Utusan di PBB: Pemimpin Dunia Harus Hormati Keinginan Warga Palestina untuk Tetap Tinggal di Gaza
Akhmad Baihaqi Arsyad







Hal itu disampaikan oleh Riyad Mansour pada Selasa (4/2/2025) menyusul perkataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut bahwa orang-orang dari wilayah Gaza harus dimukimkan kembali di tempat lain secara permanen.
“Tanah air kami adalah tanah air kami, jika sebagian hancur, Jalur Gaza, rakyat Palestina memilih untuk kembali ke sana. Dan saya pikir para pemimpin dan masyarakat harus menghormati keinginan rakyat Palestina,” kata Riyad Mansour dikutip dari Arab News, Rabu (5/2/2025).
Di PBB, Mansour tidak menyebut nama Trump namun tampaknya menolak usulan presiden AS tersebut. “Negara dan rumah kami adalah Jalur Gaza, itu bagian dari Palestina,” katanya.
“Kami tidak punya rumah. Bagi mereka yang ingin mengirim mereka ke tempat yang bahagia dan menyenangkan, biarkan mereka kembali ke rumah asal mereka di Israel, ada tempat-tempat bagus di sana, dan mereka akan dengan senang hati kembali ke tempat-tempat ini,” imbuhnya.
PBB mengatakan lebih dari 1,9 juta orang – atau 90 persen populasi Gaza – telah mengungsi akibat serangan Israel, dengan kampanye pengeboman yang telah meratakan sebagian besar bangunan di wilayah tersebut, termasuk sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur dasar sipil.
Dimulainya perjanjian gencatan senjata, yang mencakup pembebasan sandera yang ditahan oleh Hamas dan tahanan yang ditahan oleh Israel, pada tanggal 19 Januari membuat warga Palestina bersukacita, dan banyak dari mereka yang kembali ke rumah yang tidak lagi berdiri.
“Dalam dua hari, dalam kurun waktu beberapa jam, 400.000 warga Palestina yang berjalan kaki kembali ke bagian utara Jalur Gaza,” kata utusan PBB Mansour.
“Saya pikir kita harus menghormati pilihan dan keinginan rakyat Palestina, dan rakyat Palestina pada akhirnya akan mengambil keputusan, tekad mereka.”
Sebelumnya, Trump pada hari Selasa (4/2/2025) bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih, dan pemimpin AS. Dalam peretemuan tersebut, Trump mengatakan bahwa dia yakin warga Palestina harus meninggalkan Gaza setelah serangan Israel yang telah menghancurkan wilayah tersebut dan menyebabkan sebagian besar wilayahnya menjadi puing-puing.
Berbicara menjelang pertemuan tersebut, Trump mengatakan dia menginginkan solusi yang menyediakan daerah yang indah untuk memukimkan kembali orang-orang secara permanen di rumah yang bagus di mana mereka bisa bahagia.
Seperti diketahui, perang di Gaza meletus setelah serangan kelompok bersenjata Palestina Hamas pada 7 Oktober 2023, yang mengakibatkan kematian 1.210 orang di pihak Israel, sebagian besar warga sipil, menurut penghitungan AFP berdasarkan angka resmi Israel.
Respons pembalasan Israel telah menewaskan sedikitnya 47.518 orang di Gaza, mayoritas warga sipil, menurut kementerian kesehatan wilayah yang dikelola Hamas. PBB menganggap angka-angka ini dapat diandalkan.
