Mengutip AP, Minggu (4/1), penangkapan Nicolas Maduro menjadi salah satu peristiwa geopolitik paling dramatis di awal 2026. Operasi militer ini juga menjadi tindakan paling agresif AS dalam upaya perubahan rezim sejak invasi Irak tahun 2003. Operasi ini langsung mengubah peta kekuasaan Venezuela hanya dalam hitungan jam.
Operasi militer itu berlangsung cepat, rahasia, dan penuh ketegangan. Aksi itu dilakukan pada Sabtu (3/1/2026) dini hari waktu setempat, menyusul serangkaian manuver yang telah dipersiapkan selama berbulan-bulan.
Menurut keterangan pejabat AS, operasi dimulai saat pasukan khusus AS melancarkan penyusupan mendadak ke Caracas. Ibu kota Venezuela itu dilaporkan diguncang sejumlah ledakan pada tengah malam, memicu kepanikan warga dan kebingungan di kalangan aparat keamanan setempat.
Di tengah kekacauan tersebut, pasukan AS bergerak menuju lokasi persembunyian Maduro. Target utama operasi adalah menangkap Maduro hidup-hidup dan membawanya keluar dari wilayah Venezuela.
Tak lama kemudian, Maduro dan istrinya Cilia Flores, berhasil diamankan. Keduanya ditangkap dalam operasi senyap, lalu segera dievakuasi menggunakan kendaraan militer sebelum dipindahkan ke sebuah kapal perang AS yang telah siaga di perairan.
Dievakuasi Lewat Laut, Terbang ke New York
Setelah dibawa ke kapal perang AS, Maduro dan Cilia Flores langsung diterbangkan ke Amerika Serikat. Mereka tiba di New York pada Sabtu malam waktu setempat dan langsung ditahan untuk menghadapi dakwaan konspirasi narkoterorisme.
Penangkapan tersebut disebut berlangsung tanpa perlawanan terbuka, meski situasi keamanan di Caracas masih bergejolak beberapa jam setelah operasi selesai.
Operasi Disiapkan Berbulan-bulan
Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, mengungkapkan bahwa operasi ini bukan keputusan spontan. Pasukan AS telah mempelajari kebiasaan Maduro secara detail, mulai dari lokasi-lokasi yang sering ia kunjungi, pola makan, hingga rutinitas pribadinya.
Bahkan, menurut Presiden Donald Trump, pasukan AS telah berlatih proses penangkapan dan evakuasi menggunakan bangunan replika yang dibuat menyerupai lokasi target.
Presiden AS Donald Trump menyebut operasi tersebut sebagai langkah penting untuk menghentikan peredaran narkoba berbahaya dari kawasan Amerika Selatan, sekaligus menandai tindakan paling agresif AS dalam upaya perubahan rezim sejak invasi Irak tahun 2003.
Trump menyatakan negaranya akan “menjalankan” Venezuela hingga proses transisi kekuasaan berlangsung. Namun, belum ada kejelasan mengenai bagaimana pernyataan itu akan diterapkan di lapangan maupun dampaknya bagi pemerintahan dan masyarakat Venezuela.