Ngeri! Israel Mulai Blokade Jalur Terakhir Warga Gaza dari Selatan, Akses Ditutup Paksa
Akhmad Baihaqi Arsyad







Dalam pernyataan melalui media sosial X (dahulu Twitter), juru bicara militer Israel untuk dunia Arab, Avichay Adraee, mengumumkan bahwa Jalan Al-Rashid, satu-satunya jalur evakuasi yang tersisa bagi warga Gaza dari selatan menuju utara, akan ditutup total mulai pukul 12.00 waktu setempat.
"Jalan Al-Rashid akan ditutup untuk lalu lintas dari wilayah sektor selatan pada pukul 12.00 (09.00 GMT)," kata juru bicara militer berbahasa Arab Avichay Adraee di X. "Pergerakan ke selatan akan diizinkan bagi mereka yang tidak dapat meninggalkan Kota Gaza. Pada tahap ini, (militer Israel) mengizinkan pergerakan bebas ke selatan tanpa inspeksi."
Kebijakan ini memicu kekhawatiran luas dari berbagai organisasi kemanusiaan internasional yang menilai tindakan Israel sebagai bentuk hukuman kolektif, dan pelanggaran nyata terhadap prinsip-prinsip hukum humaniter internasional.
Penutupan rute evakuasi ini menambah panjang daftar pembatasan yang diberlakukan Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza, yang sejak awal agresi mengalami pengepungan total, tanpa akses terhadap makanan, air bersih, listrik, obat-obatan, dan bantuan kemanusiaan.
Langkah ini juga dianggap sebagai upaya sistematis untuk memecah wilayah Gaza, mengisolasi ratusan ribu warga di utara, dan menciptakan krisis kemanusiaan yang lebih dalam. Kota Gaza sendiri saat ini menjadi pusat serangan udara dan darat yang tiada henti, menewaskan ribuan warga sipil, termasuk anak-anak dan perempuan.
Sementara itu, komunitas internasional terus didesak untuk tidak diam. Banyak pihak menilai bahwa diamnya sebagian besar negara Barat, terutama Amerika Serikat, membuka ruang bagi Israel untuk melanjutkan kejahatan perangnya terhadap rakyat Palestina tanpa konsekuensi.
Sebelumnya, Badan Pertahanan Sipil dan rumah sakit Gaza mengatakan pada hari Selasa (30/9/2025) bahwa pasukan Israel menewaskan sedikitnya 41 orang di seluruh wilayah, termasuk 17 orang di dekat pusat distribusi bantuan.
Serangan berdarah ini terjadi meskipun Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan dukungannya terhadap rencana damai buatan Presiden AS, Donald Trump, yang diklaim bertujuan mengakhiri konflik. Ironisnya, alih-alih menghentikan kekerasan, operasi militer Israel justru terus berlanjut dengan korban jiwa yang terus bertambah.
Petugas penyelamat dari Badan Pertahanan Sipil Gaza melaporkan bahwa 17 warga sipil yang tengah berada di dekat pusat distribusi bantuan kemanusiaan di kawasan Wadi Gaza, wilayah tengah Gaza, menjadi sasaran tembakan tentara Israel.
Rumah Sakit Al-Awda mengonfirmasi menerima 17 jenazah dan merawat 33 korban luka dari lokasi kejadian. Dalam pernyataan resminya, rumah sakit menyebutkan bahwa penembakan terjadi saat warga tengah mengantri bantuan makanan di bawah pengawasan relawan.
"Korban merupakan warga sipil yang tak bersenjata, menunggu bantuan untuk bertahan hidup di tengah pengepungan dan kelaparan," demikian bunyi pernyataan tersebut.
