Tangkapan layar dari video siaran langsung menunjukkan awak kapal yang menuju Gaza, bagian dari Armada Sumud Global, mengangkat tangan saat dikepung oleh Pasukan Pertahanan Israel pada 2 Oktober 2025. (Foto: Armada Sumud Global via Reuters)
GAZA, (ERAKINI) - Pasukan Israel kembali melakukan tindakan represif dengan menghentikan 14 kapal bantuan menuju Gaza, sementara 30 kapal lainnya masih berlayar menuju wilayah Palestina yang kian terjepit, menurut laporan dari penyelenggara armada pada Kamis (2/10/2025).
Video yang disebarkan oleh Kementerian Luar Negeri Israel dan diverifikasi oleh Reuters memperlihatkan aktivis Swedia Greta Thunberg duduk di dek kapal, dikelilingi oleh tentara Israel. Israel menyatakan bahwa kapal-kapal tersebut distop dengan aman dan penumpangnya dipindahkan ke pelabuhan di Israel. Mereka mengklaim bahwa Greta dan kawan-kawannya ada dalam kondisi sehat dan selamat.
Armada bantuan ini, bernama Global Sumud Flotilla, membawa obat-obatan dan pangan untuk meringankan penderitaan rakyat Gaza. Kapal-kapal sipil itu diisi oleh sekitar 500 aktivis, legislator, pengacara, dan warga dari berbagai negara. Mereka menyebut misi mereka sebagai upaya kemanusiaan tanpa kekerasan. Namun Israel justru menanggapi armada tersebut sebagai ancaman provokatif.
Dalam unggahan di Telegram, penyelenggara armada menyatakan bahwa beberapa kapal dicegat di perairan internasional dan diklaim secara ilegal diduduki oleh pasukan Israel. Mereka juga mempertahankan bahwa pihak kapal tidak membawa senjata dan misi mereka murni solidaritas kemanusiaan terhadap penduduk Gaza yang menderita blokade.
Sekalipun Israel menuduh misi tersebut sebagai “tipuan” atau “propaganda Hamas”, respons dari negara-negara luar sangat keras. Kementerian Luar Negeri Turki mengecam tindakan Israel sebagai “teror terhadap warga sipil tanpa bersalah.” Presiden Kolombia bahkan memerintahkan pengusiran diplomat Israel sebagai balasan atas penahanan dua warga Kolombia di armada tersebut.
Di Malaysia, Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengecam intersepsi tersebut dan menegaskan bahwa Israel menunjukkan penghinaan terhadap hak-hak rakyat Palestina serta nurani kemanusiaan dunia.
Italia menyaksikan protes publik besar terhadap tindakan Israel, sementara serikat pekerja menyerukan pemogokan sebagai solidaritas terhadap armada bantuan. Brasil juga mengecam tindakan militer Israel, menilai bahwa mereka telah mencederai hak asasi manusia para aktivis damai.
Israel telah memblokade Gaza melalui jalur laut sejak Hamas menguasai wilayah tersebut pada 2007, memperketatnya seiring konflik yang terus berkecamuk sejak Oktober 2023. Dalam upaya mematahkan pengepungan ini, armada bantuan menjadi simbol perlawanan, meskipun sering kali disambut dengan tindakan militer Israel.
Israel sendiri mengklaim bahwa armada tersebut melanggar aturan blokade dan keamanan maritim, dan menuduh misi tersebut bersifat “provokatif” ketimbang tulus kemanusiaan. Mereka menawarkan agar bantuan disalurkan melalui jalur aman yang dikontrol pihak Israel.
Namun bagi rakyat Palestina dan pendukung mereka di dunia, tindakan Israel merupakan pelanggaran berat terhadap hak asasi, kebebasan, dan martabat manusia yang terus dibungkam di bawah tekanan blokade dan agresi militer.