Trump Kembali Beri Ultimatum Iran: ‘Segera Berdamai atau Kehancuran Menanti!’
Akhmad Baihaqi Arsyad
WASHINGTON, (ERAKINI) - Donald Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Iran di tengah memanasnya konflik yang terus mengguncang kawasan Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat itu mendesak Teheran agar segera menyetujui kesepakatan damai sebelum situasi berubah semakin buruk.
Melalui platform media sosial Truth Social, Trump menegaskan bahwa waktu bagi Iran semakin sempit. Ia bahkan memperingatkan bahwa negara tersebut dapat menghadapi kehancuran apabila terus menolak tuntutan perdamaian dari Washington.
“Waktu terus berjalan bagi Iran. Mereka harus bergerak cepat menuju kesepakatan damai, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka,” tulis Trump dalam unggahannya yang bernada tegas.
Konflik antara United States dan Iran semakin membara sejak operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel dilancarkan pada 28 Februari. Serangan besar-besaran tersebut memperparah ketegangan kawasan dan memicu lonjakan harga energi dunia.
Situasi semakin rumit setelah jalur strategis Selat Hormuz praktis mengalami gangguan serius. Selat penting itu selama ini menjadi jalur utama sekitar 20 persen ekspor minyak global, sehingga konflik berkepanjangan menimbulkan kekhawatiran besar terhadap stabilitas ekonomi internasional.
Iran, yang dikenal sebagai pendukung utama kelompok Hezbollah di Lebanon, disebut tetap bersikeras menuntut gencatan senjata permanen di Lebanon sebelum menyetujui perjanjian damai yang lebih luas dengan pemerintahan Trump.
Di tengah upaya diplomasi yang berjalan alot, bentrokan di kawasan masih terus terjadi. Militer Israel menyebut Hizbullah meluncurkan sekitar 200 proyektil ke wilayah Israel sepanjang akhir pekan, meskipun sebelumnya kedua pihak telah menyepakati perpanjangan gencatan senjata.
Kementerian Kesehatan Lebanon juga melaporkan serangan terbaru Israel di wilayah selatan negara itu menewaskan lima orang, termasuk dua anak-anak. Sejak perang dimulai, lebih dari 2.900 orang dilaporkan tewas di Lebanon.
Meski Washington dan Teheran sempat menyetujui gencatan senjata pada 8 April, negosiasi damai hingga kini masih menemui jalan buntu. Media-media Iran menilai Amerika Serikat tidak menawarkan konsesi nyata dalam proposal terbaru yang diajukan.
Kantor berita Fars melaporkan Washington tetap menuntut pembatasan fasilitas nuklir Iran dan meminta stok uranium dengan tingkat pengayaan tinggi dipindahkan ke Amerika Serikat. Selain itu, aset Iran yang dibekukan di luar negeri juga belum sepenuhnya dijanjikan untuk dicairkan.
Media Iran lainnya, Mehr, menuding Washington berusaha memperoleh keuntungan diplomatik yang gagal diraih melalui perang.
Ketegangan regional juga meluas ke kawasan Teluk. Serangan drone dilaporkan memicu kebakaran di dekat fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir di Abu Dhabi, meskipun otoritas setempat memastikan tidak ada korban jiwa maupun peningkatan radiasi.
Di sisi lain, Pakistan terus berupaya menjadi mediator dalam perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat. Menteri Dalam Negeri Pakistan, Mohsin Naqvi, bahkan melakukan pertemuan langsung di Teheran dengan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf.
Dalam pernyataannya, Ghalibaf menilai perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel justru memperburuk stabilitas kawasan Timur Tengah. Ia menegaskan kehadiran militer Amerika di kawasan tidak membawa keamanan, melainkan memperbesar potensi konflik.
Sementara itu, isu Iran juga dibahas dalam pertemuan penting antara Trump dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping. Namun, hingga kini belum terlihat adanya terobosan besar terkait penyelesaian konflik tersebut.

















