Penggerebekan dramatis pasukan Amerika Serikat di Caracas tak hanya berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, tapi turut membawa serta Cilia Flores, sosok yang selama ini dikenal sebagai kekuatan besar di balik kekuasaan rezim Maduro. Foto: Getty Images
JAKARTA, (ERAKINI) — Penggerebekan dramatis pasukan Amerika Serikat di Caracas tak hanya berujung pada penangkapan Presiden VenezuelaNicolas Maduro. Dalam operasi tengah malam itu, AS juga membawa serta Cilia Flores, sosok yang selama ini dikenal sebagai kekuatan besar di balik kekuasaan rezim Maduro.
Dilansir BBC, Senin (5/1/2026), Cilia Flores (69) telah lama dipandang sebagai salah satu figur paling berpengaruh di Venezuela. Ia bukan sekadar Ibu Negara, melainkan operator politik ulung yang selama puluhan tahun ikut menentukan arah dan nasib negara tersebut.
Setelah bertahun-tahun memimpin Majelis Nasional Venezuela, Flores berperan penting dalam mengokohkan kekuasaan Maduro usai kemenangan tipisnya dalam Pemilihan Presiden 2013.
Sebagai Ibu Negara, Maduro menjulukinya “First Warrior”. Namun di ruang publik, Flores memilih tampil lebih sederhana, menampilkan citra keluarga dari rezim yang oleh para pengkritik disebut represif dan brutal.
Ia sempat membawakan acara televisi Con Cilia en Familia dan beberapa kali muncul di layar kaca negara untuk menari salsa bersama suaminya. Di balik layar, Flores diyakini menjadi salah satu penasihat utama Maduro sekaligus arsitek kelangsungan politiknya.
Selama bertahun-tahun, Flores kerap diterpa tuduhan korupsi dan nepotisme. Bahkan, sejumlah anggota keluarganya divonis bersalah di pengadilan Amerika Serikat dalam kasus penyelundupan kokain.
Kini, Flores menghadapi dakwaan serius di pengadilan New York, termasuk tuduhan perdagangan narkoba dan senjata, bersama sang suami.
Awal Pertemuan dengan Maduro
Flores pertama kali bertemu Maduro pada awal 1990-an. Saat itu, ia masih menjadi pengacara muda yang membela para pelaku kudeta gagal 1992 terhadap pemerintah Venezuela.
Salah satu tokoh utama yang ia bela adalah Hugo Chávez, yang kelak menjadi presiden. Pada masa itulah Flores berkenalan dengan Maduro, yang saat itu bekerja sebagai pengawal Chavez.
“Saya bertemu Cilia dalam perjalanan hidup. Dia pengacara para perwira militer patriotik yang dipenjara, termasuk Komandan Chavez. Menjadi pengacara Chavez di penjara bukan perkara mudah,” kenang Maduro.
Sejak saat itu, jalan hidup Flores dan Maduro terikat erat dengan Chávez dan gerakan politik Chavismo. Setelah Chavez memenangkan Pemilu 1998, karier politik Flores melesat. Ia masuk Majelis Nasional pada 2000 dan menjadi ketua parlemen pada 2006.
Selama enam tahun, ia memimpin parlemen yang nyaris dikuasai satu partai, menyusul boikot pemilu oleh oposisi yang menilai proses pemilihan tidak adil.
Ketika Chavez meninggal pada 2013, Flores menjadi pendukung utama Maduro. Beberapa bulan setelah kemenangan Maduro, keduanya menikah, meresmikan hubungan panjang yang sebelumnya dijalani dengan hidup bersama dan membesarkan anak-anak dari pernikahan sebelumnya.
“Ia menjadi elemen krusial dalam rezim Maduro,” ujar jurnalis Venezuela Jose Enrique Arrioja. “Bukan hanya sebagai sandaran emosional, tetapi juga penasihat profesional. Dan ia sangat berorientasi pada kekuasaan,” lanjutnya.
Namun, karier Flores terus dibayangi kontroversi. Pada 2012, serikat pekerja menuduhnya melakukan nepotisme dengan memengaruhi perekrutan hingga 40 orang, termasuk anggota keluarganya. “Saya bangga dengan keluarga saya dan akan membela mereka,” tegas Flores kala itu.
Nama Flores kembali mencuat pada 2015 dalam kasus “narco nephews”. Dua keponakannya, Francisco Flores de Freitas dan Efrain Antonio Campo Flores, ditangkap di Haiti dalam operasi jebakan DEA saat mencoba menyelundupkan 800 kilogram kokain ke Amerika Serikat.
Meski Flores menuding AS telah “menculik” keponakannya, pengadilan menjatuhkan hukuman 18 tahun penjara. Keduanya dipulangkan ke Venezuela pada 2022 melalui pertukaran tahanan di era Presiden Joe Biden.
Namun bulan lalu, pemerintahan Donald Trump kembali menjatuhkan sanksi kepada kedua keponakan tersebut, serta seorang keponakan lainnya, Carlos Erik Malpica Flores. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menuding rezim Maduro membanjiri AS dengan narkoba.
Dakwaan terbaru terhadap Flores menyebut ia menerima suap ratusan ribu dolar pada 2007 untuk mengatur pertemuan antara seorang bandar narkoba besar dan kepala Kantor Antinarkoba Nasional Venezuela.
“Bagi para pengkritiknya, ia adalah bagian dari pemerintahan yang sangat korup dan melanggar HAM,” kata Christopher Sabatini dari Chatham House.
“Ia adalah kekuatan di balik singgasana. Tangannya jarang terlihat, sehingga tak banyak yang benar-benar memahami seberapa besar kekuasaannya,” tukasnya.