Lebih dari 64.000 warga Palestina telah tewas dalam perang yang berlangsung hampir dua tahun di Jalur Gaza, ungkap pejabat kesehatan setempat, Kamis. (Foto: AFP).
DEIR AL-BALAH, (ERAKINI) – Jumlah korban jiwa akibat agresi militer yang berlangsung hampir dua tahun di Jalur Gaza kini telah menembus angka 64.000 orang, menurut laporan otoritas kesehatan setempat pada Kamis (5/9/2025). Di tengah terus berlangsungnya konflik, baik Israel maupun Hamas masih belum menemukan titik temu dalam upaya penyelesaian konflik, masing-masing tetap mempertahankan tuntutan yang saling bertolak belakang.
Dalam 24 jam terakhir, sedikitnya 28 warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangan udara Israel. Korban didominasi oleh perempuan dan anak-anak, termasuk seorang bayi baru lahir berusia 10 hari, berdasarkan informasi dari rumah sakit di wilayah tersebut.
Serangan tersebut terjadi di Kota Gaza, wilayah paling padat di Palestina yang kini menjadi pusat operasi militer besar-besaran Israel. Banyak warga sipil di kota ini telah menjadi pengungsi berulang kali, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain untuk mencari perlindungan yang tak kunjung ditemukan.
Menurut laporan dari Rumah Sakit Shifa, setidaknya 25 jenazah diterima pasca-serangan di sebuah kamp pengungsi. Serangan itu menghantam tenda-tenda tempat para warga sipil berlindung. Tiga korban jiwa lainnya berasal dari wilayah selatan Gaza, menurut keterangan Rumah Sakit Nasser di Khan Younis.
Maha Afana, seorang ibu korban, menceritakan kepanikan saat ia terbangun akibat ledakan dan menemukan anak-anaknya telah tewas di dalam tenda. “Aku hanya bisa menjerit,” ucapnya lirih, mengenang kejadian itu.
Rekaman video yang diperoleh Associated Press menunjukkan pemandangan memilukan: tenda-tenda terbakar dan puing-puing berserakan, sementara suara ledakan berikutnya terdengar di kejauhan.
Salah satu warga lainnya, Hayam Basous, mempertanyakan alasan di balik kekerasan terhadap anak-anak. “Apa kesalahan mereka? Mereka hanya tidur. Tak satu pun membawa senjata,” ujarnya, usai kehilangan kerabat dalam serangan tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, militer Israel belum memberikan pernyataan resmi. Namun, sebelumnya pihak militer menyatakan bahwa target utama operasi mereka adalah militan, bukan warga sipil. Mereka menuding Hamas memanfaatkan area pemukiman padat sebagai tameng, sehingga meningkatkan risiko korban dari kalangan sipil.
Menurut Kementerian Kesehatan di Gaza, jumlah korban meninggal dunia akibat seranganIsrael sejak Oktober 2023 telah mencapai 64.231 jiwa. Dari angka tersebut, sekitar 400 orang sebelumnya dinyatakan hilang, namun kini telah dipastikan tewas.
Meski data resmi tidak merinci berapa persen korban yang merupakan militan, pihak kementerian menyebut bahwa sekitar setengah dari korban adalah perempuan dan anak-anak.
Perlu diketahui, kementerian ini berada di bawah otoritas pemerintahan yang dijalankan oleh Hamas, namun operasionalnya ditangani oleh tenaga medis profesional. Meskipun angka kematian yang mereka rilis kerap dipertanyakan oleh Israel, banyak badan internasional seperti PBB dan sejumlah organisasi hak asasi manusia menganggapnya sebagai sumber data paling kredibel selama masa konflik.
Sebagai latar belakang, konflik ini dipicu oleh serangan besar-besaran Hamas ke wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023, yang menyebabkan sekitar 1.200 orang tewas, sebagian besar warga sipil, serta 251 orang lainnya diculik. Sebagian besar sandera telah dibebaskan melalui gencatan senjata sementara dan kesepakatan pertukaran tawanan yang terjadi dalam beberapa tahap.