Hal itu disampaikan oleh Trump pada hari Selasa (4/2//2025) dan menyarankan agar warga Palestina yang kehilangan tempat tinggal di Gaza dimukimkan kembali secara permanen di luar wilayah yang dilanda perang tersebut, sebagaimana dilansir dari Arab News, Rabu (5/2/2025).
Trump mengatakan ‘Rivera Timur Tengah’ menjadi tempat di mana ‘rakyat dunia’ – termasuk warga Palestina – akan tinggal. Namun, Trump tidak merinci mengenai otoritas apa yang akan digunakan AS untuk mengambil alih lahan tersebut dan mengembangkannya.
“Kami akan memastikan bahwa hal itu dilakukan dengan kelas dunia. Ini akan menjadi hal yang luar biasa bagi masyarakat Palestina, yang sedang kita bicarakan,” ujar Trump.
Namun, usulan Trump tersebut dinilai bakal mengacaukan tahap perundingan selanjutnya yang dimaksudkan untuk memperpanjang gencatan senjata yang lemah antara Israel dan Hamas dan menjamin pembebasan sandera yang tersisa di Gaza.
Komentar provokatif tersebut muncul ketika perundingan meningkat pada minggu ini dengan janji peningkatan bantuan kemanusiaan dan pasokan rekonstruksi untuk membantu masyarakat Gaza pulih setelah lebih dari 15 bulan konflik yang menghancurkan.
Kini Trump ingin mendorong sekitar 1,8 juta orang untuk meninggalkan tanah yang mereka anggap sebagai rumah mereka dan mengklaimnya sebagai milik AS, mungkin dengan pasukan Amerika.
Trump menguraikan pemikirannya saat ia mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih, di mana kedua pemimpin juga membahas rapuhnya gencatan senjata dan kesepakatan penyanderaan dalam konflik Israel-Hamas dan berbagi keprihatinan mengenai Iran.
“Saya tidak berpikir masyarakat harus kembali. Anda tidak bisa tinggal di Gaza saat ini. Saya pikir kita perlu lokasi lain. Saya pikir itu harus menjadi lokasi yang bisa membuat orang bahagia,” kata Trump.
Sementara itu, Mesir, Yordania, dan sekutu AS lainnya di Timur Tengah telah memperingatkan Trump bahwa merelokasi warga Palestina dari Gaza akan mengancam stabilitas Timur Tengah, berisiko memperluas konflik, dan melemahkan upaya AS dan sekutunya untuk mencapai solusi dua negara selama puluhan tahun.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengeluarkan reaksi tajam terhadap Trump, dengan menyatakan seruan panjang mereka untuk negara Palestina merdeka adalah “posisi yang tegas, teguh dan tak tergoyahkan.”
Arab Saudi telah melakukan negosiasi dengan AS mengenai kesepakatan untuk mengakui Israel secara diplomatis dengan imbalan pakta keamanan dan persyaratan lainnya. “Tugas komunitas internasional saat ini adalah berupaya meringankan penderitaan parah yang dialami rakyat Palestina, yang akan tetap berkomitmen terhadap tanah mereka dan tidak akan bergeming,” kata pernyataan Saudi.
Meski begitu, Trump menegaskan bahwa Palestina “tidak punya pilihan lain” selain meninggalkan “tumpukan puing” yaitu Gaza. Dia angkat bicara ketika para pembantu utamanya menekankan bahwa jangka waktu tiga hingga lima tahun untuk rekonstruksi wilayah yang dilanda perang, sebagaimana tercantum dalam perjanjian gencatan senjata sementara, tidak dapat dilaksanakan.
Pekan lalu, Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi dan Raja Yordania Abdullah II menolak seruan Trump untuk memukimkan kembali warga Gaza. Namun Trump mengatakan dia yakin Mesir dan Yordania – serta negara-negara lain, yang tidak dia sebutkan namanya – pada akhirnya akan setuju untuk menerima warga Palestina.
“Anda lihat selama beberapa dekade, yang terjadi adalah kematian di Gaza. Ini sudah terjadi selama bertahun-tahun. Itu semua adalah kematian. Jika kita bisa mendapatkan daerah yang indah untuk memukimkan kembali orang-orang, secara permanen, di rumah-rumah yang bagus di mana mereka bisa bahagia dan tidak ditembak atau dibunuh dan tidak ditikam sampai mati seperti yang terjadi di Gaza,” ucap Trump.
Trump juga mengatakan dia tidak mengesampingkan pengerahan pasukan AS untuk mendukung rekonstruksi Gaza. Dia membayangkan kepemilikan “jangka panjang” AS atas pembangunan kembali wilayah tersebut. “Kami akan melakukan apa yang diperlukan,” kata Trump tentang kemungkinan mengerahkan pasukan Amerika untuk mengisi kekosongan keamanan.
Terkait gencatan senjata di Gaza, Hamas, yang telah menegaskan kembali kendali atas Gaza sejak gencatan senjata dimulai bulan lalu, mengatakan pihaknya tidak akan melepaskan sandera pada tahap kedua tanpa mengakhiri perang dan penarikan penuh pasukan Israel.
Di sisi lain, PM Netanyahu menyatakan bahwa Israel berkomitmen untuk kemenangan atas Hamas dan pengembalian semua sandera yang ditangkap dalam serangan 7 Oktober 2023, yang memicu perang.