Korut Kutuk Rencana Trump untuk Ambil Alih Gaza, Sebut sebagai Tindakan Pembantaian-Perampokan
Akhmad Baihaqi Arsyad
JAKARTA, (ERAKINI) - Korea Utara (Korut) mengutuk rencana Presiden AS Donald Trump untuk dan menyebutnya sebagai tindakan dan .

JAKARTA, (ERAKINI) - Korea Utara (Korut) mengutuk rencana Presiden AS Donald Trump untuk dan menyebutnya sebagai tindakan dan .






Sebagaimana dilansir dari Aljazeera, Rabu (12/2/2025), Korut telah menyerukan AS untuk berhenti ‘melanggar martabat dan kedaulatan’ rakyat Palestina.
Media pemerintah Korea Utara menuduh AS melakukan “pembantaian dan perampokan” atas usulan Presiden Donald Trump untuk menduduki Jalur Gaza dan mengusir penduduknya yang berjumlah lebih dari dua juta warga Palestina.
“Dunia kini mendidih seperti panci bubur karena deklarasi mengejutkan Amerika,” kata Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) dalam sebuah komentar yang diterbitkan pada hari Rabu, di mana Trump tidak menyebutkan namanya secara eksplisit.
Menurut pihak KCNA, usulan Gedung Putih di Gaza adalah bukti ambisi ‘hegemonik dan invasif’ AS untuk mendominasi dunia.
KCNA juga menyebut AS sebagai perampok ganas atas seruan pemerintahan Trump untuk mengambil alih Terusan Panama dan Greenland, serta keputusannya untuk mengganti nama ‘Teluk Meksiko’ menjadi ‘Teluk Amerika’.
“AS harus bangkit dari lamunan mereka yang ketinggalan jaman dan segera menghentikan tindakan yang melanggar martabat dan kedaulatan negara dan bangsa lain. Ini bukan masalah yang hanya terjadi di Jalur Gaza saja,” kata KCNA.
Sebagaiman diketahui, Korut telah menjadi kritikus yang terang-terangan terhadap situasi di Gaza, mengutuk Israel atas pembantaian yang ‘kejam’ terhadap warga Palestina dan menyebut AS sebagai ‘kaki tangan’ kejahatan mereka.
Dalam sebuah wawancara dengan Fox News pada hari Senin (10/2/025), Trump menegaskan bahwa usulannya untuk melakukan pengungsian massal lebih dari dua juta orang dari Gaza tidak akan mencakup hak bagi warga Palestina untuk kembali ke tanah air mereka.
Dalam wawancara tersebut, Trump juga menegaskan kembali keinginannya untuk ‘memiliki’ wilayah Palestina yang dilanda perang, yang menurutnya akan diubah menjadi “Riviera Timur Tengah”.
Trump juga telah menekan Mesir dan Yordania untuk menerima penduduk Gaza setelah rencana penggusurannya, sebuah usulan yang dengan tegas ditolak oleh kedua negara tersebut.
Pernyataan Trump bahwa ia mengupayakan pengungsian permanen bagi penduduk Gaza bertentangan dengan pernyataan para pembantunya baru-baru ini, yang sebelumnya menyatakan rencana tersebut sebagai upaya pembangunan kembali yang memungkinkan penduduk untuk kembali ke Gaza.
Kelompok hak asasi manusia mengecam tindakan tersebut dan menganggapnya sama dengan pembersihan etnis.
Pada hari Selasa (11/2/2025), Korea Utara kembali menuduh AS memberikan ancaman besar terhadap keamanan nasionalnya. Dikatakan bahwa pasukan militernya siap untuk mengambil tindakan apa pun yang diperlukan setelah kapal selam nuklir serangan cepat Angkatan Laut AS berlabuh di sebuah pelabuhan di kota Busan, Korea Selatan.
