Kolase kondisi wilayah Indonesia dan Thailand usai dihantam banjir. Jumlah korban tewas usai banjir dan badai di Thailand, Sri Lanka, dan Indonesia sudah tembus 900 orang lebih. (Foto: AP).
JAKARTA, (ERAKINI) - Gelombang bencana hidrometeorologi mengguncang kawasan Asia ketika dua siklon langka, Siklon Senyar dan Siklon Ditwah, menyapu Thailand, Sri Lanka, Indonesia, Malaysia, dan India. Dalam hitungan hari, lebih dari 900 orang kehilangan nyawa, sementara ratusan lainnya masih dinyatakan hilang. Curah hujan ekstrem yang disebut sebagai terparah dalam beberapa dekade memicu bandang, tanah longsor, hingga kelumpuhan wilayah.
Tragedi Besar di Asia Tenggara: Jutaan Warga Terdampak
Siklon Senyar, fenomena yang jarang sekali muncul di Selat Malaka, memicu cuaca ekstrem di Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Data resmi mencatat lebih dari empat juta penduduk terdampak banjir, dengan Thailand selatan menyumbang hampir tiga juta jiwa dan Indonesia barat sekitar 1,1 juta jiwa.
Indonesia menjadi salah satu negara dengan dampak terparah. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban yang meninggal akibat banjir dan longsor melonjak menjadi 442 orang, meningkat tajam dari laporan awal pekan yang mencatat 174 korban.
Sebanyak 279 warga masih hilang, sementara 80.000 orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka yang terendam atau hanyut. Tiga provinsi di Sumatra barat menjadi wilayah paling terpukul. “Air langsung masuk ke rumah. Kami panik dan mengungsi. Saat kembali, rumah itu sudah rata dengan tanah,” tutur Afrianti, 41 tahun, yang kini berlindung di Padang.
Situasi Mencekam: Penjarahan hingga Jalur Terputus
Kondisi darurat mendorong sebagian warga terpaksa mengambil makanan dan air untuk bertahan hidup. Polisi mengakui bahwa aksi penjarahan terjadi sebelum bantuan tiba. Video yang beredar menampilkan warga berlarian menerjang banjir setinggi pinggang, melewati pecahan kaca dan barikade demi mendapatkan logistik, obat-obatan, dan bahan bakar.
Di wilayah utara Sumatra, longsor besar memutus akses jalan utama termasuk jalur Trans-Sumatera, membuat sejumlah komunitas terisolasi selama lebih dari 72 jam. Bantuan hanya bisa dikirim menggunakan helikopter. “Kami masih berusaha membuka jalur Tapanuli Utara–Sibolga yang terputus total selama tiga hari,” ujar Kepala BNPB Suharyanto. Ia memperingatkan bahwa jumlah korban kemungkinan akan terus bertambah.
Thailand juga menanggung beban berat, dengan 170 korban jiwa dan 1,4 juta rumah tangga terdampak. Sebanyak 12 provinsi di bagian selatan terendam banjir. Kota Hat Yai di Songkhla mencatat curah hujan 335 mm dalam satu hari, tertinggi dalam rentang 300 tahun terakhir. Pemerintah menyebut kondisi ini sebagai situasi paling kritis dalam sejarah wilayah itu.
Di negara tetangga Malaysia, wilayah Perlis di utara terendam banjir besar. Dua orang dinyatakan meninggal, sementara puluhan ribu warga harus mengungsi ketika air melanda kawasan permukiman dan lahan pertanian.
Sri Lanka kini menghadapi salah satu bencana terburuk dalam sejarahnya setelah dihantam Siklon Ditwah. Korban tewas meningkat menjadi 334 orang, dan hampir 400 orang masih hilang, menurut Pusat Penanggulangan Bencana (DMC).
Di antara korban hilang terdapat lima anggota angkatan laut yang tersapu arus saat berusaha memperbaiki sistem air di Laguna Chalai.
Sekitar 80.000 orang mengungsi, dan 120.000 lainnya berada di pusat penampungan. Banyak daerah dikhawatirkan akan kehilangan akses listrik, internet, dan air bersih karena instalasi rusak dan fasilitas penyaring air terendam.
Militer Sri Lanka, angkatan darat, laut, dan udara, dikerahkan penuh untuk membantu evakuasi dan distribusi logistik.
Para ahli meteorologi memperingatkan bahwa hujan ekstrem masih mungkin melanda dalam beberapa hari ke depan seiring meluasnya efek kedua siklon. Layanan publik di berbagai negara berada dalam kondisi kritis, sementara operasi penyelamatan masih berlangsung. Dengan sebagian wilayah belum terjangkau dan data yang terus berubah, angka korban diperkirakan akan meningkat.