Para pelayat duduk di dalam truk di samping jenazah anggota keluarga Al-Nader, yang dilaporkan tewas sehari sebelumnya dalam serangan artileri Israel terhadap sebuah sekolah yang diubah menjadi tempat perlindungan di lingkungan Tuffah, Kota Gaza, selama pemakaman mereka pada 20 Desember 2025. (Foto: AFP).
GAZA, (ERAKINI) – Suasana duka menyelimuti Kota Gaza pada Sabtu ketika puluhan warga Palestina berkumpul di sebuah rumah sakit untuk melepas enam korban jiwa, termasuk anak-anak, yang tewas akibat ke sebuah tempat penampungan pengungsi. Insiden ini kembali memicu kemarahan dan mempertanyakan rapuhnya gencatan senjata yang tengah berlangsung.
Melansir Arab News, menurut badan pertahanan sipil Gaza, serangan tersebut menghantam sebuah sekolah yang difungsikan sebagai tempat perlindungan warga di kawasan Tuffah, Gaza bagian timur. Awalnya dilaporkan lima orang tewas, namun jumlah korban kemudian bertambah menjadi enam orang. Dua orang lainnya masih dinyatakan hilang dan diduga tertimbun reruntuhan bangunan.
Direktur Rumah Sakit Al-Shifa, Mohammed Abu Salmiya, mengungkapkan bahwa para korban terdiri atas seorang bayi berusia empat bulan, seorang remaja perempuan berusia 14 tahun, dua pria, dan dua wanita. Di kamar jenazah, keluarga korban terlihat membuka selimut kafan untuk menatap wajah orang-orang tercinta untuk terakhir kalinya.
Pemandangan memilukan terjadi di luar rumah sakit. Seorang pria terlihat memeluk jasad bayi yang terbungkus kain kafan putih, sementara lima kantong jenazah lain terbaring di tanah, dikelilingi para pelayat yang memanjatkan doa. “Ini bukan gencatan senjata, ini pembantaian,” ujar Nafiz Al-Nader, saksi mata kejadian tersebut. “Kami hanya ingin pertumpahan darah ini berhenti. Kami tidak ingin terus kehilangan orang-orang yang kami cintai setiap hari,” katanya dengan suara bergetar.
Militer Israel, dalam pernyataannya pada Jumat malam, mengklaim bahwa pasukannya menembak “individu mencurigakan” untuk menghilangkan ancaman di wilayah utara Gaza. Mereka menyatakan tengah meninjau insiden tersebut dan “menyesalkan setiap kerugian yang dialami oleh warga yang tidak terlibat.”
Israel menjelaskan bahwa penembakan terjadi di dekat wilayah yang disebut Garis Kuning, zona di mana pasukan Israel seharusnya telah menarik diri ke sisi timur sesuai kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat.
Namun kesaksian warga Gaza bertolak belakang. Abdullah Al-Nader, yang kehilangan anggota keluarganya, mengatakan bahwa tembakan terjadi secara tiba-tiba pada malam hari. “Itu daerah aman, sekolah aman. Tanpa peringatan, mereka mulai menembak, menyasar perempuan, anak-anak, dan warga sipil,” ujarnya.
Hamas mengecam keras insiden tersebut, menyebutnya sebagai “kejahatan brutal terhadap warga sipil tak bersalah” dan “pelanggaran terang-terangan serta berulang terhadap perjanjian gencatan senjata.” Kelompok itu mendesak para mediator internasional, termasuk pemerintahan Presiden AS Donald Trump, untuk segera turun tangan dan bertanggung jawab atas pelanggaran tersebut.
Gencatan senjata di Gaza dinilai semakin rapuh. Kedua belah pihak saling menuding melakukan pelanggaran, sementara para mediator internasional khawatir Israel dan Hamas sama-sama mengulur waktu.
Kementerian Kesehatan Gaza yang berada di bawah otoritas Hamas melaporkan bahwa sedikitnya 401 warga Palestina telah tewas akibat tembakan Israel sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober. Di sisi lain, militer Israel juga mengklaim tiga tentaranya tewas di Gaza dalam periode yang sama.