Presiden Donald Trump memegang gambar rancangan ruang dansa Gedung Putih yang direncanakan, di dalam pesawat Air Force One dalam perjalanan menuju Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland bulan lalu. (Foto: Reuters).
WASHINGTON, (ERAKINI) - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan pernyataan keras yang memicu ketegangan global. Ia menyebut terdapat peluang besar untuk tercapainya kesepakatan dengan Teheran pada hari Senin (6/4/2026), hanya beberapa saat setelah mengancam akan menyerang fasilitas vital jika tidak segera dibuka kembali.
Dalam unggahan bernada tajam di media sosial pada Minggu (5/4/2026) pagi, Trump meluapkan kemarahannya terkait penutupan jalur pelayaran strategis tersebut. Ia bahkan melontarkan kalimat kasar dan ancaman terbuka: “Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya dalam satu hari, di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!!”
Tak berhenti di situ, Trump juga memperingatkan dengan nada provokatif: “Buka Selat itu, dasar bajingan gila, atau kau akan hidup di Neraka - LIHAT SAJA!”
Ia menutup pernyataannya dengan kalimat religius, “Segala puji bagi Allah,” sebelum kemudian menetapkan batas waktu baru: “Selasa, pukul 20.00.”
Namun, dalam wawancara terpisah dengan Fox News, Trump menunjukkan sedikit optimisme. Ia menyatakan bahwa jalur diplomasi masih terbuka dan peluang kesepakatan tetap ada. “Saya pikir ada peluang bagus besok, mereka sedang bernegosiasi sekarang,” ujarnya.
Meski demikian, ia kembali menegaskan sikap kerasnya: “Jika mereka tidak mencapai kesepakatan dengan cepat, saya mempertimbangkan untuk meledakkan semuanya dan mengambil alih minyak.”
Di sisi lain, situasi di lapangan belum menunjukkan kemajuan berarti. Iran tetap bersikukuh dan bahkan meningkatkan serangan terhadap target ekonomi serta infrastruktur di kawasan Teluk.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, merespons dengan nada sindiran tajam. Ia membagikan gambar puing-puing pesawat militer AS dan menyatakan: “Jika Amerika Serikat meraih tiga kemenangan lagi seperti ini, mereka akan benar-benar hancur.”
Ia juga menuduh langkah Washington akan membawa bencana luas: “Langkah-langkah sembrono Anda menyeret Amerika Serikat ke NERAKA yang mengerikan bagi setiap keluarga, dan seluruh wilayah kita akan terbakar karena Anda bersikeras mengikuti perintah Netanyahu.”
Sementara itu, misi Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa menilai pernyataan Trump sebagai ancaman serius terhadap stabilitas kawasan, bahkan menuduhnya mendorong konflik berkepanjangan.
Rusia turut angkat suara. Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov menyerukan agar Amerika Serikat meninggalkan pendekatan ultimatum dan kembali ke jalur diplomasi. Di tengah memanasnya retorika politik, kehidupan warga di Teheran justru tampak berjalan relatif normal. Sejumlah masyarakat terlihat tetap beraktivitas santai, berolahraga, bermain layang-layang, hingga piknik di taman kota, seolah tak terpengaruh oleh ancaman yang menggema di panggung internasional.