Para pelayat berdoa di depan jenazah para korban yang tewas akibat bombardir Israel di luar Rumah Sakit Al-Awda di kamp pengungsi Palestina Nuseirat di Jalur Gaza tengah pada 16 Juli 2025. (Foto: AFP).
KHAN YUNIS, (ERAKINI) - Salah satu rumah sakit rujukan di Jalur Gaza menyatakan kembali mengoperasikan sebagian layanannya setelah menerima pasokan bahan bakar diesel pada Jumat (26/12/2025). Namun, manajemen rumah sakit mengingatkan bahwa stok tersebut hanya cukup untuk mempertahankan operasional selama sekitar dua hari, di tengah krisis kemanusiaan yang kian memburuk.
Rumah Sakit Al-Awda yang berlokasi di kawasan Nuseirat, Gaza tengah, selama lebih dari dua tahun terdampak langsung konflik bersenjata. Fasilitas ini saat ini merawat sekitar 60 pasien rawat inap dan setiap hari melayani hampir 1.000 warga yang membutuhkan bantuan medis.
Sebelumnya, rumah sakit tersebut terpaksa menghentikan sebagian besar pelayanannya akibat kelangkaan bahan bakar diesel yang dibutuhkan untuk mengoperasikan generator listrik. Ahmed Mehanna, pejabat senior pengelola rumah sakit, menyampaikan bahwa hanya unit-unit vital yang tetap berfungsi.
“Sebagian besar layanan terpaksa dihentikan sementara karena ketiadaan bahan bakar. Saat itu, kami hanya mempertahankan layanan darurat, ruang bersalin, dan perawatan anak,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa pihak rumah sakit bahkan menyewa generator kecil demi menjaga layanan kritis tetap berjalan.
Mehanna memperingatkan bahwa krisis bahan bakar berkepanjangan akan berdampak langsung terhadap kemampuan rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan dasar. Dalam kondisi normal, Al-Awda membutuhkan 1.000 hingga 1.200 liter solar per hari, sementara persediaan yang tersisa saat itu hanya sekitar 800 liter.
Situasi sedikit membaik pada Jumat malam setelah 2.500 liter bahan bakar tiba melalui bantuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). “Dengan pasokan ini, kami langsung mengaktifkan kembali beberapa layanan. Namun, bahan bakar tersebut hanya cukup untuk sekitar dua setengah hari. Kami dijanjikan pengiriman lanjutan pada Minggu mendatang,” jelas Mehanna.
Sementara itu, Mohammed Salha, direktur sementara Rumah Sakit Al-Awda, menuding adanya pembatasan yang disengaja terhadap distribusi bahan bakar ke fasilitas kesehatan lokal di Gaza. Ia menyebut rumah sakit telah berupaya ke berbagai pihak demi mempertahankan layanan bagi masyarakat.
“Kami terus berusaha mencari bantuan agar layanan tetap berjalan. Namun, ketika bahan bakar diizinkan masuk untuk lembaga internasional, fasilitas kesehatan lokal seperti Al-Awda justru dibatasi,” katanya.
Meski gencatan senjata rapuh diberlakukan sejak 10 Oktober, kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza tetap berada dalam situasi kritis. Kesepakatan gencatan senjata sebenarnya mengatur masuknya 600 truk bantuan per hari, namun realisasinya jauh dari target. Saat ini, hanya 100 hingga 300 truk yang berhasil masuk setiap hari, menurut data PBB dan sejumlah organisasi kemanusiaan.
Ironisnya, sebagian besar konvoi yang masuk membawa barang komersial yang sulit dijangkau oleh mayoritas dari 2,2 juta penduduk Gaza.
Kondisi ini berdampak langsung pada warga sipil. Khitam Ayada (30), pengungsi asal Nuseirat, mengaku terpaksa pulang tanpa perawatan setelah mendatangi Rumah Sakit Al-Awda akibat sakit ginjal. “Mereka mengatakan tidak ada listrik untuk pemeriksaan rontgen dan tidak bisa merawat saya. Kami kekurangan segalanya, bahkan layanan medis paling mendasar,” ujarnya.
Sektor kesehatan Gaza menjadi salah satu yang paling terdampak konflik berkepanjangan. Selama perang, sejumlah rumah sakit di berbagai wilayah Gaza dilaporkan menjadi sasaran serangan militer Israel, dengan tuduhan bahwa fasilitas tersebut digunakan sebagai pusat komando Hamas, tuduhan yang dibantah oleh kelompok tersebut.
Saat ini, organisasi medis internasional Doctors Without Borders mengelola sekitar sepertiga dari total 2.300 tempat tidur rumah sakit di Gaza. Sementara itu, seluruh pusat stabilisasi bagi anak-anak yang mengalami gizi buruk parah didukung oleh lembaga swadaya masyarakat internasional.
Perang di Gaza pecah setelah serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.221 orang, mayoritas warga sipil. Sejak itu, operasi militer Israel di Gaza dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 70.942 orang, sebagian besar juga warga sipil, menurut otoritas kesehatan setempat. Data tersebut dinilai kredibel oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.