Jumariyah, jemaah haji asal Maros, Sulsel yang menjadi ikon haji global yang dipilih pemerintah Arab Saudi (Foto: MCH 2026).
MAKKAH, (ERAKINI) - Dada Jumariyah berdebar kencang saat memasuki pelataran Masjidil Haram, Minggu (10/5/2026). Berulang kali ia mengusap ujung kerudung ke wajahnya. Ketika bangunan Ka’bah yang terbungkus kiswah hitam tampak di hadapannya, air mata perempuan lansia asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, itu pun tumpah.
Pemandangan itu telah lama ia panjatkan dalam doa sejak puluhan tahun silam, sejak hidup seorang diri selepas berpisah dengan suaminya. Dalam kesendirian, ia menjalani hari-hari dengan keyakinan bahwa Tuhan selalu menemaninya.
“Saya senang bisa melihat Ka’bah,” ucapnya lirih saat ditemui tim Media Center Haji di Asrar al Tayseer Hotel, Makkah, tempat ia dan jamaah kloter UPG 14 menginap, Sabtu (16/5/2026).
Air matanya kembali jatuh ketika mengenang momen tersebut. Namun, cepat-cepat ia menyekanya dengan ujung kerudung hitam yang dikenakannya.
Jumariyah mengaku usianya sudah lebih dari 70 tahun. Ia tidak ingat pasti berapa umur sebenarnya. Selama puluhan tahun, ia tinggal sendiri dan mengandalkan hidup dari sawah seluas 15 are miliknya serta kebun tetangga yang dirawatnya.
Sehari-hari, aktivitasnya dimulai sejak subuh. Setelah salat, ia memberi makan ayam, membersihkan rumah, memasak sarapan, lalu berangkat ke kebun sekitar pukul 09.00 pagi untuk merawat tanaman ubi milik tetangganya.
Selepas itu, ia menuju sawah yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah untuk membersihkan tanaman padi.
“Saya tanam sendiri, rawat sendiri, panen sendiri. Dulu pakai alat itu (sabit), kalau sekarang sudah dibantu mesin,” lanjutnya sambil tersenyum.
Meski hidup seorang diri, Jumariyah meyakini bahwa Tuhan selalu bersamanya. Keyakinan itulah yang membuatnya berusaha keras bisa datang ke Baitullah. Sejak 20 tahun lalu, ia mulai menabung sedikit demi sedikit.
“Saya kumpul uangku sedikit-sedikit di ember,” tuturnya.
Setelah terkumpul Rp25 juta, pada 2011 ia mendaftarkan diri untuk berhaji dengan didampingi kemenakan jauhnya. Jumariyah tidak bisa membaca dan menulis karena tak pernah mengenyam pendidikan formal.
Usai mendaftar, ia terus menyisihkan penghasilannya untuk biaya pelunasan haji.
“Kalau saya dapat Rp110 ribu, saya simpan Rp50 ribu,” jelasnya sambil kembali mengusap air mata.
Semangat Jumariyah semakin besar setelah namanya diumumkan sebagai salah satu jamaah haji 2026. Ia tercatat mengikuti lebih dari 80 kali manasik haji bersama Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) tanpa pernah absen, meski lokasi manasik berjarak sekitar 15 kilometer dari rumahnya.
Sosoknya pun dikenal hampir seluruh anggota KBIHU karena selalu duduk di barisan paling depan saat mendengarkan penjelasan muthawwif. Kisah hidup Jumariyah akhirnya sampai ke Kementerian Haji dan Umrah RI setelah diajukan oleh Kemenhaj Maros.
“Pertimbangannya karena kesehariannya. Dia hidup sendiri, sebatang kara, kemudian jauh (terpencil), menginspirasi,” terang Ketua Kloter UPG 14, Sitti Hawaisyah.
Dua hari sebelum keberangkatan ke asrama haji, tepatnya pada 28 April 2026, tim Kemenhaj mendatangi rumah sederhananya untuk membuat dokumentasi perjalanan hidupnya.
Hanya dalam waktu empat jam, tim tersebut menyelesaikan proses pembuatan film dokumenter singkat tentang perjalanan Jumariyah menuju Tanah Suci. Dokumenter itu kemudian menjadi bagian dari media promosi internasional Arab Saudi terkait Makkah Route untuk penyelenggaraan Haji 2026.
Tiga hari berselang, Jumariyah untuk pertama kalinya merasakan naik pesawat terbang. Perjalanan perdananya itu langsung menuju Madinah, kota tempat Nabi Muhammad SAW dimakamkan.
“Sempat ada rasa takut waktu naik (pesawat), tapi setelah itu nyaman,” ucap Jumariyah.
Karena tidak memiliki ponsel, ia selalu diselipkan di dalam rombongan jamaah lain saat menuju Raudhah agar tidak terpisah. Setibanya di Makkah sejak Sabtu (9/5/2026), Jumariyah tercatat telah menunaikan tiga kali umrah, terdiri dari satu umrah wajib dan dua umrah sunnah.
Menariknya, selama menjalani rangkaian ibadah tersebut, kondisi kesehatannya tetap prima.
“Di tanda pengenal saya ini ada tanda merah, yang artinya ada sakit. Tapi di nenek Jumariyah bersih, tidak ada sakit,” ujar Sitti.
“Selama umrah itu beliau paling semangat, kita ini sudah kecapekan, beliau masih semangat,” timpal Marwati, tetangga Jumariyah di Maros yang juga berangkat haji.
Saat ditanya rahasia kesehatannya di usia senja, Jumariyah menjawab sederhana.
“Ke sawah setiap hari, juga banyak minum air,” ujarnya.
Selain aktif bergerak dan rutin minum air putih, ia juga berusaha menjaga pikirannya agar tidak stres. Soal makanan pun ia tidak memiliki pantangan.
Selama berada di Tanah Suci, Jumariyah mengaku menikmati semua makanan yang disajikan tanpa memilih-milih. Kini, ia bersiap menyambut puncak ibadah haji di Arafah. Dalam sembilan hari ke depan, Jumariyah akan menjalani wukuf sambil membawa doa dan kerinduan yang telah ia panjatkan selama puluhan tahun.