Trump Ancam Siap Ambil Tindakan Militer jika Perundingan Gagal, Iran Kukuh Pertahankan Selat Hormuz
Akhmad Baihaqi Arsyad
WASHINGTON, (ERAKINI) – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman penggunaan kekuatan militer apabila jalur diplomasi dengan Teheran tidak menghasilkan kesepakatan. Di tengah tekanan tersebut, Iran justru menegaskan bahwa mereka tetap memegang kendali atas Selat Hormuz dan tidak akan tergesa-gesa kembali ke meja perundingan dengan Washington.
Dalam wawancara dengan Axios pada Senin, Trump mengungkapkan bahwa pemerintahannya sedang melakukan komunikasi intensif dengan Iran. Namun, ia juga memperingatkan bahwa waktu untuk mencapai kesepakatan semakin sempit. "Waktunya tidak banyak. Entah itu berjalan cepat atau tidak sama sekali," ujar Trump.
Beberapa saat kemudian, saat berbicara kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One dalam perjalanan menuju Michigan, Trump kembali menyampaikan bahwa proses komunikasi dengan Iran masih berlangsung. "Kami sedang melakukan pembicaraan yang baik dengan Iran saat ini," kata Trump.
Ia bahkan menyebut peluang tercapainya kesepakatan masih terbuka. "Ada kemungkinan besar sesuatu bisa terjadi," tambahnya.
Trump juga mengungkapkan kemungkinan akan meminta bantuan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait penyediaan citra satelit yang disebut dapat membantu Iran. "Saya akan bertanya kepada Putin soal itu. Kita lihat saja nanti," ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah Iran menunjukkan sikap yang tetap konsisten. Teheran menegaskan bahwa jalur strategis Selat Hormuz masih berada di bawah kendali mereka dan menyatakan belum memiliki keinginan untuk melanjutkan pembicaraan damai dengan Amerika Serikat setelah kampanye pengeboman Washington dihentikan. Sikap tersebut mencerminkan keyakinan Iran bahwa posisi mereka di kawasan tetap kuat meskipun menghadapi tekanan militer dan diplomatik dari Amerika Serikat.
Penghentian operasi militer AS sendiri dilakukan setelah serangan udara berlangsung selama hampir dua pekan. Menurut sejumlah pejabat militer Amerika Serikat, kampanye tersebut dihentikan karena dinilai telah mencapai batas efektivitasnya.
Selama 13 malam berturut-turut, serangan udara Amerika Serikat memicu respons balasan dari Iran yang menyasar sejumlah pangkalan militer AS di kawasan. Setelah Washington menghentikan operasi tersebut, Iran menyatakan akan menangguhkan aksi militernya selama jeda dari pihak Amerika Serikat tetap diberlakukan.
Langkah itu dipandang sebagai sinyal bahwa Teheran masih membuka ruang bagi stabilitas kawasan, tanpa mengesampingkan haknya untuk mempertahankan kepentingan nasional apabila situasi kembali memburuk.
Meredanya eskalasi konflik memberikan dampak cepat terhadap pasar energi global. Kekhawatiran mengenai terganggunya distribusi minyak mulai mereda sehingga harga minyak mentah mengalami penurunan cukup tajam.
Minyak mentah Brent, yang sebelumnya sempat menembus angka di atas 100 dolar AS per barel—level tertinggi sejak Mei—turun lebih dari delapan persen pada perdagangan Senin hingga berada sedikit di bawah 89 dolar AS per barel. Penurunan tersebut dipicu harapan bahwa pasokan energi dunia dapat kembali berjalan normal setelah operasi militer Amerika Serikat dihentikan.
Meskipun terdapat jeda dalam operasi militer, situasi keamanan di Timur Tengah belum sepenuhnya stabil.
Yordania melaporkan telah menembak jatuh dua pesawat nirawak yang melintas di wilayahnya. Sementara itu, sumber keamanan Irak menyebut sebuah serangan drone menghantam pangkalan kelompok oposisi Kurdi Iran di wilayah Irak utara.
Hingga kini belum ada laporan mengenai korban jiwa dari kedua insiden tersebut. Perkembangan ini menunjukkan bahwa meski jalur diplomasi kembali dibicarakan, dinamika keamanan di kawasan masih sangat rentan dan berpotensi berubah sewaktu-waktu.


















