Foto yang dirilis Kantor Berita IRNA, saat helikopter Bell 212 yang membawa Presiden Iran Ebrahim Raisi lepas landas di perbatasan Iran dengan Azerbaijan. Foto: AP
JAKARTA, (ERAKINI) -Tewasnya Presiden Iran Ebrahim Raisi dalam kecelakaan helikopter mengundang pertanyaan mengenai sistem keamanan pesawat udara tersebut. Terlebih bagi seorang presiden, Ebrahim Raisi semestinya mendapatkan sistem pengamanan VVIP.
Iran Ebrahim Raisi diketahui berada dalam helikopter Bell 212 buatan Amerika Serikat, sebelum pesawat udara itu jatuh di kawasan pegunungan dekat Kota Tabriz barat laut Iran, Minggu (19/5/2024).
Penyebab kecelakaan yang juga menewaskan Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amirabdollahian, Gubernur Provinsi Azerbaijan Timur Iran, dan lainnya, itu saat ini masih menunggu penyelidikan pihak berwenang Iran. Namun, helikopter tersebut dikabarkan hancur di tengah hutan.
Bell 212 merupakan versi sipil dari UH-1N 'Twin Huey' yang awalnya digunakan pada era Perang Vietnam. Meski telah dimodifikasi untuk keperluan sipil dan dipercaya secara luas oleh pemerintahan dan perusahaan swasta di seluruh dunia, kecelakaan yang menimpa helikopter ini menyoroti kekhawatiran akan keamanan dan keandalannya.
Bell 212, dengan spesifikasi teknis yang canggih, seharusnya mampu bertahan dan beroperasi dengan aman. Namun, insiden ini menimbulkan pertanyaan tentang standar keselamatan yang diterapkan pada pesawat tersebut, terutama karena digunakan untuk keperluan presiden yang seharusnya lebih diperhatikan dalam hal keamanan.
Melansir Reuters, Bell Helicopter (kini bernama Bell Textron, divisi dari Textron Inc) mulanya mengembangkan pesawat untuk militer Kanada pada akhir 1960-an sebagai peningkatan dari UH-1 Iroquois yang asli.
Desain baru ini menggunakan dua mesin turboshaft, sehingga memberikan daya dukung yang lebih besar. Menurut dokumen pelatihan militer AS, helikopter ini diperkenalkan pada 1971 dan dengan cepat diadopsi oleh Amerika Serikat dan Kanada.
Bell 212 pertama kali diproduksi di Fort Worth, Texas, sebelum pabriknya dipindahkan ke Kota Mirabel, Quebec, Kanada pada tahun 1988. Fort Worth kemudian menghentikan produksi Bell 212 pada 1998.
Helikopter ini melakukan penerbangan pertamanya pada 1968 untuk tujuan militer. Sehingga ketahanan dan kemudahan penggunaannya menjadikannya pilihan yang baik, termasuk untuk transportasi sipil.
Helikopter ini dapat bertugas dalam misi pemadaman kebakaran, serta transportasi kargo dan pengintaian bersenjata. Helikopter yang membawa Raisi dikabarkan dimodifikasi untuk mengangkut 15 penumpang.
Spesifikasi Teknis
Bell 212, yang dapat diterbangkan dengan satu atau dua pilot, memiliki panjang 17,41 meter dengan ketinggian 3,83 meter dari permukaan tanah.
Bell 212 memiliki berat 2.962 kilogram dalam kondisi tidak berawak, dan dengan berat lepas landas maksimum 5.080 kilogram. Bell 212 ditopang mesin 1.300 kilowatt dengan dua rotor, masing-masing sepanjang 14,63 meter.
Helikopter ini biasanya terbang dengan kecepatan 118 mil per jam (190 kilometer), tetapi bisa mencapai hingga 137 mil per jam dalam penerbangan tempur.
Bell 212 dapat melakukan perjalanan hingga 273 mil dan beroperasi pada ketinggian maksimum 17.388 kaki (sekitar 5.299 meter).
Bell 212 juga punya misi dapat beradaptasi dengan segala macam situasi, termasuk mengangkut orang, mengerahkan peralatan pemadam kebakaran udara, mengangkut kargo, hingga memasang senjata.
Model Bell 212 yang membawa Presiden Raisi dilaporkan sudah dikonfigurasi untuk mengangkut penumpang pemerintah. Organisasi non-militer yang juga memakai Bell 212 ini di antaranya Penjaga Pantai (Coast Guard) Jepang, lembaga penegak hukum dan pemadam kebakaran di Amerika Serikat, dan polisi nasional Thailand.
Sementara di Iran, tidak diketahui secara pasti berapa banyak Bell 212 ang digunakan oleh pemerintahan setempat. Namun, menurut direktori Angkatan Udara Dunia 2024 dari FlightGlobal, jumlah total Bell 212 di angkatan udara dan angkatan laut Iran mencapai mencapai 10 unit.
Melihat kecanggihan helikopter Bell 212, memang sulit rasanya pesawat udara itu terjatuh dan hancur karena faktor cuaca. Karena itu, kini muncul berbagai spelkasi atas tewasnya Presiden Raisi dalam kecelakaan helikopter itu. Bahkan muncul dugaan adanya konspirasi di balik tragedi memilukan tersebut.