Search

Negosiasi Panas, Trump Sebut AS Bakal Hentikan Sementara Serangan ke Iran hingga 6 April 2026

WASHINGTON, (ERAKINI) – Presiden Donald Trump mengumumkan penghentian sementara serangan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari, menyusul permintaan dari Teheran di tengah konflik yang telah berlangsung hampir satu bulan.

Melalui unggahan di Truth Social, Trump menyatakan bahwa jeda serangan akan berlangsung hingga 6 April 2026. Ia juga menegaskan bahwa proses negosiasi antara kedua pihak ‘berjalan sangat baik’, meskipun situasi di lapangan masih memanas.

Keputusan ini muncul tak lama setelah Trump memperingatkan dalam rapat kabinet di Gedung Putih bahwa tekanan terhadap Iran akan ditingkatkan jika tidak ada kesepakatan. Ia bahkan menyebut Amerika Serikat bisa menjadi “mimpi buruk terburuk” bagi Iran apabila tuntutan Washington, termasuk penghentian program nuklir dan pembukaan jalur pelayaran, tidak dipenuhi.

Di sisi lain, pejabat Iran menilai proposal AS yang terdiri dari 15 poin sebagai ‘sepihak dan tidak adil’. Meski demikian, mereka menegaskan bahwa jalur diplomasi masih terbuka.

Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel ini telah berdampak luas terhadap ekonomi global. Gangguan distribusi energi menyebabkan harga minyak melonjak hingga 108 dolar per barel, sementara pengiriman gas alam cair ke Asia meningkat tajam. Harga pupuk berbasis nitrogen pun ikut meroket, menambah tekanan pada sektor pangan dunia.

Ketegangan juga berpusat di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global yang sempat diblokir Iran. Namun, ada sinyal pelonggaran setelah beberapa kapal dari negara tertentu diizinkan melintas dengan koordinasi khusus.

Trump turut mengusulkan agar Iran mengizinkan setidaknya 10 kapal tanker minyak melintasi selat tersebut sebagai bentuk itikad baik dalam perundingan, termasuk kapal berbendera Pakistan.

Meski ada jeda serangan, situasi masih jauh dari stabil. Iran dilaporkan tetap melancarkan serangan balasan terhadap target Israel dan pangkalan AS di kawasan, sementara Washington telah mengerahkan ribuan personel militer tambahan ke Timur Tengah, memicu spekulasi kemungkinan eskalasi lebih lanjut, termasuk operasi darat.

Perkembangan ini membuat pasar global bergejolak. Bursa saham melemah, sementara sektor industri seperti plastik, teknologi, ritel, dan pariwisata ikut terdampak. Namun, pernyataan terbaru Trump sempat memberikan dorongan terhadap nilai dolar AS di akhir perdagangan.

Kini, dunia menanti apakah jeda 10 hari ini akan menjadi pintu menuju perdamaian, atau sekadar jeda sebelum konflik yang lebih besar meletus.