Kondisi kabin Singapore Airlines penerbangan SQ321 setelah pendaratan darurat di Bandara Internasional Bangkok, Thailand. Foto: Stringer/Reuters/Al Jazeera
JAKARTA, (ERAKINI) - Para ahli memperingatkan awak penerbangan akan bahaya turbulensi cuaca cerah (Clear Air Turbulence/CAT) sebagaimana diduga dialami Singapore Airlines SQ321 rute London-Singapura. Perubahan iklim diperkirakan bakal memperburuk insiden turbulensi bagi dunia penerbangan.
Geoff Kitchen (73) sedang dalam perjalanan liburan bersama istrinya Linda saat Singapore Airlines SQ321 mengalami turbulensi, Selasa (21/5/2024). Setelah 10 jam penerbangan, Singapore Airlines SQ321 tiba-tiba turun 6.000 kaki (1.800 meter) dalam hitungan menit.
Boeing 777-300ER yang membawa 211 penumpang dan 18 awak terpaksa melakukan pendaratan darurat di Bangkok, Thailand. Geoff mengalami serangan jantung dan akhirnya meninggal dunia. Sementara sedikitnya 71 orang lainnya terluka dan 20 orang harus dirawat unit perawatan intensif di Bangkok.
Menurut laporan Al Jazeera, Kamis (23/5/2024), dibandingkan dengan jutaan penerbangan yang mengudara setiap tahunnya (perkiraan sekitar 40,1 juta pada tahun 2024), apa yang terjadi pada SQ321 sebenarnya jarang terjadi.
Di Amerika Serikat, pasar perjalanan udara terbesar di dunia, menurut Administrasi Penerbangan Federal hanya terdapat 163 cedera antara tahun 2009 dan 2022 yang memerlukan rawat inap akibat turbulensi. Dewan Keselamatan Transportasi Nasional belum melaporkan satu pun adanya kematian akibat turbulensi pada pesawat berbadan besar pada periode tersebut.
Bahkan, hampir tidak pernah terjadi turbulensi yang dapat menjatuhkan pesawat sebesar Boeing 777-300ER, apalagi pesawat komersial seperti SQ321. Meski pernah sebuah pesawat jatuh pada tahun 2001, hal itu terjadi karena kesalahan teknis dan tidak terkait langsung dengan turbulensi.
Kejadian itu menimpa American Airlines, penerbangan 587 dari JFK New York ke Santo Domingo, Republik Dominika. NTSB mengonfirmasi bahwa turbulensi menyebabkan kegagalan pada penstabil vertikal pesawat.
Apa penyebab turbulensi? Turbulensi pada dasarnya adalah gangguan di udara dan ada beberapa alasan mengapa hal itu terjadi. Medan seperti pegunungan dapat menggeser aliran udara, dan udara terpaksa naik ke atas yang dapat menimbulkan gelombang udara sehingga memicu turbulensi. Meskipun kondisi cuaca juga dapat memengaruhi, namun turbulensi yang paling berbahaya disebut turbulensi CAT.
“Hal ini bisa disebabkan oleh apa yang disebut gelombang gravitasi yang menyebabkan gelombang di udara yang tidak dapat Anda lihat. Satu-satunya cara pilot mengetahui hal ini adalah dengan mendengarnya (informasi) dari pilot sebelumnya. Pilot sering kali mendengarkan apa yang dikatakan pilot yang mengambil jalur penerbangan yang sama beberapa menit sebelumnya. Itulah cara terbaik untuk mendeteksi peristiwa turbulensi ini,” ujar Kepala Departemen Ilmu Atmosfer di Texas A&M University, Ramalingam Saravanan, kepada Al Jazeera.
Sebuah studi dari University of Reading di Inggris yang diterbitkan tahun lalu menemukan bahwa antara tahun 1979 dan 2020, turbulensi CAT memang meningkat sebesar 55 persen di Atlantik Utara, salah satu rute penerbangan tersibuk di dunia.
Suhu yang lebih hangat dapat mempengaruhi pola angin. Laporan tersebut menegaskan bahwa emisi gas rumah kaca adalah penyebab utama terjadinya hal ini. Hal ini juga diamini oleh para peneliti di Universitas Chicago yang memperkirakan bahwa pemanasan suhu dapat menyebabkan kecepatan angin yang lebih tinggi.
Studi tersebut menunjukkan bahwa kecepatan pemanasan global akan meningkat sebesar 2 persen untuk setiap derajat Celcius yang memanas. Angka ini diperkirakan akan meningkat sebesar 4 derajat Celcius pada akhir abad ini jika gas rumah kaca terus meningkat pada tingkat yang sama.
Menurut NASA, suhu global telah meningkat setidaknya 1,1 derajat Celcius sejak era pra-industri. Selama periode itu, lonjakan terbesar terjadi sejak tahun 1975. Para peneliti dari University of Chicago mengatakan, kecepatan angin diperkirakan akan memecahkan rekor, sehingga maskapai penerbangan perlu memperlambat kecepatan untuk membatasi dampak turbulensi terhadap keselamatan.
Turbulensi diperkirakan akan meningkat paling drastis di Atlantik Utara – rute utama antara Amerika Utara dan Eropa. Namun gelombang besar juga diperkirakan akan terjadi di China Tenggara, Pasifik Barat, dan India Utara. Sebuah studi pada tahun 2021 yang dilakukan oleh Universitas Nanjing di China memperkirakan peningkatan kasus CAT sebesar 15 persen pada tahun 2059.
Lonjakan di kawasan Asia Pasifik semakin meningkatkan kekhawatiran industri penerbangan. China diperkirakan akan menyalip Amerika Serikat sebagai pasar perjalanan udara dengan jumlah penumpang terbanyak pada tahun 2037.
Siapa yang paling terdampak ketika pesawat mengalami turbulensi?
Masalah turbulensi lebih berkaitan dengan keselamatan orang-orang di dalam pesawat dibandingkan dengan pesawat itu sendiri, dan sebagian besar terjadi ketika penumpang dan awak pesawat tidak mengenakan sabuk pengaman dengan benar.
Awak pesawat menyumbang 79 persen dari semua cedera yang berhubungan dengan turbulensi. “Turbulensi adalah masalah keselamatan tempat kerja yang serius bagi pramugari,” kata Sara Nelson, Presiden Asosiasi Pramugari-CWA, AFL–CIO dalam sebuah pernyataan.
“Sementara rincian mengenai penerbangan 321 Singapura masih dikembangkan. Laporan awal tampaknya mengindikasikan turbulensi cuaca cerah, yang merupakan jenis turbulensi paling berbahaya. Itu tidak dapat dilihat dan hampir tidak dapat dideteksi dengan teknologi saat ini. Satu detik, Anda melaju dengan lancar; berikutnya, penumpang, awak kabin, dan kereta tanpa pengaman atau barang lainnya dibuang ke sekitar kabin,” tambah Nelson.
Dirangkum dari berbagai sumber, turbulensi merupakan golakan massa udara yang bergerak secara tidak beraturan ke segala arah dan sering mengakibatkan goncangan selama penerbangan. Turbulensi memang kerap dihadapi dalam perjalanan udara. Akan tetapi kejadian turbulensi hebat dapat membahayakan penerbangan.
Umumnya peristiwa turbulensi terjadi secara tiba-tiba dan dapat terjadi pada semua fase kegiatan penerbangan, seperti pada fase menaikkan ketinggian awal (intial climbing), fase jelajah pesawat (cruising), maupun pada fase penurunan ketinggian menuju pendekatan (descending).
Turbulensi kerap dirasakan penumpang peawat tebang ketika kondisi cuaca buruk.Namun turbulensi juga dapat terjadi pada saat cuaca cerah. Terdapat 4 kategori turbulensi akibat cuaca yang diukur berdasarkan intensitas kekuatannya, yaitu kategori turbulensi ringan (light turbulence), turbulensi sedang (moderate turbulence), turbulensi hebat (severe turbulence), dan kategori turbulensi sangat hebat (extreme turbulence).
Dampak dari turbulensi ringan dan sedang umumnya tidak berbahaya dan masih dapat dikendalikan oleh penerbang, namun kejadian turbulensi setingkat severe turbulence dapat mengakibatkan penerbang kehilangan kendali pesawat dalam sesaat, barang-barang dalam kabin berjatuhan, serta perubahan ketinggian pesawat terbang secara mendadak.
Selain menyebabkan pesawat tidak dapat dikendalikan, kejadian turbulensi ekstrim juga dapat mengakibatkan kerusakan fatal pada struktur pesawat terbang, sehingga harus diperiksa kondisinya sesaat setelah mendarat.