Israel telah membunuh 27.131 warga Palestina selama 120 hari agresi militernya di Gaza. Jumlah ini hampir 3 kali lipat dari korban perang di Ukraina yang sudah berlangsung sekitar 2 tahun. Foto: TRT World
JAKARTA, ERAKINI - Israel telah membunuh 27.131 warga Palestina selama 120 hari agresi militernya di Gaza. Jumlah ini hampir 3 kali lipat dari korban perang Ukraina yang sudah berjalan sekitar 2 tahun.
"Perang di yang kini memasuki hari ke-120 telah menewaskan sedikitnya 27.131 warga dan melukai 66.287 lainnya," tulis kantor berita nasional milik Rusia, TRT World, dikutip Minggu (4/2/2024).
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan, total sudah 27.238 warga Palestina tewas dan 66.452 luka-luka akibat pemboman Israel sejak 7 Oktober.
Pernyataan terbaru dari kementerian tersebut mengungkapkan bahwa dalam 24 jam terakhir saja, pasukan Israel telah membunuh sedikitnya 107 warga Palestina dan menyebabkan 165 lainnya terluka.
Menurut TRT World, Israel telah membunuh warga Palestina rata-rata 250 orang setiap hari dalam dalam serangan militernya tiada henti selama hampir empat bulan atau sejak 7 Oktober 2023.
TRT Wolrl lalu membandingkan data korban Perang Ukraina dan Rusia yang sudah berlangsung hampir dua tahun atau sejak Presiden Putin mengumumkan operasi militer khusus pada 24 Februari 2022. Hingga memasuki hari ke 709, total warga Ukraina yang tewas akibat perang itu sebanyak 10.191 dan melukai 19.139 orang.
Dari jumlah data itu, terdapat 560 lebih korban tewas merupakan anak-anak. Sementara di Gaza, korban tewas anak-anak sudah mencapai 13.000 lebih.
Melihat angka korban perang di Gaza yang terus meningkat, terutama anak-anak, berbagai negara telah menyerukan untuk segera dilakukan gencatan senjata.
Kepala Badan Intelijen Nasional (MIT) Turki Ibrahim Kalin telah bertemu dengan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di ibu kota Qatar, Doha. Kalin dan Haniyeh membahas upaya gencatan senjata di Gaza, termasuk soal sandera Israel yang ditahan di daerah kantong tersebut, dan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Di London, Inggris, ribuan orang juga berunjuk rasa untuk menyerukan gencatan senjata segera di Gaza. Aksi ini sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Palestina. Ribuan orang berkumpul di depan BBC di Portland Place dan kemudian melakukan pawai menuju Kantor Perdana Menteri di Whitehall.
Sambil membawa bendera Palestina, massa meneriakkan slogan-slogan yang menyerukan diakhirinya serangan Israel di Gaza, sekaligus mengkritik pemerintah Inggris atas dukungannya terhadap Israel.
Mereka juga membawa berbagai poster bertuliskan “Bebaskan Palestina”, “Hentikan genosida”, dan “Saya seorang kritikus, bukan anti-Semit.”
Dari Jerman, Menteri Luar Negeri Annalena Baerbock memperingatkan baru Israel terhadap serangan militer di kota paling Selatan Gaza, Rafah.
“Bertindak (menyerang) sekarang di Rafah, tempat terakhir dan paling ramai, seperti yang diumumkan oleh Menteri Pertahanan Israel, tidak bisa dibenarkan,” kata Baerbock dalam wawancara dengan jaringan editorial RND.
“Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak. Bayangkan saja, mereka adalah anak-anak kita,” tambahnya. Setidaknya sepuluh warga Palestina tewas dan puluhan lainnya luka-luka setelah Israel melakukan serangan udara di Rafah.
Tak hanya itu, warga Israel juga sudah mulai protes keras dengan perang ini. Ratusan penduduk Israel melakukan protes terhadap pemerintah di Haifa, Rehovot, menyerukan pemilihan umum dini dan pembebasan warganya yang tersandera di Gaza.