Orang-orang berjalan di luar Masjid Al-Farouq yang rusak parah di Khan Yunis, Jalur Gaza selatan, pada 30 September 2025. (AFP)
GAZA, (ERAKINI) - Badan pertahanan sipil dan rumah sakit Gaza mengatakan pada hari Selasa (30/9/2025) bahwa pasukan Israel menewaskan sedikitnya 41 orang di seluruh wilayah, termasuk 17 orang di dekat pusat distribusi bantuan.
Serangan berdarah ini terjadi meskipun Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan dukungannya terhadap rencana damai buatan Presiden AS, , yang diklaim bertujuan mengakhiri konflik. Ironisnya, alih-alih menghentikan kekerasan, operasi militer justru terus berlanjut dengan jiwa yang terus bertambah.
Petugas penyelamat dari Badan Pertahanan Sipil Gaza melaporkan bahwa 17 warga sipil yang tengah berada di dekat pusat distribusi bantuan kemanusiaan di kawasan Wadi Gaza, wilayah tengah Gaza, menjadi sasaran tembakan tentara Israel.
Rumah Sakit Al-Awda mengonfirmasi menerima 17 jenazah dan merawat 33 korban luka dari lokasi kejadian. Dalam pernyataan resminya, rumah sakit menyebutkan bahwa penembakan terjadi saat warga tengah mengantri bantuan makanan di bawah pengawasan relawan.
"Korban merupakan warga sipil yang tak bersenjata, menunggu bantuan untuk bertahan hidup di tengah pengepungan dan kelaparan," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Seorang jurnalis AFP yang berada di lokasi melaporkan bahwa ratusan anak-anak terlihat memadati pusat distribusi di Nuseirat, Gaza tengah, saat para relawan membagikan bahan pangan seperti beras dan perlengkapan darurat lainnya. Namun, alih-alih mendapat perlindungan, mereka menghadapi ancaman tembakan di tempat yang seharusnya menjadi zona aman.
Sejak agresi besar-besaran dimulai hampir dua tahun lalu, Israel terus memperketat blokade terhadap Gaza. Bantuan makanan, obat-obatan, bahkan bahan bakar untuk rumah sakit, dibatasi secara ekstrem.
Akibatnya, banyak fasilitas kesehatan yang kini tidak dapat beroperasi, sementara rakyat Palestina terjebak dalam krisis pangan dan kondisi hidup yang sangat buruk.
Dalam laporan terpisah, Badan Pertahanan Sipil Gaza menyebutkan bahwa 15 orang tewas dalam serangan di Kota Gaza, sementara 9 lainnya dilaporkan meninggal di berbagai wilayah lain. Seluruh korban adalah warga sipil yang kehilangan tempat tinggal akibat serangan udara dan darat yang terus menerus dilakukan militer Israel.
Saat ditanya soal pembantaian di Wadi Gaza, pihak militer Israel hanya menyebutkan bahwa mereka “sedang menyelidiki” insiden tersebut — sebuah respons yang telah berulang kali terdengar setelah setiap tragedi terjadi.
Pembatasan akses media di wilayah Gaza menyebabkan banyak laporan korban sulit diverifikasi secara independen. Namun, pola serangan terhadap warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, sudah terlalu sering terjadi untuk dianggap sebagai “kesalahan teknis”.
Sementara itu, Donald Trump baru saja mengumumkan rencana 20 poin yang diklaim bisa mengakhiri perang di Gaza. Netanyahu langsung menyatakan dukungan, tetapi Hamas belum memberikan tanggapan.
Trump bahkan mengeluarkan ultimatum: “Kami hanya menunggu Hamas. Kalau tidak setuju, maka ini akan berakhir dengan sangat menyedihkan.”
Pernyataan ini dianggap banyak pihak sebagai bentuk tekanan politik yang tak sejalan dengan prinsip keadilan. Apalagi, sejak awal, rencana "perdamaian" versi Trump dianggap tidak adil dan berat sebelah, memihak penuh pada Israel dan mengabaikan penderitaan rakyat Palestina.
Serangan terhadap warga sipil yang tengah mengantri bantuan makanan adalah bukti nyata dari kejahatan kemanusiaan yang terus dilakukan oleh Israel dengan restu diam-diam dari sekutu-sekutunya, termasuk Amerika Serikat.