WASHINGTON, (ERAKINI) - Pertemuan tingkat tinggi di Gedung Putih diprediksi berlangsung penuh tekanan. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, disebut-sebut akan mendorong Jepang untuk ikut terlibat dalam konflik melawan Iran saat menerima kunjungan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi.
Langkah ini menempatkan Tokyo dalam posisi yang serba sulit. Di satu sisi, Jepang merupakan sekutu dekat Washington. Namun di sisi lain, keterlibatan dalam konflik Timur Tengah berpotensi menimbulkan penolakan besar di dalam negeri.
Tekanan untuk Amankan Selat Hormuz
Trump sebelumnya mengkritik sekutu-sekutunya karena dinilai kurang mendukung operasi militer AS-Israel. Meski menyatakan Amerika tidak membutuhkan bantuan, ia tetap mendorong negara mitra untuk berkontribusi, terutama dalam pengamanan jalur vital energi di Selat Hormuz. Wilayah tersebut kini menjadi titik panas setelah sebagian ditutup oleh Iran, mengganggu arus tanker minyak global.
Bagi Takaichi, kunjungan ini awalnya ditujukan untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan keamanan bilateral. Namun situasi geopolitik yang memanas mengubah agenda menjadi jauh lebih sensitif.
Ia sebelumnya berupaya mendorong Jepang keluar dari batasan konstitusi pasifis pasca Perang Dunia II. Namun hingga kini, Tokyo belum menyatakan dukungan militer langsung terhadap konflik Iran. “Kunjungan ini tiba-tiba menjadi sangat menegangkan bagi Takaichi,” ujar Chris Johnstone. “Ia pada dasarnya akan menjadi sekutu pertama yang harus menanggapi permintaan Trump untuk bantuan di Timur Tengah,” tambahnya.
Isu Rudal dan Stok Senjata AS
Selain permintaan dukungan militer, Washington juga diperkirakan akan meminta Jepang membantu produksi atau pengembangan bersama rudal. Hal ini berkaitan dengan menipisnya stok amunisi AS akibat konflik di Iran dan perang di Ukraina.
Namun, pemerintah Jepang masih mengkaji langkah tersebut agar tetap sesuai dengan batasan hukum domestik. Di sisi lain, Jepang ingin mengingatkan AS tentang ancaman yang datang dari Tiongkok, khususnya terkait stabilitas Taiwan.
Menariknya, pernyataan Takaichi yang mendukung Taiwan sebelumnya dinilai sebagai “pergeseran signifikan” oleh intelijen AS, dan sempat memperkeruh hubungan Tokyo dengan Beijing.
Berbeda dengan AS, Jepang masih memiliki hubungan diplomatik dengan Iran. Hal ini membuka peluang bagi Tokyo untuk berperan sebagai mediator, meskipun upaya serupa di masa lalu belum membuahkan hasil.
Meski dibayangi isu militer, Gedung Putih menegaskan bahwa pertemuan ini juga akan membahas implementasi kesepakatan dagang 2025, kerja sama energi, rantai pasok, hingga teknologi.
Selain itu, Jepang diperkirakan akan mengumumkan tambahan investasi besar di AS, yang bisa mencapai puluhan miliar dolar, sebagai bagian dari komitmen ekonomi jangka panjang.
Pertemuan ini menjadi ujian diplomasi bagi Jepang: antara menjaga aliansi strategis dengan Amerika Serikat atau tetap berhati-hati agar tidak terseret lebih jauh ke dalam konflik berskala global.