Para pengungsi Palestina yang dievakuasi dari zona perang Israel. Saat ini kawasan aman untuk pengungsi Palestina dari perang Israel hanyalah 16 persen dari wilayah Gaza. (Foto: Aljazeera)
GAZA, (ERAKINI) - Setidaknya 84 persen wilayah Gaza kini berada dalam zona evakuasi, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Selain itu PBB juga memperkirakan bahwa 90 persen dari 2,1 juta penduduk telah mengungsi selama perang.
Melansir Arab News, Sabtu (24/8/2024), ada sebanyak 13 kali perintah evakuasi telah dikeluarkan oleh Israel kepada sejak 22 Juli, menurut perhitungan Associated Press. Evakuasi itu secara signifikan mengurangi ukuran zona kemanusiaan yang diumumkan oleh Israel pada awal perang dan mendorong lebih banyak warga Palestina ke zona tersebut dibandingkan sebelumnya.
Militer Israel menyebut bahwa evakuasi diperlukan karena Hamas telah meluncurkan roket dari dalam zona kemanusiaan. Dalam postingan di X, juru bicara militer berbahasa Arab, Avichay Adraee, telah menginstruksikan warga Palestina untuk segera melarikan diri, dan mengatakan bahwa militer akan segera beroperasi “dengan kekuatan” melawan militan Hamas di wilayah tersebut.
Pada bulan Agustus saja, perintah evakuasi dikeluarkan setiap dua hari dan menyebabkan hampir 250.000 orang mengungsi, kata PBB. “Banyak orang di sini yang mengungsi lebih dari 10 kali. Mereka kelelahan dan bangkrut,” kata Georgios Petropoulos, kepala Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB di Gaza.
Sepasang foto satelit yang diambil selama sebulan terakhir menunjukkan dampak dari perintah tersebut. Citra yang diperoleh dari PlanetLabs dan ditinjau oleh AP, menunjukkan bahwa tenda-tenda di sepanjang pantai semakin padat sejak 19 Juli hingga 19 Agustus.
Pada tanggal 19 Agustus, tenda-tenda menutupi hampir semua petak berpasir yang tersedia dan didirikan lebih dekat ke laut. Bahkan warga Palestina yang tinggal di zona kemanusiaan yang diumumkan Israel pada awal perang terpaksa pindah.
Pada tanggal 22 Juli, militer memerintahkan evakuasi sebagian besar tepi timur zona tersebut, dengan mengatakan bahwa Hamas telah meluncurkan roket ke Israel. Kemudian pada 16 Agustus, militer kembali memperkecil zona tersebut, dan menyerukan warga Palestina yang tinggal di pusat tersebut untuk melarikan diri.
Evakuasi tersebut terjadi ketika mediator internasional berjuang untuk menjembatani perbedaan antara Israel dan Hamas mengenai perjanjian gencatan senjata yang akan menghentikan pertempuran di Gaza dan menukar sejumlah sandera Israel dengan tahanan Palestina.
Perang dimulai pada 7 Oktober, ketika militan Hamas menerobos perbatasan Israel, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera sekitar 250 lainnya. Serangan balasan Israel kini telah menewaskan lebih dari 40.000 orang di Gaza dan menghancurkan bangunan dan infrastruktur di jalur tersebut.
Air juga menjadi korban evakuasi. PBB mengatakan pasokan air di Deir Al-Balah telah berkurang setidaknya 70 persen sejak gelombang evakuasi baru-baru ini dimulai, karena pompa dan pabrik desalinasi berada di dalam zona evakuasi.
Kurangnya air bersih menyebabkan penyakit kulit dan wabah penyakit lainnya. Badan kesehatan utama PBB telah mengonfirmasi kasus polio pertama di Gaza pada bayi berusia 10 bulan di Deir Al-Balah yang kini mengalami kelumpuhan pada kaki kiri bagian bawah.
Sementara itu, kelompok pemberi bantuan mengatakan semakin sulit memberikan bantuan. Juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan pada hari Kamis bahwa Program Pangan Dunia PBB kehilangan akses ke gudangnya di pusat Deir Al-Balah karena perintah evakuasi baru-baru ini.