Warga Gaza Tutup Tahun 2025 dengan Doa agar Mimpi Buruk Segera Berakhir
Akhmad Baihaqi Arsyad
GAZA, (ERAKINI) - Menjelang pergantian tahun 2025, warga Palestina di Jalur Gaza tidak menyambut tahun baru dengan pesta atau kembang api. Yang tersisa hanyalah kelelahan mendalam, duka berkepanjangan, serta secercah harapan rapuh bahwa penderitaan yang mereka sebut sebagai ‘mimpi buruk tanpa ujung’ akhirnya akan menemui akhir.
Bagi masyarakat di wilayah yang luluh lantak oleh konflik ini, keseharian bukan lagi tentang merencanakan masa depan, melainkan bertahan hidup dari hari ke hari. Sebagian besar infrastruktur Gaza hancur, pasokan listrik masih sangat terbatas, dan ratusan ribu orang terpaksa tinggal di tenda-tenda darurat setelah berkali-kali mengungsi akibat pertempuran yang telah berlangsung hampir dua tahun, sejak pecahnya konflik pada Oktober 2023.
“Kehidupan kami di Gaza seperti terperangkap dalam mimpi buruk yang tak kunjung selesai,” ujar Hanaa Abu Amra, seorang perempuan pengungsi berusia 30-an yang kini menetap di Kota Gaza, dilansir dari Arab News, Kamis (1/1/2026)
Ia menaruh harapan besar pada tahun mendatang. “Kami hanya ingin hidup normal kembali, listrik menyala, jalan-jalan tidak dipenuhi tenda, dan kami bisa berjalan tanpa rasa takut,” tuturnya
Di seluruh Gaza yang dihuni lebih dari dua juta jiwa, gambaran kesengsaraan telah menjadi pemandangan sehari-hari. Tahun yang akan berlalu meninggalkan jejak kehilangan dan kecemasan tanpa henti, sebagaimana diungkapkan Shireen Al-Kayali.
“Kami menutup tahun 2025 dengan hati yang berat, penuh kesedihan dan duka. Begitu banyak nyawa dan harta yang hilang. Kami hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, di bawah ancaman serangan dan ketakutan yang terus menghantui,” katanya.
















