Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan pada hari Rabu bahwa setiap serangan terhadap Beirut akan memicu "kembalinya perang Timur Tengah secara penuh". (Foto: AP).
TEHERAN, (ERAKINI) – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melontarkan peringatan keras kepada Israel. Ia menegaskan bahwa setiap serangan yang menyasar ibu kota Lebanon, Beirut, berpotensi memicu pecahnya kembali konflik besar-besaran di kawasan yang selama berbulan-bulan dilanda gejolak.
Pernyataan tersebut muncul ketika Israel terus melanjutkan operasi militernya terhadap kelompok bersenjata Hizbullah di Lebanon, sementara upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan masih berlangsung.
Dalam wawancara dengan stasiun televisi Lebanon Al Mayadeen yang dikutip media Iran, Araghchi menegaskan bahwa konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat tidak dapat dipisahkan dari pertempuran yang berlangsung di Lebanon.
“Nasib perang antara Iran dan Zionis (Israel) dan Amerika tidak dapat dipisahkan dari nasib pertempuran di Lebanon, dan kedua front ini telah saling terkait sejak hari pertama,” ujar Araghchi.
Ia kemudian memperingatkan bahwa serangan terhadap Beirut akan membawa konsekuensi yang sangat serius bagi stabilitas kawasan. “Setiap serangan terhadap Beirut akan memiliki konsekuensi serius dan akan menyebabkan dimulainya kembali perang skala penuh,” tegasnya.
Araghchi juga menegaskan kesiapan militer Iran untuk merespons jika Israel memperluas operasinya ke Beirut. “Angkatan bersenjata Iran siap menyerang Israel jika menyerang Beirut,” katanya.
Iran Tegaskan Israel Harus Angkat Kaki dari Lebanon
Dalam kesempatan yang sama, Araghchi menegaskan bahwa perdamaian di Lebanon tidak akan terwujud selama pasukan Israel masih berada di wilayah yang mereka kuasai.
Menurutnya, penghentian perang harus berjalan beriringan dengan berakhirnya pendudukan militer Israel di wilayah Lebanon. “Berakhirnya perang di Lebanon juga berarti berakhirnya pendudukan. Artinya, berakhirnya perang harus disertai dengan penarikan pasukan rezim Zionis dari wilayah yang telah mereka duduki,” ujarnya.
Pernyataan tersebut kembali menegaskan posisi Teheran yang selama ini mengaitkan penyelesaian konflik Lebanon dengan berakhirnya operasi militer Israel di negara tersebut.
Komentar keras dari Teheran muncul bertepatan dengan berlangsungnya hari kedua pembicaraan langsung antara delegasi Israel dan Lebanon di Washington. Pertemuan tersebut merupakan bagian dari rangkaian negosiasi yang telah memasuki putaran keempat sejak konflik di Lebanon kembali memanas setelah Hizbullah meluncurkan serangan roket ke wilayah Israel sebagai respons atas terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran beberapa waktu lalu.
Meski pembicaraan diplomatik terus berlangsung, Hizbullah secara terbuka menolak jalur negosiasi langsung antara Lebanon dan Israel. Sikap kelompok tersebut menambah kompleksitas upaya internasional untuk menciptakan gencatan senjata yang lebih permanen dan mencegah meluasnya konflik ke tingkat regional yang lebih besar.
Di tengah meningkatnya tekanan diplomatik dan ancaman militer, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa tujuan utama negaranya tetap tidak berubah. Dalam wawancara dengan CNBC, Netanyahu mengatakan dirinya memiliki visi yang sejalan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait masa depan Lebanon.
Menurut Netanyahu, prioritas utama adalah menghilangkan kemampuan militer Hizbullah dan memastikan Lebanon tidak lagi menjadi basis ancaman bersenjata terhadap Israel. “Tujuan kami sama, yaitu melucuti senjata Hizbullah dan mendemiliterisasi Lebanon,” tegas Netanyahu.
Dengan peringatan terbuka dari Iran, penolakan Hizbullah terhadap negosiasi, serta tekad Israel untuk terus menekan kelompok tersebut, kawasan Timur Tengah kembali berada dalam situasi yang sangat rapuh. Satu langkah keliru dari salah satu pihak berpotensi mengubah ketegangan saat ini menjadi konflik berskala lebih luas yang melibatkan banyak negara di kawasan.