Khaled bin Talal, ayah dari Sleeping Prince (Pangeran Tidur) Arab Saudi, Al-Waleed, mengajarkan banyak hal selama 20 tahun menjaga sang anak bangun dari koma. Foto: X
JAKARTA, (ERAKINI) - Khaled bin Talal, ayah dari Sleeping Prince (Pangeran Tidur) Arab Saudi, Al-Waleed, mengajarkan banyak hal selama 20 tahun menjaga sang anak bangun dari koma. Harapan tidak pernah pudar dan selalu berdoa buat kesembuhan sang anak.
Publik mungkin mengenang AL-Waleed sebagai seorang pangeran. Tapi lebih dari itu, ia adalah simbol ketabahan, keajaiban hidup, dan cinta keluarga yang tak tergoyahkan oleh waktu maupun keadaan.
Dikutip dari The Times of India, kasusnya ini menarik perhatian dan simpati yang melampaui lingkup keluarga kerajaan, menjadikan kamar rumah sakitnya seakan tempat ziarah spiritual yang hening. Keluarga, tamu, dan tokoh-tokoh agama sering berkumpul untuk membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, berharap keajaiban akan datang.
Beberapa video yang menunjukkan gerakan halus sang pangeran saat mendengar lantunan ayat suci sempat viral di media sosial, menjadi simbol harapan yang tak pernah padam dan kemungkinan mukjizat dari Tuhan.
Gerakan kecil seperti jari yang bergerak atau kepala yang sedikit menoleh menjadi sumber harapan bagi keluarganya. Sang ayah, Pangeran Khaled bin Talal, menolak semua saran untuk menghentikan alat bantu hidup. Baginya, hidup dan mati adalah hak Tuhan. Selama Tuhan belum mengambilnya, anaknya tetap berhak diperjuangkan.
Selama hampir 20 tahun, Khaled bin Talal tetap teguh pada keyakinannya bahwa putranya akan pulih. Dalam malam-malam doa selama Ramadhan maupun kunjungan keluarga di Hari Raya Idulfitri, Khaled selalu terlihat memanjatkan doa penuh haru, memohon kesembuhan dari Allah bagi sang pangeran.
Selama bertahun-tahun, ia memanfaatkan media sosial, terutama di platform X (Twitter), untuk membagikan perkembangan kondisi sang putra, menyampaikan doa, dan mengajak masyarakat turut mendoakan serta berbagi harapan.
Unggahannya bukan sekadar luapan kesedihan seorang ayah, tetapi juga cerminan dari keyakinan kuat yang mendampingi mereka sepanjang perjalanan panjang itu. Bahkan hingga beberapa hari sebelum kepergian putranya, ia masih menuliskan doa-doa tulus agar kesembuhan itu datang.
Dan, harapan dan perjuangan itu akhirnya berakhir. Pada Sabtu, 19 Juli 2025, Pangeran Khaled mengonfirmasi kabar duka meninggalnya sang putra melalui sebuah unggahan di X.
“Dengan hati yang penuh iman kepada takdir dan ketentuan Allah, dan dengan kesedihan yang mendalam, kami berduka atas wafatnya putra tercinta kami, Pangeran Al-Waleed bin Khaled bin Talal bin Abdulaziz Al Saud. Semoga Allah merahmatinya, yang hari ini telah kembali ke rahmat Allah,” tulisnya.
Diketahui, Pangeran Al-Waleedmeninggal dunia pada Sabtu (19/7) setelah berbaring dalam koma selama 20 tahun. Pangeran Al-Waleed adalah putra sulung dari Pangeran Khaled bin Talal dan cucu dari Pangeran Talal bin Abdulaziz, salah satu anak pendiri kerajaan, Raja Abdulaziz. Pangeran Al-Waleed juga keponakan dari miliarder terkenal, Pangeran Al-Waleed bin Talal.
Pengeran Al-Waleed dikenal cerdas dan memiliki nasionalisme tinggi untuk mengabdi pada negaranya. Untuk itu, ia memilih jalur pendidikan militer. Pada usia 15 tahun, ia berangkat ke London untuk belajar di Akademi Militer (Akmil) bergengsi di Britania Raya. Namun takdir berkata lain. Pada tahun 2005, Al-Waleed mengalami kecelakaan mobil hebat.
Al-Waleed sempat sadar sesaat dan menanyakan kondisi temannya yang selamat. Namun tak lama kemudian, ia jatuh koma akibat cedera otak berat dan pendarahan di kepala. Al-Waleed kemudian dilarikan ke King Abdulaziz Medical City di Riyadh dalam kondisi kritis. Saat itu dokter memperkirakan usia Al-Waleed hanya tinggal hitungan hari.
Namun, Al-Waleed menunjukkan keajaiban, ia bertahan. Meski dalam keadaan vegetatif dan tak sadar, jantungnya terus berdetak, seakan menolak menyerah pada vonis medis. Selama bertahun-tahun, ia tetap hidup dalam kondisi koma. Dalam kondisi itu, Al-Waleed terus bergantung pada ventilator dan alat bantu medis lainnya untuk mempertahankan fungsi vital tubuh.