Truk-truk bantuan yang melewati sisi Mesir di Penyeberangan Rafah menjalani pemeriksaan di Israel sebelum memasuki Gaza. Foto: EVA via BBC
JAKARTA, (ERAKINI) — Israel mengumumkan rencana membuka kembali Penyeberangan Rafah dalam beberapa hari ke depan. Ini merupakan jalur utama antara Gaza dan Mesir, yang memungkinkan warga Palestina meninggalkan wilayah tersebut.
Badan militer Israel, Cogat, menyatakan proses keluarnya warga Palestina akan difasilitasi melalui koordinasi dengan Mesir, setelah mendapat persetujuan keamanan Israel dan di bawah pengawasan misi Uni Eropa. Mekanisme ini disebut serupa dengan skema yang diterapkan pada Januari lalu saat Rafah dibuka selama gencatan senjata.
Dilansir BBC, Rabu (3/12/2025), seorang pejabat keamanan Israel menilai langkah ini sebagai bentuk dukungan terhadap gencatan senjata yang sudah berlangsung tujuh minggu antara Israel dan Hamas. Namun, Mesir membantah adanya koordinasi dengan Israel terkait pembukaan kembali penyeberangan tersebut.
Layanan Informasi Negara Mesir mengutip seorang sumber resmi yang mengatakan bahwa jika penyeberangan dibuka maka jalur itu akan beroperasi dua arah, keluar dan masuk Gaza, sesuai rencana Presiden AS Donald Trump. Dalam rencana 20 poin versi Trump, pembukaan Rafah dua arah akan mengikuti mekanisme yang disepakati pada gencatan senjata Januari lalu.
Penyeberangan Rafah sebagian besar ditutup sejak Mei 2024, setelah sisi Palestina dikuasai pasukan Israel. Sebelum itu, Rafah menjadi pintu keluar utama warga Palestina yang diizinkan meninggalkan Gaza dan akses penting bagi bantuan kemanusiaan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sedikitnya 16.500 warga Palestina yang sakit parah atau terluka membutuhkan evakuasi medis ke luar negeri. Namun sejak gencatan senjata berlaku, hanya 235 pasien, hampir semuanya anak-anak, yang dievakuasi melalui penyeberangan dengan Israel.
Surat kabar Haaretz melaporkan bahwa pasukan Otoritas Palestina (PA) akan membantu mengoperasikan Rafah bersama Misi Bantuan Perbatasan Uni Eropa. Sumber Eropa yang dikutip media tersebut menyebut perwakilan PA juga terlibat pada gencatan senjata sebelumnya, namun tanpa mengenakan atribut PA karena sensitivitas Israel terkait kehadiran mereka di Gaza.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sendiri telah menolak memberi PA peran apa pun dalam pemerintahan Gaza di masa mendatang.
Haaretz juga menyebut Netanyahu sempat menunda pembukaan kembali Rafah karena belum dikembalikannya sejumlah jenazah sandera yang ditahan Hamas dan kelompok bersenjata lainnya.
Di bawah fase pertama kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku 10 Oktober, Hamas menyetujui pengembalian 20 sandera hidup beserta 28 jenazah sandera Israel dan warga asing dalam waktu 72 jam.
Seluruh sandera hidup dibebaskan pada 13 Oktober dengan imbalan 250 tahanan Palestina dan 1.718 warga Gaza. Sejauh ini, jenazah 23 sandera Israel telah dikembalikan, bersama tiga sandera asing, masing-masing warga Thailand, Nepal, dan Tanzania. Sebagai imbalannya, Israel menyerahkan 345 jenazah warga Palestina yang tewas dalam perang.
Dua sandera yang masih belum dikembalikan jenazahnya adalah warga Israel Ran Gvili (24) dan warga Thailand Suthisak Rintalak (43).
Kantor Perdana Menteri Israel menyatakan hasil tes forensik pada Rabu pagi menunjukkan bahwa sisa jenazah yang diserahkan Hamas sehari sebelumnya bukan milik kedua orang tersebut.
Pada Rabu sore, sayap militer Jihad Islam Palestina mengatakan telah menemukan jenazah seorang sandera di Gaza utara dan akan menyerahkannya kepada Israel melalui Palang Merah, menurut sayap militer Hamas.
Kedua sandera itu merupakan bagian dari 251 orang yang diculik Hamas dan kelompok sekutunya pada 7 Oktober 2023, ketika sekitar 1.200 orang lainnya dibunuh.
Serangan tersebut memicu kampanye militer Israel di Gaza yang, menurut kementerian kesehatan setempat yang dikelola Hamas, telah menewaskan lebih dari 70.100 orang.