TEHERAN, (ERAKINI) – Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyebut agresi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap negaranya merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk menguasai pasokan energi global. Dengan cara ini, AS bisa memperlemah kemajuan rival terkuatnya saat ini, China.
Dalam unggahan di akun X, Baqaei menyoroti sebuah artikel yang diterbitkan Fox News dan dikutip oleh Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt. Menurut Baqaei, artikel tersebut secara eksplisit menyebutkan bahwa tujuan utama agresi terhadap Iran adalah menguasai cadangan minyak.
“Artikel tersebut menyatakan bahwa tujuan utama agresi AS dan Israel terhadap Iran adalah menguasai cadangan minyak Iran, yang disebut sebagai ‘bagian terakhir dari teka-teki’ dalam strategi untuk mendominasi pasokan energi global,” kata Baqaei dilansir kantor berita semi-resmi Iran yang berbasis di Teheran, Tasnim, Selasa (10/3/2026).
Baqaei menambahkan bahwa setelah Amerika Serikat mengendalikan sektor minyak Venezuela dan mempertahankan pengaruh besar terhadap produksi energi di kawasan Teluk Persia, penguasaan minyak Iran akan berdampak besar terhadap akses energi murah China.
“Langkah itu akan sangat membatasi akses China terhadap energi murah dan pada akhirnya menahan laju perkembangan teknologi serta ekonominya,” ujarnya.
Namun, Baqaei menegaskan bahwa Iran tidak hanya mempertahankan diri dari perang agresi, tetapi juga membela prinsip kedaulatan dan hak menentukan nasib sendiri. “Ini bukan sekadar konflik regional. Ini adalah isu global yang menyangkut kemerdekaan, kedaulatan, penghormatan terhadap hukum internasional, dan akses yang adil terhadap sumber daya energi,” tegasnya.
Ia juga menyerukan perhatian dunia internasional terhadap situasi tersebut. “Perjuangan kami juga merupakan perjuangan banyak negara di dunia, untuk kedaulatan, kebebasan, keadilan energi, serta tatanan internasional berbasis hukum yang bebas dari dominasi kekuatan besar,” seru Baqaei.
IRGC Ancam Hentikan Total Ekspor Minyak
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperingatkan bahwa negaranya dapat mengambil langkah drastis dengan menghentikan ekspor total minyak dari kawasan, jika serangan militer AS dan Israel terus berlanjut.
“Angkatan Bersenjata Republik Islam tidak akan mengizinkan satu liter minyak pun diekspor dari kawasan ini sampai pemberitahuan lebih lanjut akibat agresi yang terus berlangsung oleh tentara Amerika dan rezim Zionis terhadap rakyat Iran dan infrastruktur pelayanan,” tegas Juru Bicara IRGC Jenderal Ali Mohammad Naeini dalam pernyataanya.
Menurut dia, upaya AS untuk menekan harga minyak dunia tidak akan berhasil jika konflik terus berlanjut. Upaya untuk menurunkan dan mengendalikan harga minyak dan gas hanya akan bersifat sementara dan sia-sia.
“Trump memulai perang ini dengan kebohongan kepada rakyat Amerika, tetapi kini respons kami telah membuatnya bingung dan putus asa. Sebelum perang ia mengklaim mampu mengendalikan harga minyak, namun hanya dalam sembilan hari pertama konflik harga minyak hampir dua kali lipat, dan sekarang ia berusaha menghindari harga minyak yang melonjak tinggi bagi para sekutunya dengan upaya buatan,” tandasnya.
Ia melontarkan kritik keras kepada Presiden AS Donald Trump, yang disebutnya menyebarkan klaim keliru mengenai kondisi di medan perang. "Trump, Presiden Amerika yang penuh kebohongan, secara keliru mengklaim berakhirnya kekuatan Angkatan Bersenjata Republik Islam untuk menghindari tekanan perang dan mengakhiri keputusasaan para tentara Amerika di kawasan,” tandasnya.
Menurutnya, kapal perang dan pesawat tempur Amerika justru telah mundur lebih dari 1.000 kilometer dari wilayah Iran untuk menghindari jangkauan rudal dan drone Iran. “Trump tidak ingin rakyat Amerika mengetahui bahwa seluruh infrastruktur militer Amerika di kawasan Teluk Persia telah dihancurkan,” katanya.
Ia juga menuduh tentara Amerika di kawasan telah meninggalkan sejumlah pangkalan dan berlindung di kota-kota sekitar. “Trump mengklaim bahwa rudal Iran telah habis dan tidak lagi memiliki daya hancur. Jika itu benar, mengapa ia tidak mengizinkan jurnalis dan media mempublikasikan gambar dampak dan kerusakan? Mengapa kalian menyembunyikan angka korban?” tanyanya.
“Hampir 10 radar canggih Amerika telah dihancurkan di seluruh kawasan. Banyak drone mahal milik kalian (AS) telah dihancurkan oleh pertahanan udara Iran. Tangan kami terbuka untuk meningkatkan eskalasi perang. Keamanan bagi semua berarti ketidakamanan bagi semua. Kami yang akan menentukan akhir perang ini,” tambah Naeini.