Dubes Mauritania: Toleransi Ciptakan Perdamaian dan Stabilitas Politik
Akhmad Baihaqi Arsyad
JAKARTA, (ERAKINI) – Duta Besar (Dubes) Mauritania untuk Republik Indonesia (RI) Houssen Sidi Abdellah Deh mengatakan bahwa toleransi menciptakan perdamaian dan stabilitas politik sehingga, budaya toleransi harus ditanamkan sejak dini agar menjadi kebiasaan.
“Pembahasan tentang toleransi adalah hal yang paling penting karena toleransi menciptakan perdamaian dan stabilitas politik,” kata Houssen Sidi Abdellah Deh dalam acara Jakarta Plurilateral Dialogue (JPD) 2023 di Hotel Borobudur, Rabu (30/8/2023).
Untuk itu, menurutnya, toleransi harus menjadi kebiasaan, tradisi dan aktivitas keseharian. Pada kesempatan itu, dia pun menceritakan bagaimana Mauritania membangun budaya toleransi.
“Mauritania punya sejarah catatan panjang sebagai negara toleran. Dan ini merupakan nilai-nilai keseharian yang kami praktikkan sehari-hari,” katanya.
Ia menyebut, Mauritania memiliki suatu sistem yang sangat khusus terkait Al Quran. Di samping Mauritania merupakan negara dengan pembaca Al Quran setiap hari, di Mauritania terdapat pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah yang mengajarkan Al-Quran sejak dini kepada anak-anak Mauritania.
“Dan praktik ini sudah berlangsung berabad-abad, turun menurun dan diteruskan di Mauritania,” jelasnya.
Dengan kebiasaan tradisi belajar di pesantren sejak kecil, menurutnya, memudahkan anak-anak dan warga Mauritania secara umum untuk bisa memahami Bahasa Arab dan juga nilai-nilai Al Quran sekaligus memperkenalkannya ke konteks regional terutama negara-negara Afrika.
Ia menyebut, ada banyak juga tokoh-tokoh yang juga belajar ke pesantren-pesantren di Mauritania untuk belajar Al-Quran.
“Jadi, ini adalah nilai-nilai keseharian yang kami praktikan sehari-hari. Dan kita dipercayai sebagai negara toleransi,” katanya.


















