Presiden AS Donald Trump menyebut bahwa AS bakal lanjut serang Iran secara intensif selama 3 minggu ke depan. Harga minyak langsung melonjak tajam. (Foto: China Daily).
WASHINGTON, (ERAKINI) - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali melontarkan pernyataan keras terkait konflik dengan Iran. Ia menegaskan bahwa militer AS akan melanjutkan serangan intensif dalam waktu dekat, sembari mengklaim operasi yang telah dilakukan sejauh ini melampaui target yang ditetapkan.
Trump menyampaikan bahwa tekanan militer terhadap Iran tidak akan mereda dalam waktu singkat. “Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras selama dua hingga tiga minggu ke depan. Kita akan membawa mereka kembali ke Zaman Batu, tempat mereka seharusnya berada,” katanya.
Meski demikian, ia tidak menyinggung peluang negosiasi ataupun tenggat waktu 6 April yang sebelumnya ia tetapkan terkait pembukaan Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dan gas dunia. Sebelumnya, Trump mengancam akan menghantam fasilitas energi Iran jika jalur tersebut tetap tertutup.
Dampak Global: Harga Minyak Melejit, Ekonomi Dunia Terguncang
Pernyataan agresif tersebut langsung mengguncang pasar global. Harga minyak melonjak signifikan, sementara bursa saham Asia mengalami penurunan.Minyak mentah Brent naik sekitar 5% menjadi sekitar Rp1.690.000 per barel. Sementara minyak mentah acuan AS meningkat sekitar 4,2% menjadi Rp1.660.000 per barel.
Di Amerika Serikat, harga bensin bahkan telah menembus lebih dari Rp16.000 per liter (setara lebih dari 4 dolar AS per galon), tertinggi sejak 2022. Kenaikan ini diperkirakan akan berdampak luas, termasuk pada harga bahan makanan akibat meningkatnya biaya distribusi dan produksi.
Lembaga kajian keamanan yang berbasis di New York, The Soufan Center, menilai kebijakan Trump berpotensi merugikan sekutu di kawasan Teluk.
Menurut lembaga tersebut, sikap Trump mengindikasikan bahwa AS siap mengabaikan pengamanan Selat Hormuz dan membiarkan negara lain menghadapi konsekuensinya sendiri. “Pesan Trump adalah bahwa Amerika Serikat dapat menjaga stabilitas ekonominya sendiri, sementara negara lain harus menanggung dampaknya atau mencari alternatif sendiri,” tulis laporan tersebut.
Dampak konflik juga terasa hingga Asia Tenggara. Di Thailand, harga bahan bakar kembali naik setelah subsidi pemerintah dikurangi. Harga solar kini menembus sekitar Rp630.000 per 100 liter (setara lebih dari Rp6.300 per liter)
Kenaikan ini merupakan yang kedua dalam satu pekan. Sejumlah tokoh Partai Demokrat mengkritik pidato Trump yang dinilai tidak memberikan kejelasan arah kebijakan. Mark Warner menyoroti dampak ekonomi yang makin berat bagi masyarakat: konflik ini telah mendorong kenaikan harga bensin, solar, pupuk, aluminium, dan kebutuhan pokok lainnya, dengan dampak jangka panjang bagi ekonomi.
Sementara itu, Chris Murphy menyebut pidato tersebut tidak mencerminkan kondisi nyata. “Pidato tersebut didasarkan pada realitas yang hanya ada dalam pikiran Donald Trump. Tidak ada yang benar-benar memahami apakah situasi ini sedang mereda atau justru makin memanas,” ujarnya.