JAKARTA, (ERAKINI) – Iran melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Isreal sebagai balasan atas gugurnya Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Ali Larijani. Militer Iran menyebut melancarkan serangan rudal ke lebih dari 100 target di wilayah Israel dalam eskalasi terbaru Operasi True Promise 4.
Al Jazeera melaporkan, serangan pada Selasa (17/3) malam menggunakan rudal dengan hulu ledak ganda yang dirancang untuk lebih mudah menembus sistem pertahanan udara. Dua orang dilaporkan tewas di wilayah Ramat Gan, dekat Tel Aviv.
Pecahan proyektil yang jatuh melukai sejumlah orang lainnya serta menyebabkan kerusakan properti yang parah, termasuk di sebuah stasiun kereta di Tel Aviv, menurut laporan media Israel.
Reporter Al Jazeera melaporkan dari Ramallah di Tepi Barat yang diduduki, menggambarkan malam itu sebagai “malam yang sulit” di Israel, dengan masuknya amunisi cluster yang memicu kepanikan besar. Dalam pernyataannya, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyebut serangan tersebut sebagai balasan atas darah syahid Ali Larijani.
Iran menggelar pemakaman di Teheran pada Rabu (18/3) untuk Larijani serta Gholamreza Soleimani, kepala pasukan paramiliter Basij, yang keduanya tewas dalam serangan udara Israel. Menurut Press TV, upacara tersebut dihadiri pejabat dan pelayat yang memberikan penghormatan kepada kedua tokoh tersebut.
Untuk membalas gugurnya Larijani, militer Iran menyatakan telah melancarkan gelombang besar serangan rudal ke lebih dari 100 target di wilayah Israel dalam eskalasi terbaru Operasi True Promise 4. Serangan ini mengguncang Tel Aviv dan memicu pemadaman listrik.
Dilansir kantor berita Tasnim, Rabu (18/3), dalam gelombang serangan ke-61 sejak dimulainya Operasi True Promise 4 sebagai respons terhadap kampanye militer AS-Israel, Angkatan Bersenjata Iran telah menembakkan rentetan rudal Khorramshahr-4, Qadr, Emad, dan Khaybar-shekan ke Tel Aviv sebagai balasan atas gugurnya Larijani beserta para pendampingnya.
"Rudal Khorramshahr-4 dan Qadr yang dilengkapi hulu ledak ganda disebut berhasil menembus sistem pertahanan udara berlapis dan canggih milik rezim Zionis, serta menghantam lebih dari 100 target militer dan keamanan di jantung wilayah pendudukan dalam operasi cepat dan intens," bunyi pernyataan Angkatan Bersenjata Iran tersebut.
Informasi yang beredar menunjukkan terjadi pemadaman listrik di sejumlah wilayah Tel Aviv setelah operasi rudal yang dilakukan oleh Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), sehingga menyulitkan otoritas Zionis dalam mengendalikan situasi dan mengerahkan tim penyelamat. Berdasarkan perkiraan awal, serangan Iran tersebut menyebabkan lebih dari 230 orang tewas dan terluka.
Amerika Serikat dan rezim Israel kembali disebut telah melancarkan kampanye militer besar-besaran tanpa provokasi terhadap Iran setelah pembunuhan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer senior dan warga sipil pada 28 Februari.
Serangan tersebut mencakup gempuran udara luas terhadap target militer dan sipil di seluruh Iran, yang menyebabkan korban jiwa signifikan serta kerusakan infrastruktur secara meluas.
Salah satu serangan terbaru menghantam fasilitas peradilan di Larestan, Iran selatan, menewaskan dan melukai warga sipil serta staf peradilan, menurut kantor berita Mizan. Serangan lain menargetkan fasilitas gas alam yang terkait dengan ladang lepas pantai South Pars.
Sejumlah serangan lainnya terjadi di Iran barat, termasuk satu serangan yang menewaskan tujuh orang dan melukai 56 lainnya di kawasan padat penduduk di Kota Dorud, serta serangan lain yang menewaskan empat orang di wilayah pedesaan Chegeni, menurut Tasnim.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa serangan itu menewaskan Menteri Intelijen Iran, Esmaeil Khatib, meski Teheran belum memberikan konfirmasi atas laporan tersebut.
Pembunuhan Larijani oleh Israel disebut sebagai salah satu operasi paling menonjol sejak serangan terhadap Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada hari pertama perang. Selain Larijani, Israel juga menewaskan Soleimani. Meski demikian, Iran memastikan sistem pemerintahan tetap kuat dan mampu bertahan dari kehilangan tokoh-tokoh penting.
Sebagai respons, Angkatan Bersenjata Iran terus melakukan operasi balasan dengan menargetkan posisi Amerika dan Israel di wilayah pendudukan serta pangkalan regional menggunakan gelombang rudal dan drone. Iran menegaskan bahwa operasi balasan terhadap AS dan Israel akan terus berlanjut secara tegas sebagai bentuk pembalasan atas darah para syuhada.