Tangkapan layar dari Flightradar24 menunjukkan pesawat pemerintah Iran dengan callsign IRAN06 mendarat di Riyadh, Arab Saudi, pada 15 September 2026. Foto: Flightradar24
JAKARTA, (ERAKINI) - Pesawat pemerintah Iran dengan callsign IRAN06 mendarat di Riyadh, Arab Saudi, pada Selasa (15/9/2026). Kedatangan pesawat tersebut menjadi momen langka kontak langsung antara Teheran dan ibu kota Arab Saudi di tengah meningkatnya konflik antara pasukan yang didukung dan kelompok yang berafiliasi dengan .
Callsign tersebut sebelumnya dikaitkan dengan penerbangan yang membawa sejumlah pejabat senior Iran, termasuk menteri dalam negeri, menteri pertahanan, kepala staf angkatan bersenjata, serta anggota Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Para pengamat pelacakan penerbangan mencatat bahwa IRAN06 secara khusus dikaitkan dengan kepala staf angkatan bersenjata Iran, berdasarkan panduan callsign pemerintah Iran yang banyak digunakan.
Dalam panduan tersebut, IRAN01 diperuntukkan bagi pemimpin tertinggi Iran—yang tidak pernah terpantau menggunakan rute penerbangan komersial yang dapat dilacak—IRAN02 untuk presiden, IRAN03 untuk parlemen, IRAN04 untuk wakil presiden atau lembaga kehakiman, dan IRAN05 untuk menteri luar negeri.
Penerbangan tersebut berlangsung ketika ketegangan antara Riyadh dan kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Teheran meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir.
Fasilitas minyak Arab Saudi telah diserang pasukan yang didukung Iran dan beroperasi dari Yaman serta Irak. Sementara itu, kelompok Houthi di Yaman memberlakukan blokade terhadap pelayaran Saudi dan menguasai wilayah pesisir Laut Merah dari pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.
Arab Saudi pada Selasa memperingatkan akan merespons "dengan tegas" terhadap Houthi setelah gelombang serangan baru menggunakan rudal balistik dan drone melukai 13 warga sipil di wilayah selatan kerajaan.
Houthi mengklaim melancarkan serangan "berskala besar" menggunakan "puluhan rudal balistik dan drone" terhadap Pangkalan Udara King Khalid di Khamis Mushait. Serangan tersebut disebut menargetkan hanggar pesawat, sistem radar, landasan pacu, dan depot amunisi.
Seorang warga Khamis Mushait mengatakan kepada Agence France-Presse (AFP) bahwa dirinya mendengar "ledakan dahsyat" yang memicu kebakaran selama berjam-jam.
"Sejujurnya, kami sama sekali tidak bisa tidur," ujarnya.
Koalisi yang dipimpin Riyadh mengonfirmasi serangan rudal dan drone pada Senin (14/9) yang menyasar Khamis Mushait, Abha, dan Taif. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan 13 orang terluka.
Koalisi menyatakan akan merespons "dengan tegas untuk melindungi kedaulatan Kerajaan" serta mengambil "seluruh langkah operasional yang diperlukan untuk mencegah pendekatan ... yang bermusuhan dan ekstremis tersebut."
Menurut Houthi, pasukan Arab Saudi kemudian melakukan serangan balasan dengan lebih dari 50 serangan udara.
Hazem al-Assad, anggota biro politik Houthi, mengatakan respons kelompoknya "akan terus berlanjut dan meningkat selama mereka (Arab Saudi) tetap melakukan agresi terhadap rakyat kami."
Pertahanan sipil Arab Saudi sempat mengeluarkan peringatan serangan udara di enam wilayah pada Selasa dini hari sebelum peringatan tersebut dicabut. Termasuk peringatan darurat “potensi bahaya” di Kota Suci Makkah serta wilayah administratif Jeddah dan Taif.
Peringatan tersebut menjadi yang pertama kali dikeluarkan untuk Makkah sejak konflik terbaru dengan kelompok Houthi dimulai, menurut Direktorat Jenderal Pertahanan Sipil Arab Saudi.
Peringatan disampaikan melalui National Early Warning Platform for Emergencies (Platform Peringatan Dini Nasional untuk Keadaan Darurat), namun dicabut tak lama setelah diterbitkan. Otoritas tidak menjelaskan secara spesifik jenis potensi bahaya yang dimaksud.
“Bahaya telah berlalu di Kota Makkah. Demi keselamatan Anda, terus ikuti instruksi #CivilDefense dan hindari berkumpul maupun merekam kejadian. Dalam keadaan darurat, hubungi 911,” demikian pernyataan Pertahanan Sipil melalui platform media sosial X.
Dalam beberapa hari terakhir, Arab Saudi menghadapi serangkaian serangan dari kelompok Houthi yang didukung Iran di tengah meningkatnya bentrokan antara kedua pihak. Pasukan Arab Saudi merespons dengan melancarkan serangan terhadap posisi-posisi Houthi di Yaman.
Houthi Kerahkan Lebih dari 76.000 Personel
Pasukan Perlawanan Nasional Yaman yang berafiliasi dengan pemerintah mengatakan pada Senin bahwa Houthi telah mengerahkan lebih dari 76.000 personel dalam pertempuran terbaru di sepanjang pantai barat Yaman.
Mereka mengeklaim operasi tersebut melibatkan "para ahli dari Iran dan Lebanon" yang bekerja untuk merebut kendali atas Selat Bab el-Mandeb.
Juru bicara Pasukan Perlawanan Nasional Yaman, Mayjen Sadiq Dwaid, mengatakan operasi tersebut "direncanakan dan dipersiapkan berbulan-bulan sebelumnya" dan dilaksanakan "di bawah perintah langsung Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC)". Ia juga menyebut para ahli dari Iran dan Lebanon terlibat dalam pengelolaan operasi tersebut.
Dwaid menyebut pasukannya yang mempertahankan garis depan sepanjang 170 kilometer menghadapi 130 rudal balistik, 145 drone bunuh diri, dan 15 kapal bermuatan bahan peledak yang diluncurkan Houthi dalam periode 9 Agustus hingga 9 September.
Namun, Iran membantah terlibat dalam mengarahkan pertempuran tersebut.
"Iran tidak mencampuri urusan Yaman," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei pada Senin.
Ia menyebut Houthi sebagai aktor yang sepenuhnya independen dan mengambil keputusan berdasarkan kepentingan mereka sendiri.