JAKARTA, (ERAKINI) — Militer Amerika Serikat (AS) kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan menyita satu lagi kapal tanker yang diduga terlibat dalam penyelundupan minyak.
Langkah ini memperuncing ketegangan, hanya sehari setelah pasukan Garda Revolusi Iran merebut dua kapal di jalur vital Selat Hormuz.
Departemen Pertahanan AS merilis rekaman yang menunjukkan pasukan mereka berada di atas kapal tanker Majestic X, yang disergap di Samudra Hindia.
“Kami akan terus melakukan penegakan hukum maritim global untuk mengganggu jaringan ilegal dan mencegat kapal yang memberikan dukungan material kepada Iran, di mana pun mereka beroperasi,” demikian pernyataan Pentagon, dilansir AP, Jumat (24/4/2026).
Berdasarkan data pelacakan, Majestic X berada di perairan antara Sri Lanka dan Indonesia, wilayah yang sama dengan lokasi penyitaan kapal tanker Tifani sebelumnya oleh AS. Kapal tersebut diketahui tengah berlayar menuju Zhoushan, China. Hingga kini, Iran belum memberikan respons resmi atas penyitaan terbaru tersebut.
Insiden ini terjadi di tengah eskalasi cepat di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling krusial di dunia yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak global. Sehari sebelumnya, Iran menyerang tiga kapal kargo dan menyita dua di antaranya, mempertegas sikap agresifnya di kawasan tersebut.
Majestic X, yang berbendera Guyana, sebelumnya bernama Phonix dan telah masuk daftar sanksi Departemen Keuangan AS pada 2024, karena dituding mengangkut minyak mentah Iran secara ilegal, melanggar embargo terhadap Republik Islam tersebut.
Krisis Pasar Global Kian Tajam
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump telah memperpanjang gencatan senjata, namun menyatakan tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sebuah langkah yang dinilai memperpanjang kebuntuan kedua negara.
Krisis ini kini berdampak luas ke pasar global. Arus ekspor melalui Selat Hormuz nyaris terhenti, memicu lonjakan harga energi. Minyak mentah Brent bahkan melampaui 100 dolar AS per barel—melonjak sekitar 35% dibandingkan sebelum konflik.
Dampaknya tak hanya dirasakan sektor energi. Harga bahan bakar, pangan, hingga berbagai komoditas lain ikut terdongkrak. Komisaris Energi Uni Eropa, Dan Jorgensen, memperingatkan krisis ini bisa menimbulkan efek jangka panjang bagi konsumen dan dunia usaha, bahkan menyamakannya dengan krisis energi besar dalam 50 tahun terakhir.
Menurutnya, gangguan pasokan saat ini telah merugikan Eropa hingga sekitar 500 juta euro (setara 600 juta dolar AS) per hari, angka yang mencerminkan besarnya tekanan ekonomi akibat konflik yang belum menunjukkan tanda mereda.