Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjabat tangan di kediaman Trump, Mar-a-Lago, di Palm Beach, Florida. (Foto: AFP).
YERUSALEM, (ERAKINI) – Perdana Menteri (PM) IsraelBenjamin Netanyahu tiba di Amerika Serikat pada Senin untuk menggelar pertemuan penting dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Agenda utama yang akan dibahas dalam pertemuan tersebut adalah perkembangan situasi dengan Iran, yang hingga kini tetap menjadi salah satu titik panas geopolitik di Timur Tengah.
Pertemuan ini menjadi tatap muka pertama kedua pemimpin sejak meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, serta merupakan pertemuan kedelapan Netanyahu dengan Trump sejak Presiden AS itu kembali menjabat. Sebelumnya, keduanya terakhir kali bertemu pada Februari, sebelum operasi udara yang melibatkan Amerika Serikat terhadap Iran dimulai.
Menjelang keberangkatannya ke Washington, Netanyahu menegaskan bahwa pembahasan mengenai Iran akan menjadi prioritas utama. "Di masa-masa yang rumit ini, kita perlu bertindak dengan tekad yang kuat sekaligus kebijaksanaan yang besar. Kami akan membahas semua isu dalam agenda, terutama mengenai Iran. Tentu saja, tujuan kami adalah menjaga keamanan serta memperluas cakupan perdamaian di sekitar kita," ujar Netanyahu dalam pernyataan videonya.
Pertemuan tersebut berlangsung setelah Amerika Serikat menghentikan operasi militernya yang berlangsung selama dua pekan. Operasi itu memicu respons dari Iran, yang melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan sebagai bentuk reaksi atas serangan yang diterimanya.
Setelah Washington mengumumkan penghentian operasi tersebut pada akhir pekan, Iran menyatakan akan menangguhkan serangan balasannya selama jeda operasi militer Amerika Serikat tetap diberlakukan. Langkah Teheran dipandang sebagai sinyal bahwa Iran masih membuka ruang bagi meredanya eskalasi, meskipun tetap menegaskan haknya untuk mempertahankan kedaulatan dan keamanan nasional. Di sisi lain, Israel kembali menyampaikan peringatan bahwa setiap serangan baru dari Iran akan dibalas dengan tindakan yang lebih keras.
Meski selama ini dikenal sebagai sekutu dekat, hubungan Netanyahu dan Trump belakangan disebut mengalami sejumlah perbedaan pandangan terkait dinamika Timur Tengah. Netanyahu sendiri mengakui bahwa terdapat sejumlah ketidaksepakatan dengan pemerintahan Trump, terutama ketika kepentingan strategis Israel dan Amerika Serikat tidak sepenuhnya sejalan.
Ketegangan itu bahkan sempat mencuat ke publik setelah isi percakapan telepon keduanya pada Juni lalu bocor ke media. Dalam percakapan tersebut, Trump dikabarkan melontarkan kritik keras kepada Netanyahu.
Presiden Amerika Serikat itu kemudian mengonfirmasi sendiri laporan tersebut, termasuk penyebutannya terhadap Netanyahu sebagai "gila," yang memperlihatkan bahwa hubungan kedua pemimpin tidak selalu berjalan harmonis.
Menjelang pertemuan di Gedung Putih, Israel mengambil sejumlah langkah yang dinilai sebagai upaya menyesuaikan kebijakannya dengan pendekatan pemerintahan Trump. Pada Minggu, Israel menyatakan kesediaannya menerima kehadiran pasukan keamanan multinasional di Jalur Gaza sebagaimana diusulkan dalam rencana perdamaian yang sebelumnya dipromosikan oleh Trump.
Beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada 21 Juli, Israel juga mengumumkan penempatan ulang sebagian pasukannya di Lebanon selatan sebagai bagian dari kesepakatan yang mendapat dukungan Amerika Serikat dan telah dibahas bersama pemerintah Lebanon.
Pertemuan Netanyahu dengan Trump juga dinilai memiliki nilai politik yang besar bagi pemimpin Israel tersebut. Netanyahu saat ini tengah menghadapi pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober, di tengah hasil jajak pendapat yang menunjukkan tantangan politik di dalam negeri. Pertemuan dengan Trump diperkirakan dapat dimanfaatkan untuk memperkuat citra kepemimpinannya di hadapan publik Israel.
Namun, pertemuan itu berlangsung ketika dukungan terhadap Israel di Amerika Serikat dilaporkan mengalami penurunan. Sorotan internasional terhadap konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah, termasuk dampak kemanusiaan di kawasan, turut memengaruhi persepsi publik terhadap kebijakan Israel.
Sementara itu, Iran tetap mempertahankan sikapnya di tengah meningkatnya tekanan politik dan militer. Dengan menyatakan penghentian sementara serangan selama jeda operasi Amerika Serikat masih berlaku, Teheran menunjukkan bahwa penyelesaian melalui jalur diplomasi tetap memiliki peluang, selama prinsip kedaulatan dan kepentingan nasionalnya dihormati.