Kisah Dua Lansia Penghibur Jemaah Haji
Fajar WH
MAKKAH, (ERAKINI) - Bersarung dan berkopiah, Mbah Dul berjalan mencari dokter kloter.
“Pak dokter di mana,” tanyanya kepada rekan-rekan dari kloter 19 SUB.
“Tesih merikso jemaah wau mbah (masih memeriksa pasien) mbah,” tuturnya.
Kepada rekannya, ia mengaku punggung dan pinggangnya sakit. Karena itu ia pingin periksa ke dokter.
“Jantung mbah?” sahut rekannya.
“Ndak. Saya tidak ada riwayat jantung. Cuma punggung dan pinggang ini kok agak sakit,” jawabnya.
Rekan-rekannya yang berkumpul di depan pintu kamar lantas meminta Mbah Dul menunggu.
Mereka mempersilakan Mbah Dul duduk. Di situ mereka bertanya macam-macam kepada pria berusia 76 tahun ini.
Saat perbincangan berlangsung, dokter dan perawat yang ditunggu datang. Mereka langsung memeriksa tensi Mbah Dul.
“Normal mbah,” kata sang dokter.
“Tadi keluhannya apa?” tanya perawat.
“Punggung dan pinggang agak sakit. Tapi kok sekarang sudah enggak sakit,” jawab Mbah Dul.
“Umurku saiki 76 tahun. Pensiunan kepala madrasah nang Ponorogo,” jawabnya.
“Tesih kiat tawaf kalean sa’i? (masih kuat menjalankan tawaf dan sa’i?),” tanya salah seorang rekannya.
Mbah Dul menjawab panjang pertanyaan itu. Soal kesehatan, dia mengaku selalu menjaganya.
“Aku iki sih kuat mlayu (aku masih kuat lari),” kata dia bangkit dari tempat duduknya sambil memeragakan gerakan jogging.


















