Pentagon dilaporkan tengah mempersiapkan perang darat besar-besaran ke Iran. Ribuan tentara Marinir Amerika Serikat (AS) telah dikerahkan ke Timur Tengah. Foto: Ilustrasi/Daily Mail
JAKARTA, (ERAKINI) – Pentagon dilaporkan tengah mempersiapkan perang darat besar-besaran ke Iran. Ribuan tentara Marinir Amerika Serikat (AS) telah dikerahkan ke Timur Tengah.
Masih belum jelas apakah Presiden Donald Trump telah atau akan menyetujui rencana Pentagon tersebut. Namun, dilansir
Minggu (29/3/2026), para pejabat pertahanan AS bersiap menghadapi apa yang disebut sebagai “eskalasi besar”, meskipun setiap aksi militer diperkirakan tidak akan sampai pada invasi penuh. Operasi akan mengandalkan pasukan operasi khusus yang didukung oleh infanteri.
Hal ini terjadi ketika Unit Ekspedisi Marinir ke-31 AS tiba di kawasan Timur Tengah pada Sabtu (28/3) dengan membawa sekitar 3.500 personel tambahan. Unit ini biasanya bertugas mencegat kapal dan menguasai wilayah, menurut Wall Street Journal.
Pengerahan marinir ini bertepatan dengan masuknya kelompok Houthi yang didukung Iran ke dalam konflik, setelah mereka meluncurkan serangan rudal yang gagal ke Israel. Presiden Trump juga dilaporkan masih mempertimbangkan untuk mengirim tambahan 10.000 pasukan ke Timur Tengah guna memperluas opsi militer Washington.
Pemerintahan Trump menegaskan bahwa perang semakin mendekati akhir dan tengah mengupayakan perundingan damai dengan Teheran, sembari tetap membuka kemungkinan penggunaan kekuatan militer tambahan. “Ini semacam sudah selesai, tapi belum selesai. Ini harus diselesaikan,” ujar Trump Jumat lalu.
Sementara itu, Sekretaris Pers Karoline Leavitt memperingatkan bahwa jika rezim di Teheran tidak menghentikan ancaman dan ambisi nuklirnya, AS siap melepaskan kekuatan besar.
Leavitt menegaskan bahwa tugas Pentagon adalah menyiapkan berbagai opsi bagi Panglima Tertinggi, namun itu tidak berarti Presiden Trump telah mengambil keputusan.
Sumber The Washington Post menyebutkan bahwa target operasi berlangsung hanya berkisar mingguan, bukan hingga beberapa bulan.
Pentagon belum memberikan komentar resmi terkait rencana operasi darat ini. Begitu juga Gedung Putih, belum merespons permintaan pernyataan. Seorang mantan pejabat tinggi pertahanan AS mengatakan bahwa rencana operasi darat ini bukan disusun secara mendadak. “Ini sudah dikaji dan disimulasikan,” ujarnya.
255 Tentara AS Cedera Otak Traumatis
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam pertemuan di Prancis menyatakan bahwa konflik ini tidak diproyeksikan berlangsung lama. Ia juga menilai AS dapat mencapai tujuan tanpa pengerahan pasukan darat.
Namun demikian, sekitar 10.000 pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 juga disiapkan untuk dikerahkan, menambah ribuan Marinir yang sudah menuju kawasan. Sejauh ini, perang telah menewaskan sedikitnya 13 tentara AS, termasuk korban kecelakaan pesawat di Irak dan serangan drone di Port Shuaiba.
Belasan tentara AS lainnya juga dilaporkan terluka akibat serangan rudal Iran di Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi, yang turut merusak sejumlah pesawat pengisian bahan bakar.
Serangan tersebut menjadi salah satu pelanggaran paling serius terhadap pertahanan udara AS sejak perang dengan Iran dimulai sebulan lalu. Secara keseluruhan, lebih dari 300 tentara AS terluka, termasuk sekitar 225 yang mengalami cedera otak traumatis akibat ledakan rudal.
Di sisi lain, Arab Saudi dan negara-negara Teluk mulai menunjukkan sikap lebih tegas terhadap serangan Iran, yang berpotensi memperluas konflik.
Sementara itu, persediaan sistem pertahanan udara AS dan sekutunya mulai menipis setelah empat minggu konflik berlangsung.
Trump juga menyatakan bahwa Arab Saudi dan Israel seharusnya menormalisasi hubungan setelah konflik Iran berakhir, sebagai bagian dari inisiatif Abraham Accords. Namun, upaya tersebut masih menghadapi tantangan, termasuk tuntutan Arab Saudi terkait pembentukan negara Palestina.
Dampak Penutupan Selat Hormuz
Di tengah konflik, Iran menyatakan siap memfasilitasi bantuan kemanusiaan melalui Selat Hormuz, jalur vital yang mengangkut sekitar seperlima minyak dunia.
Namun, kelompok Houthi di Yaman memperingatkan kemungkinan menutup Selat Bab al-Mandeb di Laut Merah, jalur penting menuju Terusan Suez. Jika kedua jalur tersebut terganggu, dampaknya akan meluas secara global, memukul rantai pasok, pasar energi, dan biaya pengiriman.
Sekitar 10 persen perdagangan laut dunia melewati Laut Merah, termasuk seperlima lalu lintas kontainer global dan pengiriman mobil. Para analis menilai keterlibatan Houthi sebagai perkembangan yang sangat signifikan dalam konflik ini, mengingat kemampuan mereka mengganggu jalur pelayaran strategis.
Jika Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb sama-sama terganggu, distribusi minyak dari Teluk ke Eropa dan dunia bisa lumpuh total. Di tengah tekanan ekonomi global yang meningkat, Trump terus didesak untuk memecah kendali Iran atas Selat Hormuz.
Utusan Khusus AS Steve Witkoff menyebut Washington telah mengajukan rencana gencatan senjata 15 poin melalui Pakistan, namun ditolak Teheran.
Sebagai balasan, Iran mengajukan proposal lima poin yang mencakup kompensasi dan kontrol resmi atas selat tersebut. Trump memperingatkan bahwa jika Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz sepenuhnya sebelum 6 April, ia akan memerintahkan serangan terhadap fasilitas energi negara itu.