Pengungsi Palestina meninggalkan sebagian Khan Younis saat mereka kembali ke rumah mereka di Rafah, Jalur Gaza selatan, Minggu (19/1/2025). Foto: AP Photo/Jehad Alshrafi
GAZA, (ERAKINI) - Gencatan senjata antara Israel dan akhirnya terjadi di pada Minggu (19/1/2025). sempat terancam gagal setelah militer kembali memborbardir pada Minggu pagi yang menewaskan sedikitnya 26 orang.
Juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Daniel Hagari, mengatakan bahwa serangan dilanjutkan karena milisi Hamas tidak memenuhi kewajibannya, yakni belum menyerahkan daftar nama sandera yang akan dibebaskan sesuai kesepakatan.
"Sampai pagi ini Hamas tidak memenuhi kewajibannya, dan bertentangan dengan kesepakatan. Mereka belum menyerahkan nama-nama sandera yang akan dibebaskan," ujar Hagari, dikutip dari Al Jazeera.
Akibatnya, gencatan senjata tertunda hampir tiga jam, namun akhirnya bisa diterapkan. Hal ini emberikan harapan baru bagi pembebasan puluhan sandera yang masih ditahan oleh militan. Kesepakatan ini juga menandai akhir dari perang yang telah berlangsung selama 15 bulan dan menghancurkan kawasan tersebut.
Dikutip dari AP, sebelum gencatan senjata diberlakukan, perayaan meletus di seluruh wilayah, dan beberapa warga Palestina mulai kembali ke rumah mereka.
Gencatan senjata yang dimulai pada pukul 11.15 waktu setempat menjadi langkah awal untuk mengakhiri konflik dan mengembalikan hampir 100 sandera yang diculik dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Israel mengumumkan tiga sandera pertama akan dipulangkan pada Minggu malam sebagai bagian dari rencana pembebasan 90 tahanan Palestina.
Seorang pejabat Israel mengonfirmasi bahwa ketiga sandera perempuan itu, yakni Romi Gonen (24), Emily Damari (28), dan Doron Steinbrecher (31), akan dibebaskan oleh Hamas pada Minggu malam. Gonen diculik dari festival musik Nova, sedangkan yang lainnya diculik dari Kibbutz Kfar Aza. Damari adalah warga negara ganda Israel-Inggris.
Hamas seharusnya memberikan nama-nama tersebut sebelum dimulainya gencatan senjata, yang awalnya direncanakan pada pukul 08.30 waktu setempat. Namun, Hamas baru merilis nama-nama tersebut sekitar dua jam kemudian, dengan alasan teknis dan menyatakan bahwa pihaknya masih berkomitmen terhadap perjanjian tersebut.
Akibatnya, antara pukul 08.30 hingga ketika gencatan senjata diberlakukan puku 11.15 waktu setempat, serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 26 orang, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Hanya, tidak disebutkan apakah mereka warga sipil atau pejuang.
Sementara itu, Menteri Keamanan Nasional Israel, yang berhaluan keras, mengumumkan pengunduran dirinya dari pemerintahan sebagai bentuk protes terhadap perjanjian gencatan senjata. Pengunduran diri Itamar Ben-Gvir melemahkan koalisi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, namun tidak mempengaruhi berlakunya gencatan senjata.
Fase pertama gencatan senjata yang berlangsung selama 42 hari akan mengarah pada pembebasan 33 sandera dari Gaza dan ratusan tahanan Palestina. Ini juga akan memungkinkan bantuan kemanusiaan lebih banyak, dengan ratusan truk memasuki Gaza setiap hari, jauh lebih banyak daripada yang diizinkan sebelumnya.
Program Pangan Dunia PBB melaporkan bahwa truk bantuan mulai memasuki Gaza melalui dua penyeberangan setelah gencatan senjata diberlakukan.