan Hamas demi menyelamatkan para tawanan perang.
Trump, Janji Kampanye dan Realita Lapangan
Meskipun Trump sempat berjanji untuk mengakhiri perang Gaza selama kampanye pilpres, kenyataannya hampir delapan bulan memasuki masa jabatannya yang kedua, belum ada solusi konkret. Pada Jumat lalu, ia menyebut bahwa AS tengah melakukan negosiasi intensif dengan Hamas, namun hasilnya masih belum tampak.
Di sisi lain, militer Israel melanjutkan ofensif besar-besaran di wilayah utara Gaza. Organisasi pemantau internasional telah memperingatkan situasi krisis kemanusiaan, di mana ratusan ribu warga Palestina terancam kelaparan. Pemerintah Israel mengakui ada kekurangan pangan, tetapi membantah bahwa wilayah tersebut telah jatuh ke dalam kondisi kelaparan total. Sabtu lalu, militer Israel bahkan mengeluarkan imbauan kepada warga sipil di Kota Gaza untuk mengungsi ke bagian selatan.
Ketegangan dan Pesan dari Sandera
Dalam sebuah video yang dirilis Hamas pada Jumat, seorang sandera Israel bernama Guy Gilboa-Dalal (24) mengaku bahwa dirinya berada di Kota Gaza dan merasa nyawanya terancam akibat serangan militer Israel. Video tersebut menuai kecaman dari organisasi HAM karena dianggap sebagai bentuk eksploitasi psikologis terhadap korban. Pihak Israel menilainya sebagai bagian dari perang informasi.
Semakin banyak warga Israel yang menyuarakan penolakan terhadap perang berkepanjangan ini. Survei publik menunjukkan mayoritas menginginkan pemerintah mengupayakan gencatan senjata permanen, yang mencakup kesepakatan pembebasan semua sandera.
“Perang ini sudah kehilangan arah. Yang tersisa hanyalah kekerasan tanpa tujuan,” kata Boaz. Seorang warga lain bernama Adam (48) menyebut keterlibatan pasukan Israel di Gaza sebagai pengorbanan yang sia-sia.
Hamas diketahui bersedia melepas beberapa sandera dengan imbalan gencatan senjata sementara—seperti yang sempat dibahas dalam negosiasi yang difasilitasi oleh AS dan negara-negara Arab pada Juli lalu, namun gagal.
Pada Sabtu, Hamas kembali menyatakan kesediaannya membebaskan seluruh sandera jika Israel menghentikan perang dan menarik pasukannya sepenuhnya dari Gaza. Netanyahu menolak pendekatan bertahap dan hanya ingin kesepakatan menyeluruh: pembebasan total sandera dan penyerahan penuh dari pihak Hamas.
Ia menyebut Kota Gaza sebagai benteng terakhir kelompok militan tersebut dan menegaskan bahwa penguasaan penuh atas wilayah itu adalah kunci untuk mengalahkan Hamas, yang sejak Oktober 2023 menjadi pemicu utama konflik bersenjata ini. Meskipun menyatakan tidak akan lagi memerintah Gaza usai perang, Hamas tetap menolak melakukan pelucutan senjata atau menyerah dalam bentuk apa pun.
















