Asap mengepul dari lokasi serangkaian serangan udara Israel yang menargetkan pinggiran desa Al-Katrani di Lebanon selatan pada 18 Desember 2025. (Foto: AFP).
LONDON, (ERAKINI) — Fakta mengejutkan terungkap dari penelitian terbaru mengenai situasi keamanan di Lebanon. Meski kesepakatan gencatan senjata telah berlaku lebih dari satu tahun, Israel dilaporkan terus melancarkan serangan dengan intensitas tinggi, bahkan mencapai rata-rata satu serangan setiap empat jam.
Melansir Arab News, data tersebut dirilis oleh ACLED, lembaga independen pemantau konflik bersenjata, yang mencatat sedikitnya 1.846 serangan Israel ke wilayah Lebanon sejak gencatan senjata dengan Hizbullah mulai diberlakukan. Laporan itu menunjukkan bahwa hampir tidak ada satu bulan pun yang benar-benar bebas dari agresi, dengan rata-rata hanya dua hari tanpa serangan dalam setiap bulan.
Mengutip laporan Sky News, situasi kian memburuk dalam beberapa pekan terakhir. Pada Desember, eskalasi serangan lintas batas meningkat drastis, dengan rata-rata enam serangan per hari, menjadikannya periode paling intens sejak Mei dan setara dengan satu serangan setiap empat jam.
Pelanggaran masif ini juga dikonfirmasi oleh Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL). Menurut catatan mereka, gencatan senjata telah dilanggar lebih dari 10.000 kali, atau hampir satu pelanggaran setiap 53 menit. Pelanggaran tersebut mencakup lebih dari 2.500 aktivitas darat oleh Pasukan Pertahanan Israel serta sekitar 7.800 pelanggaran wilayah udara Lebanon.
UNIFIL juga melaporkan penemuan lebih dari 360 lokasi penyimpanan senjata dan amunisi di wilayah selatan Sungai Litani. Israel mengklaim temuan ini sebagai bukti bahwa Hizbullah berupaya mempersenjatai diri kembali, sekaligus menuduhnya melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Namun, pernyataan tersebut dibantah oleh UNIFIL. Wakil juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, menegaskan bahwa gudang-gudang senjata itu tidak dijaga, tidak menunjukkan tanda-tanda aktivitas terbaru, dan diduga telah lama ditinggalkan. Bahkan, banyak di antaranya dilaporkan sudah hancur atau rusak parah.
Sementara itu, korban sipil terus berjatuhan. Data PBB mencatat setidaknya 127 warga sipil Lebanon tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata diberlakukan—angka yang memperlihatkan dampak nyata dari agresi yang terus berlangsung terhadap masyarakat tak bersenjata.
Israel bersikukuh bahwa kesepakatan gencatan senjata mewajibkan pelucutan senjata Hizbullah secara menyeluruh di seluruh wilayah Lebanon. Sebaliknya, Hizbullah menolak tafsir tersebut dan menegaskan bahwa pelucutan senjata hanya mungkin dilakukan jika Israel menarik diri sepenuhnya dari wilayah Lebanon.
Sesuai kesepakatan, Israel seharusnya mengakhiri kehadiran militernya di Lebanon pada 27 Januari, dengan opsi perpanjangan hingga 18 Februari. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Israel dilaporkan memperluas kehadiran militernya dengan membangun pangkalan baru pada Februari, serta mempertahankan empat pangkalan lain di puncak-puncak bukit strategis di wilayah selatan Lebanon.
Pemerintah Lebanon telah mengajukan protes resmi kepada PBB terkait keberadaan pangkalan-pangkalan tersebut. Investigasi PBB bahkan menemukan bahwa dua bagian tembok perbatasan baru yang dibangun Israel melanggar wilayah kedaulatan Lebanon.
Dampak kemanusiaan dari agresi ini sangat besar. Hingga kini, lebih dari 64.000 warga Lebanon masih terusir dari rumah mereka. Seorang warga Aita Al-Shaab, kota yang luluh lantak akibat serangan, menyuarakan keputusasaan mendalam: “Siapa pun yang datang untuk membangun kembali rumah kami, langsung menjadi sasaran serangan Israel.”
Situasi ini menegaskan bahwa gencatan senjata hanya menjadi slogan di atas kertas, sementara rakyat Lebanon terus hidup di bawah bayang-bayang kekerasan dan ketidakadilan yang tak kunjung berakhir.