Kantong jenazah berlabel berisi jenazah warga Palestina yang teridentifikasi tewas selama perang Israel-Gaza, menunggu untuk diambil di kamar jenazah Rumah Sakit Al-Aqsa di Deir al-Balah, 3 Desember 2025. (Foto: AFP).
GAZA, (ERAKINI) - Gelombang kekerasan kembali menghantam Jalur Gaza. Pertahanan Sipil Gaza melaporkan bahwa lima warga sipil, termasuk dua anak kecil, tewas dalam serangan udaraIsrael yang menghantam kawasan Al-Mawasi di barat Khan Yunis, Rabu (3/12/2025).
Juru bicara Pertahanan Sipil, Mahmud Bassal, menyampaikan bahwa serangan tersebut menargetkan area dekat Rumah Sakit Lapangan Kuwait, serta menghantam sebuah tenda pengungsian yang menjadi tempat berlindung ratusan warga yang kehilangan rumah. Beberapa di antara korban luka dilaporkan dalam kondisi kritis.
Rumah sakit di Khan Yunis mengonfirmasi jumlah korban yang sama: lima orang tewas, termasuk anak-anak berusia delapan dan sepuluh tahun, sementara 32 warga lainnya mengalami luka-luka akibat ledakan yang mengguncang wilayah itu.
Meskipun ada kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat dan mulai berlaku pada 10 Oktober, kekerasan di Gaza tidak benar-benar berhenti. Israel dan Hamas saling tuding melakukan pelanggaran, sementara warga sipil terus menjadi pihak yang paling terdampak.
Militer Israel mengklaim bahwa serangan tersebut merupakan respon atas bentrokan dengan kelompok perlawanan Palestina di Gaza selatan yang melukai lima tentaranya. Mereka menyebut targetnya adalah seorang anggota Hamas yang disebut muncul dari jaringan terowongan bawah tanah di Rafah.
Namun, laporan dari lapangan memberikan gambaran yang jauh lebih luas: tembakan artileri besar-besaran, serangan udara bertubi-tubi, hingga pendaratan helikopter Israel di dekat Rafah yang memicu kepanikan warga.
Menurut sumber keamanan Gaza, sekitar pukul 16.00 waktu setempat, wilayah timur Rafah digempur serangan artileri intens dari kendaraan militer Israel, disusul rentetan tembakan dari jet tempur yang terus berputar di udara.
Militer Israel mengklaim pihaknya telah menewaskan lebih dari 40 anggota perlawanan dalam operasi selama sepekan terakhir, yang menargetkan jaringan terowongan di Rafah, wilayah yang kini sebagian besar berada di bawah kendali mereka.
Beberapa pihak mengungkapkan bahwa pembicaraan mengenai nasib para pejuang yang masih bertahan di terowongan Gaza selatan sedang berlangsung. Salah satu anggota senior Hamas menyebut jumlah mereka berada di kisaran 60 hingga 80 orang.
Perang Gaza yang dimulai setelah serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan 1.221 orang, telah membawa dampak kemanusiaan yang sangat besar bagi warga Palestina.
Serangan balasan Israel selama lebih dari dua tahun telah menewaskan setidaknya 70.117 warga Gaza, menurut data Kementerian Kesehatan setempat, angka yang disebut PBB sebagai dapat dipercaya dan konsisten dengan laporan lapangan.
Sejak gencatan senjata diumumkan, 360 warga Palestina masih tercatat tewas akibat tembakan Israel, sementara Israel melaporkan tiga tentaranya gugur pada periode yang sama.