Anak-anak Palestina ini kembali belajar di dalam sebuah tenda dengan perlengkapan dasar yang sangat terbatas. Foto: Al Jazeera
JAKARTA, (ERAKINI) – Sabtu (19/9/2026) pagi, Rana Totah (30) menggenggam erat tangan kedua putranya. Ia mengantar sang buah hati menuju sekolah darurat di kawasan al-Katiba, Gaza City, untuk menjalani sesuatu yang bagi banyak anak mungkin terasa biasa.
Namun, bagi Totah pagi tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar. Setelah hampir tiga tahun hidup dalam bayang-bayang perang dan pengungsian, Totah kembali mengantar anak-anaknya ke secara langsung. Rutinitas sederhana yang sempat hilang dari kehidupan keluarganya.
Malam sebelumnya, Totah memastikan anak-anaknya tidur lebih awal. Ia menyiapkan pakaian dan perlengkapan sekolah mereka, seperti seorang ibu yang hendak mengantar anak-anaknya ke hari sekolah biasa.
"Saya mempersiapkan anak-anak saya. Mereka bersemangat dan tidur lebih awal. Saya mempersiapkan mereka seolah-olah ini adalah hari sekolah normal," ujarnya.
Tetapi tidak ada yang benar-benar normal di Gaza. Sekolah tempat anak-anak Totah belajar bukanlah gedung sekolah dengan ruang kelas, meja, dan kursi. Sekitar 10 tenda didirikan di kawasan al-Katiba, Gaza City bagian barat, sebagai ruang belajar sementara bagi anak-anak yang ingin kembali mengikuti pendidikan tatap muka.
Bagi Totah, perjalanan menuju sekolah itu mengingatkan kembali betapa panjang jalan yang harus dilalui keluarganya selama perang.
Keluarganya mengungsi dari kawasan Zeitoun menuju al-Katiba. Saat berada di Khan Younis, ia berusaha mempertahankan pendidikan keempat anaknya melalui kegiatan belajar informal yang digelar para relawan.
Namun, perang membuat semuanya tidak mudah. Kehadiran anak-anak di tempat belajar sering kali tidak teratur. Ancaman keselamatan, sulitnya memperoleh makanan dan kebutuhan dasar, hingga kebutuhan untuk mencari air membuat pendidikan kerap berada di urutan kedua.
Bahkan, anak-anak Totah harus membantu mengambil air untuk keluarga. "Ada hari-hari yang sangat sulit. Mereka akan berkata, 'Bu, bawakan saya air,' atau 'Bu, biarkan saya pergi mengambilkan ini untuk Ibu,'" tuturnya.
Totah berusaha meyakinkan anak-anaknya agar tetap belajar. "Saya mengatakan kepada mereka, 'Tidak, saya ingin kalian fokus pada pelajaran.' Pendidikan adalah dasar dari segala sesuatu dalam kehidupan."
Hampir Tiga Tahun Kehilangan Sekolah
Kembalinya anak-anak Gaza ke ruang belajar menjadi simbol kecil dari upaya menghidupkan kembali kehidupan yang porak-poranda akibat serangan Israel.
Sekitar 541.000 siswa kembali mengikuti pendidikan ketika tahun ajaran baru dimulai pada 19 September, menurut Kementerian Pendidikan dan Pendidikan Tinggi Palestina.
Pada Januari, kementerian tersebut mencatat 317.332 siswa mengikuti pembelajaran tatap muka di ruang pendidikan, sekolah, dan berbagai inisiatif pendidikan di Gaza. Sebanyak 120.000 lainnya mengikuti sekolah virtual yang diajar oleh guru dari Tepi Barat.
Namun, perjalanan kembali ke sekolah masih jauh dari kata aman. Meskipun telah terjadi gencatan senjata, serangan Israel masih berlanjut. Dua siswa bahkan dilaporkan tewas pada awal September.
Kerusakan akibat perang juga membuat sebagian besar sekolah tidak dapat digunakan. UNICEF menyebut hampir 98 persen bangunan sekolah di Gaza mengalami kerusakan sejak Oktober 2023. Lebih dari 93 persen di antaranya membutuhkan rehabilitasi besar atau pembangunan kembali secara menyeluruh.
Sekitar 700.000 anak berusia 4 hingga 17 tahun kehilangan pendidikan formal tatap muka selama hampir tiga tahun ajaran berturut-turut. Sekitar 420.000 anak bahkan tidak mendapatkan pembelajaran tatap muka sama sekali.
Di tengah kondisi tersebut, para guru berusaha mempertahankan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kegiatan belajar mengajar: harapan.
Di dalam sebuah tenda, Nesma Nahid Abu Asim mengajar matematika kepada siswa kelas enam. Ia berdiri di depan papan tulis, sementara anak-anak duduk di atas kasur dengan buku catatan di pangkuan.
Abu Asim telah mengajar matematika sejak 2010. Sebelum perang, ia bekerja di Kementerian Pendidikan. Kini, ia mengajar melalui program UNICEF untuk mendukung pendidikan di Gaza.
"Selama periode ini, pendidikan sangat sulit. Ada tantangan besar bagi orang tua dan guru ketika kami berusaha memastikan siswa tetap aman," katanya.
Anak-anak datang ke sekolah tanpa perlengkapan belajar yang memadai. Buku pelajaran dan alat tulis terbatas. Meja dan kursi pun sulit ditemukan.
"Pendidikan adalah hak setiap siswa," ujar Abu Asim. "Namun, siswa datang tanpa alat tulis dasar atau buku pelajaran, sementara meja dan kursi sebagian besar tidak tersedia. Siswa datang ke sekolah dalam situasi berbahaya, dalam kondisi perang."
Bagi Abu Asim, keterbatasan fasilitas bukan satu-satunya persoalan. Kekhawatiran terbesarnya adalah jika pendidikan kembali terhenti.
"Kondisi ini sulit bagi siswa, tetapi bukan berarti tidak mungkin dijalani. Kesulitan terbesar adalah ketika pendidikan kembali terhenti," katanya.
"Kami telah mengambil langkah yang baik dengan membuka tahun ajaran. Kami kembali menuju kehidupan normal, kembali ke pendidikan. Siswa memiliki hak untuk belajar dan duduk di bangku sekolah."
Senang Bisa Kembali ke Sekolah
Di antara anak-anak yang kembali belajar adalah Osama Alayleh, 11 tahun. Di tengah pelajaran matematika, Osama berhenti sejenak untuk menceritakan perasaannya pada hari pertama sekolah. "Saya senang bisa kembali ke sekolah," katanya.
Osama sebelumnya berada di peringkat ketiga di kelas. Tahun ini, ia berharap dapat meraih peringkat pertama. Pelajaran favoritnya adalah bahasa Arab.
Ia sebenarnya ingin kembali belajar di sekolah seperti sebelum perang, dengan gedung, meja, dan kursi. Namun, untuk saat ini, sebuah tenda sudah cukup menjadi tempat untuk kembali membuka buku.
Buku catatan, buku pelajaran, dan alat tulis yang digunakan Osama disediakan oleh kelompok bantuan. "Tapi apa yang bisa kami lakukan? Tidak apa-apa. Yang penting kami belajar," katanya.
Kalimat sederhana itu menggambarkan harapan banyak anak Gaza: bisa kembali belajar tanpa harus memikirkan apakah sekolah mereka akan tetap berdiri esok hari.
Belajar di Lantai, Menulis di Atas Kardus
Di sekolah lain, kondisi bahkan lebih sederhana. Ahbab Shujayea School di dekat kawasan pelabuhan Gaza City menggunakan tenda-tenda yang sudah usang sebagai ruang belajar. Tidak ada meja dan kursi.
Siswa kelas satu dan dua duduk berdesakan di lantai. Sebagian menggunakan potongan kardus sebagai alas untuk menulis. Guru mereka mengajar menggunakan papan tulis kecil dengan fasilitas yang sangat terbatas.
Direktur sekolah, Inaam al-Batreekhi, mengatakan lebih dari 300 siswa belajar di sekolah tersebut. Mereka berasal dari sembilan kamp pengungsian di sekitar kawasan pelabuhan, mulai kelas satu hingga kelas enam.
"Lebih dari 300 siswa terdaftar di Ahbab Shujayea School, tetapi sayangnya mereka adalah siswa yang tidak memiliki buku catatan maupun alat tulis," katanya.
Hari ini mereka masih bisa belajar di lantai. Namun, hujan dapat mengubah semuanya.
"Kami bisa belajar hari ini, kami bisa duduk di lantai hari ini. Tetapi besok, ketika hujan turun, kami tidak akan bisa," kata al-Batreekhi.
Kondisi keamanan juga membuat jam belajar dipangkas. Karena kekhawatiran terhadap serangan dari arah laut, kegiatan belajar hanya berlangsung pukul 08.00 hingga 11.00.
Anak-anak yang datang ke sekolah pun membawa cerita dari kehidupan sebagai pengungsi.
"Terkadang siswa datang terlambat dan mengatakan kepada saya, 'Saya sedang mengambil air untuk ibu saya,'" kata al-Batreekhi.
"Mereka adalah anak-anak yang mengungsi. Belum lama ini, mereka masih membawa air dan makanan. Sekarang mereka berada di sini dan berusaha belajar."
Al-Batreekhi menjalankan sekolah tersebut secara sukarela. Ia bermimpi suatu hari anak-anak itu dapat kembali belajar di gedung sekolah yang layak.
"Saya berharap kami dapat kembali ke sekolah resmi, kembali ke gedung-gedung. Semua bangunan telah hilang. Semua sekolah telah berubah menjadi tenda," katanya.
Ia mengingat bagaimana perang-perang sebelumnya tidak sepenuhnya menghapus kehidupan sekolah.
"Dalam perang-perang sebelumnya, kami biasanya tidak bersekolah selama satu atau dua bulan, kemudian kembali dan mendapati sekolah kami masih seperti sebelumnya. Kami membersihkannya, menatanya, lalu kembali belajar."
Kini, keadaan berbeda. Banyak sekolah telah hancur atau berubah menjadi tempat pengungsian. Untuk sementara, para guru hanya bisa berusaha membuat tenda-tenda tersebut menjadi ruang belajar yang layak. Sekolah mungkin belum kembali seperti dulu. Namun, untuk sementara, satu hal yang paling penting telah kembali: kesempatan untuk belajar dan berharap bahwa kehidupan suatu hari bisa berjalan normal lagi.